Share

Teka-Teki Kematian Edgar Allan Poe, dari Alkohol Hingga Tumor Otak

Jum'at 15 Desember 2017 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 15 18 1830650

DI malam pemilihan yang gelap dan penuh badai pada 1849, seorang wartawan yang tengah bergegas menuju ke tempat pemungutan suara di Baltimore menemukan seorang pria terbaring di selokan di luar aula umum. Penampilan pria itu berantakan, kotor dan acak-acakan. Wartawan itu dibuat terkejut saat menyadari orang itu adalah penyair dan penulis kisah detektif terkenal, yakni Edgar Allan Poe.

Wartawan tersebut segera mengabari kerabat Poe dan menggambarkan kondisi Poe yang sangat kacau, tertekan dan membutuhkan bantuan segera.

Poe segera dibawa ke Rumah Sakit Washington College oleh kerabatnya. Kondisinya tidak stabil, demam tinggi membuatnya berhalusinasi  antara sadar dan tidak. Sesekali ia memanggil “Reynolds”-sebuah nama yang sampai sekarang menjadi misteri. Ia tidak pernah sepenuhny asadar dan meninggal empat hari kemudian pada 7 Oktober 1849. Ia didiagnosis mengalami ‘frenitis’ atau pembengkakan otak.

Kematian Poe meninggalkan tanda tanya besar yang muncul di masyarakat dan menjadi misteri sampai saat ini. Apa yang menyebabkan penulis kisah terkenal “Tell-Tale Heart” itu terdampar di selokan dan tak pernah sembuh? Chris Semtner, Kurator Museum Poe, di Richmond, Virginia, mengatakan, “Poe meninggalkan teka-teki di kehidupan nyata.”

Edgar Allan Poe lahir pada 19 Januari 1809. Ayah dan ibunya merupakan seorang pekerja seni. Ayahnya meninggal saat Edgar masih bayi. Dua tahun berselang, ibunya meninggal akibat tuberkulosis. Edgar yang yatim piatu dibesarkan oleh saudagar Skotlandia di Richmond Virginia. Ia sempat masuk ke Universitas Virginia, namun ia keluar dan mendaftar di Angkatan Darat. Selama dua tahun itu, ia menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya. Sayangnya buku tersebut diabaikan.

Poe kemudian menempuh pendidikan di West Point di mana dia menerbitkan buku puisi lainnya. Namun, dia memiliki masalah pada kedisiplinan dan akhirnya didepak keluar. Pada 1835, ia menjadi editor majalah dan kritikus sastra yang terkenal dengan penilaian yang kasar. Di usianya yang ke-27, Poe jatuh cinta dan menikahi sepupunya, Virginia Clemm yang saat itu berusia 13 tahun. Pasangan itu pindah ke New York, kota di mana Poe menerbitkan Pembunuhan di Rue Morgue yang disebut-sebut sebagai cerita detektif modern pertama.

Poe mendapat pujian yang lebih besar saat menerbitkan “The Raven”, sebuah puisi gelap yang menghipnotis di surat kabar New York Evening Mirror pada 1845. Pada saat itulah istrinya, Virginia mengalami batuk berdarah sebuah tanda awal penyakit tuberkolosis.

Saat Virginia meninggal pada 1847 Poe merasa amat terpukul. Ia jatuh dalam keputusasaan dan menjadi pecandu alkohol. Teman-temannya khawatir ia tak akan bisa sembuh. Dua tahun kemudian ia bertunangan dan tunangannya bersikeras melarangnya mabuk tapi ia tidak bisa berhenti. Selama bertahun-tahun orang-orang menganggap alkohol telah merusaknya.

Sebelum kematiannya, Poe menghabiskan musim panas di Richmond dan melamar kekasih masa kecilnya, Sarah Elmyra Royster, di sana. Pada 27 September 1849 dia meninggalkan tunangannya dan pergi ke Philadelphia untuk membantu rekannya melakukan redaksi koleksi puisi. Namun, ia tidak pernah sampai ke sana dan tidak ada yang tahu ke mana Poe pergi sampai dia ditemukan di selokan pada 3 Oktober.

Beberapa orang mengatakan dia mabuk. Poe sangat rentan terhadap efek alkohol, bahkan beberapa minuman bisa membuatnya mabuk berat.  Salah satu penulis biografinya mengungkapkan sebuah teori yang mengatakan ia telah dikalahkan preman saat mabuk. Yang lain berspekulasi Poe telah menjadi korban praktik Cooping, yakni sebuah praktek yang menjamur saat pemilihan. Dalam praktek tersebut, seseorang akan diberi alkohol sampai mabuk dan dipaksa untuk memilih beberapa kali dengan nama yang berbeda di beberapa lokasi.

Anggapan lain mengatakan Poe meninggal akibat keracunan logam berat dan karbon monoksida, namun pengujian DNA dari rambutnya membantah hal tersebut.

Baru-baru ini sejarawan menduga Poe mungkin memiliki tumor otak. Saat sisa-sisa jasad Poe digali untuk dipindahkan, pengamat melihat ada massa di tengkorak Poe yang diduga sebagai otaknya. Pakar forensik saat ini mengetahui otak akan hancur dalam dua dekade setelah kematian seseorang, namun, tumor akan tetap utuh. Tumor di otak akan menyebabkan perilaku yang tak menentu dan ketidaknyamanan serta perilaku yang tak masuk akal.

Meski begitu, tak pernah ada yang meyakini teori-teori itu dan kematian Edgar Allan Poe masih menjadi misteri yang tak terpecahkan sampai saat ini.

Akankah teka-teki penyebab kematiannya terungkap di kemudian hari? Jika Anda bertanya pada sang gagak seperti dalam puisinya The Raven maka jawabannya adalah : “Nevermore” (tidak akan). (Griska Laras/Magang)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini