Rusia Keberatan AS Pasok Senjata ke Ukraina

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Minggu 24 Desember 2017 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 24 18 1835253 rusia-keberatan-as-pasok-senjata-ke-ukraina-RBWCmzN2J1.jpg Rusia memandang pasokan senjata AS dapat mendorong Ukraina menggunakan kekuatan militer di wilayah konflik (Foto: Reuters)

MOSKOW – Rusia menyatakan keberatan atas keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menyuplai senjata ke Ukraina. Sebab, pengiriman senjata itu bisa saja mendorong Kiev untuk menggunakan kekuatan militer di wilayah konflik Ukraina Timur.

Pasokan senjata itu diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri AS pada Jumat 22 Desember. Negeri Paman Sam akan memberikan kemampuan pertahanan tingkat lanjut bagi Ukraina dengan persenjataan tersebut. Namun, Rusia dengan tegas menentangnya.

“Penyediakaan segala jenis senjata baru bisa mendorong mereka yang mendukung konflik di Ukraina untuk menggunakan ‘skenario kekuatan’,” tukas Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Grigory Karasin, mengutip dari Reuters, Minggu (24/12/2017).

BACA JUGA: Tak Ada Pertanda Tentara Rusia Ditarik dari Ukraina 

Hal senada diungkapkan oleh legislator Rusia, Franz Klintsevich. Ia yakin, suplai senjata itu bisa saja mendorong Ukraina berpikir bahwa aksi militernya mendapat dukungan. Ia menganggap Amerika sedang mendorong pasukan Ukraina menuju medan pertempuran.

Ukraina dan Rusia terlibat konflik sejak aneksasi Moskow terhadap Semenanjung Crimea pada 2014. Pertempuran pecah antara kelompok pemberontak pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina hingga menewaskan lebih dari 10 ribu orang dalam tiga tahun terakhir.

BACA JUGA: Crimea Gembira Gabung Rusia 

Sementara itu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengonfirmasi bantuan persenjataan itu lewat akun Facebook. Ia mengatakan bahwa senjata akan digunakan untuk melindungi warga dan tentara Ukraina. Namun, Poroshenko menyebut pengiriman senjata sebagai vaksin transatlantic untuk meredam virus agresi Rusia.

“Senjata Amerika di tangan tentara Ukraina bukan untuk menyerang, tetapi untuk perlawanan kuat terhadap agresor, perlindungan bagi tentara dan warga sipil, serta pertahanan diri yang efektif sesuai dengan Pasal 51 dari Piagam PBB,” ujar Petro Poroshenko.

BACA JUGA: Rusia Mobilisasi Pasukan di Perbatasan Rusia

Ukraina berulang kali menuduh Rusia memobilisasi tentara dan persenjataan berat ke Crimea untuk mendukung pemberontak. Namun, Negeri Beruang Merah membantah dengan mengatakan bahwa warga di Crimea sudah menentukan nasibnya sendiri secara demokratis lewat referendum.

Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh tindakan AS itu melanggar Perjanjiang Minsk. Perjanjian yang ditujukan guna mengakhiri pertempuran di Crimea itu ditandatangani oleh Ukraina, Rusia, Jerman, dan Prancis di Ibu Kota Minsk, Belarusia, pada awal 2015.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini