Share

Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, Klaim AS Picu Bangkitnya Ekstremisme

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 15 Desember 2017 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 15 18 1830999 akui-yerusalem-jadi-ibu-kota-israel-klaim-as-picu-bangkitnya-ekstremisme-qEUCJAYl4g.JPG Bentrokan terjadi antara warga Palestina dengan Pasukan Keamanan Israel di Ramallah (Foto: Mohamad Torokman/Reuters)

JAKARTA – Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dapat memicu kebangkitan kaum ekstremis. Yang lebih bahaya, kaum ekstremis itu bisa menghasut kaum moderat yang menginginkan perdamaian.

Hal itu disampaikan Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Walid al Hadid dalam forum diskusi Bengkel Diplomasi FPCI di Menara Mayapada, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017).

“Semua ekstremis akan bangkit. Mereka akan bilang kepada moderat, ‘Kami sudah bilang kan.’ Keputusan AS itu tidak menganggap kaum moderat yang menginginkan perdamaian,” ujar Walid.

BACA JUGA: Konflik Berkepanjangan, Palestina Ingin Damai dengan Israel sejak 1993

Lautan Umat Muslim Bangladesh Turun ke Jalan Demo Pengakuan Sepihak AS atas Yerusalem

Umat Islam di Bangladesh turun ke jalan menolak pengakuan sepihak AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Foto: Reuters)

Hal berbeda disampaikan oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia Terpilih, Zuhair al Shun. Ia dengan tegas menyatakan bahwa bukan hak AS untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Sebab, status tersebut harus dirundingkan bersama antara Palestina dengan Israel.

“Bukan hak Amerika Serikat untuk menyatakan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Begitu juga kita tidak punya hak untuk mengatakan, misalnya, Washington adalah Ibu Kota Meksiko,” ucap Zuhair al Shun dengan nada sedikit meninggi.

Sementara itu, Pendiri FPCI, Dino Pati Djalal mengatakan, keputusan untuk mengakui Yerusalem itu secara diplomatik sudah tidak bisa dibatalkan. Meski demikian, rencana pemindahan Kedutaan Besar (Kedubes) masih bisa ditunda.

"Kalau tidak salah Menteri Luar Negeri Tillerson mengatakan pemindahan akan memakan waktu dua tahun. Saya berharap itu tertunda antara 5-10 tahun," tutup Dino.

BACA JUGA: Klaim Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, AS Harus Hadapi Risiko Dikucilkan 

Sebagaimana diketahui, keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel serta pemindahan Kedubes AS sudah dikukuhkan oleh Kongres pada 1995. Namun, Presiden Bill Clinton, George Bush, dan Barack Obama memilih menggunakan kuasanya untuk tidak mematuhi putusan Kongres tersebut. Sebab, perintah Kongres itu dikhawatirkan memicu dampak yang lebih masif.

Faktanya, tidak lama setelah AS mengumumkan status tersebut, seruan-seruan untuk melakukan pemberontakan terdengar di Timur Tengah. Tidak kurang dari sayap partai Hamas di Jalur Gaza serta kelompok militan Hizbullah di Libanon yang menyerukan pemberontakan tersebut.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini