Image

Kecaman atas Pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, Korsel Tetap Gelar Latgab di Perairan Korea

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 07:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 08 18 1827103 kecaman-atas-pengakuan-as-terhadap-yerusalem-sebagai-ibu-kota-israel-korsel-tetap-gelar-latgab-di-perairan-korea-wAwPY6986W.jpg Suasana Kota Yerusalem. (Foto: Reuters)

JAKARTA – Sebelum pendeklarasian bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengakui Yerusalem adalah ibu kota Israel, banyak berbagai pihak yang menentang dan memperingatkan konsekuensi yang harus dihadapi. Namun sayang, peringatan tersebut hanyalah angin lalu. Pada Kamis 7 Desember, Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dan akan memindahkan Kedutaan Besar AS yang berada di Tel Aviv ke Yerusalem.

Tindakan yang sempat memicu konflik juga kembali terjadi di Korea Selatan (Korsel). Meski telah ditentang oleh Korea Utara (Korut), nyatanya Korsel tetap melanjutkan latihan gabungan (latgab) dengan pasukan AS. Menurut seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Seoul, latihan ini digelar karena ancaman perang nuklir Korea Utara (Korut) semakin nyata.

Amerika Serikat Resmi Umumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Pada Kamis 7 Desember Presiden AS Donald Trump lewat pidatonya menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ia juga menekankan bahwa kesempatan tersebut adalah langkah yang sangat terlambat.

"Saya telah menetapkan bahwa sekarang saatnya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Presiden sebelumnya telah membuat janji kampanye besar ini, mereka gagal menyampaikannya. Dan hari ini, saya melakukannya," ujar Presiden Trump.

Tak hanya menyatakan hal tersebut, presiden berusia 72 tahun tersebut juga menyatakan bahwa AS akan memindahkan Kedubes AS untuk Israel yang berada di Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan tersebut pastinya ditentang oleh berbagai negara di dunia.

Arab Saudi adalah salah satu negara yang menentang keputusan tersebut. Kerajaan Arab Saudi mengaku sedih dengan keputusan pemerintah AS tersebut. Riyadh mengingatkan bahwa ada konsekuensi serius atas keputusan pengakuan sekaligus pemindahan Kedutaan Besar (Kedubes) AS ke Yerusalem.

BACA JUGA: Arab Saudi Kecam Pengakuan AS soal Yerusalem Ibu Kota Israel

Keputusan pengakuan tersebut dinilai oleh Arab Saudi tidak adil serta sebuah langkah tidak bertanggung jawab. Bagi Arab Saudi, keputusan tersebut mewakili sikap bias terhadap hak-hak dasar warga Palestina.

Negeri Jiran, Malaysia, turut menyampaikan penyesalan atas pernyataan Negeri Paman Sam. Pihak Malaysia menyatakan bahwa pihaknya khawatir jika pengumuman tersebut dapat mengakhiri segala upaya untuk menyelesaikan konflik di Palestina.

BACA JUGA: Malaysia: Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel Tidak Mencerminkan Situasi di Lapangan

Kuala Lumpur menegaskan sekali lagi bahwa Yerusalem tidak bisa dipisahkan dari isu Palestina. Malaysia juga mengimbau agar seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak mengakui perubahan apapun terhadap garis batas sebelum resolusi 181 yang keluar pada 1967.

Perdana Menteri Qatar Sheikh Abdullah bin Nasser bin Khalifa Ath-Thani, mengatakan tindakan AS itu dapat bertentangan dengan keabsahan dan hukum internasional, selain semua upaya perdamaian yang dilandasi atas penyelesaian dua negara. Qatar akan mendukung rakyat Palestina untuk melindungi hak sah dan hak nasional mereka.

BACA JUGA: Qatar: Tindakan AS soal Yerusalem Salahi Keabsahan & Hukum Internasional

BACA JUGA: Maroko Panggil Utusan Anggota DK PBB Bahas Keputusan AS Atas Yerusalem

AS-Korsel Tetap Gelar Latihan Gabungan

Pasukan militer AS dan Korsel kembali menggelar latgab di perairan Negeri Ginseng. Dalam latihan tersebut, militer AS turut membawa dua pesawat bombernya. Latihan ini telah digelar sejak Senin 4 Desember 2017 dan akan berakhir pada 8 Desember. Selain dua pesawat pembom AS ini, sekira 20 pesawat tempur kedua negara telah bergabung terlebih dahulu.

Latgab tersebut digelar terkait karena Pyongyang kembali meluncurkan rudal balistiknya belum lama ini. Rudal kali ini diterbangkan dari utara Pyongyang ke arah timur dan kembali mendarat di perairan Jepang.

BACA JUGA: Latgab dengan Korsel, AS Terjunkan 2 Pesawat Bomber

Namun menurut Korut, latgab tersebut akan mendorong Semenanjung Korea di ambang perang nuklir dengan mengabaikan seruan dari Rusia dan China untuk membatalkannya. Sebelumnya China dan Rusia telah mengusulkan agar AS dan Korsel menghentikan latihan militer besar dengan imbalan Korut juga menghentikan program senjatanya. Beijing secara resmi menyebut gagasan itu sebagai proposal "suspensi ganda".

BACA JUGA: Abaikan Saran China dan Rusia, AS-Korsel Tetap Adakan Latihan Gabungan

Sekira 12.000 anggota dinas AS, termasuk dari Marinir dan Angkatan Laut, akan bergabung dengan pasukan Korsel. Pesawat yang mengambil bagian akan diterbangkan dari delapan instalasi militer AS dan Korea Selatan.

(pai)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini