Image

Indonesia Harus Aktif Suarakan Penolakan Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel di PBB

Bayu Septianto, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 06:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 08 337 1827086 indonesia-harus-aktif-suarakan-penolakan-yerusalem-jadi-ibu-kota-israel-di-pbb-nlDcHnhHez.jpg Prajurit Israel di kawasan Yerusalem. Foto Reuters Ammar Awad

JAKARTA – Keputusan kontroversial Pemerintah Amerika Serikat yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai banyak kecaman.

Anggota Komisi I Fraksi PDIP Charles Honoris mengatakan bahwa keputusan tersebut dianggap telah melanggar hukum internasional dan membahayakan proses perdamaian di Timur Tengah.

Charles merujuk pada resolusi Dewan Keamanan PBB dalam beberapa dekade terakhir yang menegaskan bahwa pendudukan Israel atas sebagian wilayah Yerusalem ilegal. Bahkan ada resolusi yakni Resolusi 476 DK PBB tahun 1980 dimana PBB tidak mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, dan memerintahkan seluruh negara anggota PBB untuk memindahkan kedutaan besarnya dari kota Yerusalem.

"Sebuah Resolusi DK PBB itu final dan mengikat bagi seluruh negara anggota PBB termasuk Amerika Serikat," ujar Charles dalam keterangannya kepada Okezone, Jumat (8/12/2017).

Baca Juga: Jika Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, DPR: Sama Saja Penjajahan!

Politikus PDI Perjuangan ini meminta peran aktif pemerintah Indonesia untuk menyuarakan penolakan ini dalam forum PBB.

(Kubah Emas di Yerusalem. Foto Reuters/Ammad Awad)

"Pemerintah RI harus segera mengutuk langkah AS yang memberikan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibukota negara Israel. Dalam forum PBB Indonesia harus menyuarakan dan mengingatkan agar resolusi-resolusi DK PBB terkait Yerusalem bisa ditegakkan," jelas Charles.

Baca Juga: Dunia Bergejolak Jika Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

Bahkan, Charles meyakini Indonesia sebagai negara yang peduli dengan kemerdekaan Palestina, bisa berperan dalam menggalang negara-negara anggota PBB untuk menginisiasi sebuah resolusi dalam forum Sidang Umum PBB yang menegaskan kembali bahwa Yerusalem bukan ibukota Israel.

Pasalnya, kebijakan Amerika Serikat ini sangat membahayakan proses perdamaian yang sudah diupayakan selama puluhan tahun antara Israel dan Palestina.

"Bahkan ini bisa menjadi amunisi tambahan bagi kelompok-kelompok yang kerap membajak isu Palestina untuk menyebarkan paham radikal dan melakukan aksi-aksi terorisme," tukasnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini