nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nama dan Fakta Pilgub Jateng 2018, Mengukur Popularitas Figur

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 16 Desember 2017 15:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 16 512 1831364 nama-dan-fakta-pilgub-jateng-2018-mengukur-popularitas-figur-uxGxPJy7tD.jpg ilustrasi

SEMARANG – Hingar-bingar Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 memang tak seramai dengan pesta demokrasi di wilayah Jawa lainnya, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Karakteristik wong (orang) Jawa Tengah yang dinilai anteng dan adem menjadi salah satu penyebab suhu politik tak terlalu panas.

Namun, analisis politik lebih dalam mengenai hal itu adalah pamor incumbent Ganjar Pranowo yang sulit tertandingi. Apalagi, dia berasal dari PDIP, parpol satu-satunya yang bisa mengusung sendiri pasangan calon untuk mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat.

Peraturan KPU 9/2016 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota, menyebutkan, parpol yang ingin mengusung calon sendiri adalah harus memiliki jumlah perolehan kursi di DPRD di daerah pilkada sebanyak 20 persen.

Sementara jumlah total kursi DPRD Jateng sebanyak 100 kursi, sehingga partai politik harus memiliki minimal 20 kursi agar bisa mengusung calon sendiri di pilgub. Jumlah kursi di DPRD Jateng yakni Fraksi PDIP 31 (PDIP: 27 dan Nadem: 4), Fraksi PKB 13, Fraksi Gerindra 11, Fraksi PKS 10, Fraksi Golkar 10, Fraksi Demokrat 9, Fraksi PAN 8, dan Fraksi PPP 8.

Dengan modal jumlah kursi yang melebihi batas minimal, PDIP unggul dalam menentukan “permainan”. Dominasi PDIP di Jateng mengakibatkan partai politik lain harus berpikir ribuan kali untuk ikut dalam kontestasi. Apalagi, Jateng juga dikenal sebagai pemilih tradisional yang mudah goyah pada calon-calon dari parpol lain.

Seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, PDIP baru mengeluarkan jagoannya pada last minute atau mendekati akhir masa pendaftaran. Strategi mengulur waktu itu rupanya cukup ampuh membuat parpol lain kebingungan.

Saking tangguhnya Ganjar yang memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi, disebut hanya bisa dikalahkan oleh figur setangguh Jokowi. Diduga karena itulah, tak banyak figur yang berani secara terang-terangan menyatakan maju sebagai cagub.

Rabu 3 Desember 2017, menjadi catatan waktu penting dalam Pilgub Jateng, karena baru pertama kali parpol mendeklarasikan calonnya. Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said untuk maju memerebutkan kursi Jateng 1.

Semula terdapat dua nama yang digadang-gadang Partai Gerindra untuk maju sebagai cagub, yakni Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono dan Sudirman Said. Kendati harus memutuskan untuk mendukung Sudirman Said, Prabowo menjelaskan Ferry Juliantono dibutuhkan untuk tugas negara lainnya yang lebih penting.

Deklarasi itu langsung mendapat dukungan dari PAN dan PKS yang memang telah menjalin komunikasi politik sejak lama. Meski belum menyatakan secara resmi berkoalisi, dari pembicaraan di tingkat elite partai telah final untuk saling mendukung.

Hal itu terbukti dengan pelibatan dua parpol tersebut untuk ikut dalam penentuan figur cawagub sebagai pendamping Sudriman Said. Sebab, usai deklarasi Prabowo menginstruksikan Sudirman untuk segera mencari pendamping yang mengakar dan populer di masyarakat Jateng.

Selain Gerindra dan dua calon koalisinya, juga terdapat PDIP, Demokrat, PPP, Golkar, dan PKB yang sempat memunculkan jagoan-jagoannya. PKB sempat mengunggulkan nama mantan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar untuk maju sebagai cagub.

Sementara Demokrat merekomendasikan tiga nama yakni Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto, anggota DPR RI Djoko Udjianto, dan Ketua Komisi E DPRD Jateng AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi. Tiga dinilai cukup potensial baik menjadi calon gubernur ataupun calon wakil gubernur.

PPP hendak merapat ke PDIP dengan mengusulkan skenario koalisi yang disebut Semangka Bangjo. Koalisi tersebut mempersiapkan wakil dari PPP, yang identik dengan warna hijau, dengan cagub dari PDIP atau partai merah yang selama ini menjadi basis massa di Jateng.

Sementara Partai Golkar menyatakan mendukung salah satu perempuan kadernya, yakni Arianti Dewi, sebagai bakal calon wakil gubernur. Bahkan, elite Partai Golkar di tingkat atas disebut sudah berkomunikasi intensif dengan tokoh-tokoh kunci partai politik calon koalisi untuk dipasangkan dengan Arianti Dewi.

Meski masih terkesan malu-malu, sejumlah nama telah muncul di tengah publik. Dengan cara masing-masing, mereka berlomba untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Apalagi, mereka bakal berhadapan dengan petahana yang memiliki popularitas tertinggi.

Berikut nama-nama yang muncul sebagai cagub:

1. Ganjar Pranowo

Sebagai petahana, Ganjar memiliki modal sangat kuat untuk berlaga di Pilgub Jateng 2018. Gaya kepemimpinannya yang energik menjadikannya tenar di berbagai kalangan termasuk anak muda. Tak heran tingkat popularitas Ganjar berada di peringkat paling atas dengan 78,8 persen.

Namun dalam sebuah survei, tingkat kepuasan pada kinerjanya yang hanya mencapai angka 22,5 persen. Sementara, tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Ganjar lebih tinggi, sebesar 55,3 persen, dan sisanya 22,2 persen tidak memberikan pendapat.

Selain itu, nama Ganjar berkali-kali disebut tersangkut dalam pusaran kasus megakorupsi e-KTP saat dia menjadi anggota DPR. Meski demkian, mayoritas pemilih di Jateng yang bersifat pemilih ortodoks disebut tak mudah terpengaruh dengan maraknya pemberitaan korupsi tersebut.

Apalagi, jika nanti Ganjar kembali diusung PDIP, pria berambut putih itu dinilai akan unggul dibanding calon-calon lainnya. Sebab, PDIP memiliki basis massa yang sangat kuat di Jateng sehingga siapa pun calon yang diusung, peluang untuk menang terbuka lebar.

2. Sudirman Said

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menjadi orang pertama yang dideklarasikan untuk maju memerebutkan kursi Jateng 1 oleh partai politik. Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, secara resmi memilih Sudirman pada Rabu 13 Desember.

Sudirman dinilai sudah teruji bersih dari kasus tindak pidana korupsi (tipikor). Bahkan, yang bersangkutan juga pernah melaporkan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dalam kasus "Papa Minta Saham" pada 2015, hingga akhirnya Novanto lengser sebagai Ketua DPR meskipun akhirnya menduduki jabatan itu kembali.

Selain itu, Sudirman juga berkomitmen memenangkan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 mendatang apabila ia berhasil memenangkan pertarungan di Pilgub Jateng. Partai besutan Prabowo Subianto ini juga memiliki nama calon lainnya, yakni Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono. Bahkan Ferry sudah melakukan safari politik ke masyarakat guna meraih dukungan di Jateng.

3. Ferry Juliantono

Nama Ferry Juliantono awalnya disebut-sebut sebagai poenantang yang tangguh untuk melawan petahana Ganjar Pranowo. Waketum Gerindra itu membeberkan alasannya untuk maju dalam gelaran Pilgub Jateng, di antaranya adalah menciptakan daerah itu terbebas dari jurang kemiskinan.

Dia juga menginginkan daerah tersebut dapat menjadi poros baru ekonomi nasional. Satu di antaranya dengan memajukan sektor perindustrian. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Ferry melakukan safari politik ke struktur Partai Gerindra hingga bawah. Bahkan, dia juga telah menjajaki komunikasi politik dengan sejumlah parpol.

Namun, harapannya untuk maju dalam perhelatan Pilgub Jateng 2018 pupus, karena Prabowo Subianto lebih memilih Sudirman Said. Meski demikian, Ferry mengaku legawa atas keputusan tersebut. Dia menekankan bahwa segala keputusan Gerindra harus dipandang untuk kebaikan bangsa dan negara.

4. Marwan Jafar

Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 12 Maret 1971 itu sebelumnya menjadi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016. Kemudian, dia digantikan rekan satu partainya yaitu Eko Putro Sandjojo.

Dia digadang-gadang oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berjanji memberikan rekomendasi untuk maju di Pilgub Jawa Tengah. Semula ada wacana koalisi antara PKB dengan beberapa partai politik untuk menduetkan Marwan Jafar dengan mantan Menteri Energi dn Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

PKB juga meyakini Marwan Jafar merupakan sosok yang mampu bersaing secara head to head dengan Ganjar Pranowo. Marwan sempat menyebut Ganjar tak berhasil membawa perubahan yang signifikan di Jateng. Bahkan, politikus PKB itu mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jateng merupakan provinsi besar yang tertinggal dan menduduki peringkat kedua provinsi dengan masyarakat miskin.

5. Musthofa

Publik tentu masih mengingat ketika Bupati Kudus Musthofa sempat dideklarasikan menjadi Cagub Jateng oleh sejumlah simpatisan DPC PDIP Kudus pada Rabu 26 April 2017. Meski telah jauh hari melakukan deklarasi, namun hingga kini dia belum bisa mendapatkan tiket dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Justru, deklarasi dan usulan tersebut mendapat kritik dari internal PDIP Jawa Tengah. Deklarasi itu dinilai tidak sesuai dengan mekanisme organisasi, sebab PDIP mempunyai aturan untuk menentukan seseorang diusulkan menjadi calon gubernur. Mekanisme itu antara lain dengan mendaftar sebagai bakal calon di kantor DPD PDIP Jateng.

Para calon akan mengikuti seleksi dan wawancara. Kemudian, yang lolos seleksi akan diserahkan diserahkan kepada pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) di Jakarta. Hasil seleksi itulah yang menjadi dasar rekomendasi dari ketua umum.

Sosok Musthofa dianggap mumpuni untuk berpartisipasi dalam Pilkada 2018 karena pengalamannya sebagai bupati dua periode. Dia dinilai berhasil membangun Kota Kudus hingga meraih beberapa penghargaan di tingkat nasional.

6. Siswadi Selodipoero

Ketua DPW Partai Perindo Jateng Siswadi Selopoero namanya turut mencuat dalam konstestasi Pilgub Jateng 2018. Dia turut disandingkan dengan sejumlah nama yang akan berlaga merebut kursi Jateng 1, seperti Ganjar Pranowo, Sudirman Said, dan Marwan Jafar.

Pengalamannya sebagai anggota DPR dianggap sebagai modal, untuk memimpin Jawa Tengah lima tahun ke depan. Meski Partai Perindo belum masuk sebagai peserta Pemilu, arus bawah secara bulat mendukungnya untuk maju. Apalagi, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo juga sudah memberikan restu.

Kini pihaknya masih mencari kendaraan politik dengan mendekati parpol-parpol. Sebagaimana bakal calon yang lain, poster-posternya juga sudah mulai bermunculan di 35 daerah di Jateng. Pria asal Wonosobo itu mengusung tagline Jateng Sejahtera yang merupakan turunan dari slogan Partai Perindo yakni Mewujudkan Indonesia Sejahtera.

Dia mengaku, dukungan dari bawah tak hanya dari struktural Partai Perindo tetapi juga masyarakat secara umum. Bahkan, sejumlah komunitas seni tradisional secara terang-terangan menyatakan dukungannya. Termasuk beberapa relawan yang mendirikan posko-posko pemenangan di beberapa daerah secara swadaya.

7. Budi Waseso

Budi Waseso termasuk yang diharapkan bisa maju ke Pilgub Jateng 2018. Kepopulerannya saat menjadi Kabareskrim Polri beberapa waktu lalu memikat hati warga untuk menjagokannya dalam pilkada. Selain putra daerah, pria yang akrab disapa Buwas itu juga memiliki ketegasan untuk mengungkap kasus-kasus besar.

Bahkan, saat menjadi Kabareskrim dia harus bersinggungan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang meminta agar tidak mengusut dugaan korupsi di PT Pelindo II. Dia mengaku pernah ditelefon langsung oleh Kalla saat pria asal Pati Jateng itu ikut menggeledah PT Pelindo II di Tanjung Priok pada 28 Agustus 2015.

Tak berselang lama setelah kasus itu, dia dipindah menjadi Kepala badan Narkotika Nasional (BNN). Di tempat yang baru, Buwas tetap menunjukkan kegarangannya dengan membasmi peredaran narkotika yang merusak generasi bangsa. Prestasi gemilang yang terakhir adalah membongkar sindikat pabrik pil PCC di Semarang dan Solo beberapa waktu lalu.

Usai menyampaikan ekspos pil berbahaya yang menyasar anak-anak itu, Buwas juga mengklarifikasi tentang pencalonan di Pilgub Jateng. Dia menegaskan masih memilki tanggung jawab di BNN sehingga belum tertarik untuk meramaikan konstestasi pilkada. Meski demikian, dia mengaku akan siap berlaga, jika telah menyelesaikan pengabdian di BNN.

8. Wardoyo Wijaya

Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, bakal menjadi seteru Ganjar Pranowo yang sama-sama mengambil formulir pendaftaran di DPD I PDIP Jateng. Air matanya bercucuran sejak sebelum masuk gedung Panti Marhaen, hingga setelah penyerahan berkas formulir pencalonan untuk Pilkada Jateng.

Politikus PDIP itu datang bersama ratusan pendukungnya menggunakan bus dan mobil pribadi. Bahkan, semua kepala desa di Sukoharjo ikut dalam rombongan meski tanpa mendapatkan perintah langsung darinya. Dia mengklaim, selama tujuh tahun masa kepemimpinannya, Sukoharjo mendapat 137 penghargaan.

Tak hanya cagub yang diramaikan sejumlah tokoh nasional. Posisi Cawagub Pilgub Jateng juga diperkirakan bakal diisi oleh nama-nama populer. Selain itu, juga masih ada beberapa nama potensial dari daerah yang tak kalah populer dan bisa menjadi magnet bagi pemilih. Berikut adalah beberapa tokoh yang dinilai bakal menempati posisi cawagub:

1. Heru Sudjatmoko

Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko dinilai bakal kembali menempati posisi yang sama pada perhelatan pilkada serentak 2018. Sosoknya yang kalem dan usia matang, menjadikannya sebagai tokoh yang layak menjadi pendamping cagub yang progresif dan dinamis seperti Ganjar Pranowo.

Meski ada sebagian kalangan yang menjagokannya menjadi cagub, namun Heru diperkirakan tak mengambil kesempatan itu. Apalagi, saat pendaftaran bakal calon di DPD PDIP Jateng, Heru mengambil formulir untuk posisi cawagub. Dia mengambil formulir usai Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

2. Aryanti Dewi

Partai Golkar hampir pasti akan mendukung salah satu perempuan kadernya, yakni Ariyanti Dewi, sebagai bakal calon wakil gubernur pada Pilgub Jateng 2018. Bahkan, eite Partai Golkar di tingkat atas sudah berkomunikasi intensif dengan calon mitra koalisi untuk menentukan pasangan yang pas Aryanti Dewi.

Perempuan dengan paras cantik itu dinilai sebagai kader Partai Golkar yang rajin dan berpendidikan. Dia selama ini juga telah membuktikan bahwa dirinya merupakan kader terbaik dan loyal terhadap partai. DPD I Partai Golkar Jateng pun mempersiapkan sosialisasi kepada masyarakat Jateng untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas yang bersangkutan.

3. Hendrar Prihadi

Nama Wali Kota Semarang itu turit ramai dibicarakan untuk menjadi cawagub. Apalagi dia dinilai telah suskes memimpin Kota Semarang selama dua periode. Sosoknya yang muda dan energik diidamkan dapat mendampingi Ganjar Pranowo dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) tingkat Provinsi Jateng 2018.

Namun secara diplomatis, mengatakan masih ingin membangun Kota Semarang hingga akhir periode. Dia juga menyatakan tidak mendaftar ke DPD I PDP Jateng untuk mengikuti proses penjaringan. Pria yang akrab disapa Hendi itu justru mengajukan nama-nama lain seperti Ganjar Pranowo, Musthofa, dan Wardoyo Wijaya.

4. Rustriningsih

Mantan Wakil Gubernur Jateng, Rustriningsih, akhir-akhir ini kerap disebut bakal menjadi pendamping calon yang didukung Partai Gerindra yakni Sudirman Said. Namun, belum ada pernyataan resmi baik dari Gerindra maupun Rustriningsih sendiri.

Rustriningsih merupakan mantan kader PDIP yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013 mendampingi Bibit Waluyo. Pada Pilgub Jateng 2013, Rustri tak mendapatkan rekomendasi maju Pilgub lewat PDIP meskipun dia merupakan kader potensial saat itu.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri lebih memiliih Ganjar Pranowo dengan memberikan tiket untuk melaju dalam pilkada dan kini menjabat Gubernur Jateng bersama wakilnya Heru Sudjatmoko. Setelah peristiwa itu, Rustri memutuskan pisah dari PDIP.

Seketika, karier politik Rustri tak lagi cemerlang. Meski demikian, dia masih memiliki pendukung loyal yang mendorongnya untuk kembali maju pada kontestasi pilkada.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini