Hizbullah Dukung Palestina untuk Pemberontakan atas Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Putri Ainur Islam, Okezone · Jum'at 08 Desember 2017 04:22 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 08 18 1827087 hizbullah-dukung-seruan-pemberontakan-palestina-atas-pengakuan-yerusalem-sebagai-ibu-kota-israel-YwFsqLqWeS.jpg Pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrullah. (Foto: Reuters)

BEIRUT - Kelompok Syiah yang berbasis di Lebanon, Hizbullah, mengadakan seruan untuk melakukan sebuah pemberontakan baru di Palestina dalam menanggapi pengakuan Amerika Serikat (AS) atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pemimpin tertinggi Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa keputusan Pemerintah AS adalah tindakan agresi terang-terangan terhadap Arab dan Muslim. Hal tersebut ia sampaikan melalui sebuah pidato yang disiarkan di televisi.

BACA JUGA: Yerusalem Diakui Ibu Kota Israel, Hamas Serukan Pemberontakan 8 Desember

"Kami mendukung seruan sebuah intifadah (pemberontakan) dari Palestina dan meningkatkan perlawanan. Ini adalah tanggapan terbesar, paling penting, dan paling berat terhadap keputusan Amerika," ungkap Nasrallah, dinukil dari Reuters, Jumat (8/12/2017).

Nasrallah, yang menggambarkan langkah Pemerintah AS sebagai ‘ketidakadilan historis besar’, tidak menjelaskan tindakan langsung apa pun yang akan dilakukan Hizbullah. Ia hanya menyerukan sebuah demonstrasi massal di daerah pinggiran selatan Beirut yang akan dilakukan pada Senin 11 Desember.

"Rakyat Palestina berdiri hari ini di garis pertahanan pertama untuk Yerusalem dan tempat-tempat suci," tambahnya.

BACA JUGA: Pemerintah AS Resmi Umumkan Status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Pada November, Nasrallah mengklaim bahwa Hizbullah, kelompok yang didukung Iran dan dianggap Israel sebagai ancaman terbesar di perbatasannya, telah mengirim senjata ke wilayah Palestina.

Hizbullah dan Israel berperang pada 2006 dan menewaskan sekira 1.200 orang di Lebanon, kebanyakan warga sipil dan 160 orang Israel, kebanyakan tentara. Keduanya telah menghindari konfrontasi besar sejak pertempuran selama sebulan, meski ketegangan kembali meningkat awal tahun ini.

Nasrallah meminta pendengar di sekitar wilayah tersebut untuk memberontak keputusan AS dan berdiri dalam solidaritas dengan orang-orang Palestina. Ia juga meminta negara-negara Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik apa pun dengan Israel dan segera memanggil duta besar AS.

BACA JUGA: Raja Maroko dan Presiden Palestina Bahas Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem

"Langkah seperti itu pasti akan membuat Trump menyesal," katanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, salah satu partai terkuat di Palestina, Hamas, mengimbau agar masyarakat kembali memberontak terhadap Israel. Imbauan itu dikeluarkan untuk merespons pengakuan AS terhadap Yerusalem.

“Kita harus memanggil dan bekerja untuk meluncurkan intifada di hadapan musuh zionis,” ujar Ketua Partai Hamas, Ismail Haniyeh, dalam pidatonya di Gaza.

Ia lantas menyerukan agar warga Palestina, umat Islam, dan suku Arab, untuk melakukan unjuk rasa terhadap keputusan AS tersebut pada Jumat 8 Desember. Haniyeh menyebut ‘pemberontakan’ tersebut sebagai ‘Hari Kemarahan’.

“Jadikan 8 Desember sebagai hari pertama intifada melawan penjajah,” tukas Ismail Haniyeh.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini