Image

Pabrik STMJ Instan di Surabaya Gunakan Susu Kadaluwarsa

Syaiful Islam, Jurnalis · Jum'at 29 Desember 2017, 22:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 29 519 1837703 pabrik-stmj-instan-di-surabaya-terciduk-gunakan-susu-kadaluwarsa-KNextMTrO4.jpg Penggerebekan pabrik STMJ berbahan susu kadaluwarsa. (Foto: Syaiful Islam/Okezone)

SURABAYA - Warga Surabaya dan sekitar yang suka mengkonsumsi STMJ (susu telor madu jahe) instan harus waspada. Pasalnya, Polrestabes Surabaya menggerebek industri rumahan minuman serbuk STMJ kemasan di Jalan Bulak Kali Tinjang Baru, Gang 1B, Nomor 29, Kenjeran, Surabaya, Jumat (29/12/2017).

Penggerebekan dilakukan lantaran salah satu bahan bakunya, yakni susu memakai yang sudah basi atau kedaluwarsa. Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian bahan yang disebutkan dalam kemasan dengan kenyataanya. Dalam kemasan disebut mengandung madu, namun ternyata tidak. STMJ ini mengandung madu, tetapi tidak ada madunya.

Dalam kasus tersebut polisi telah menangkap pemilik usaha berinisial MIS (47), warga Surabaya. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti (BB) seperti susu, jahe dan telur sebagai bahan baku, serta menyita alat produksi.

"STMJ ini menggunakan susu basi atau sudah kedaluwarsa. Ini diketahui ketika kami bersama BPOM dan Dinkes Surabaya melakukan penyelidikan. Bahan baku yang digunakan tidak aman untuk dikonsumsi," terang Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan.

Rudi menjelaskan, susu yang digunakan sudah kedaluwarsa sejak 2015, tetapi masih dipakai sebagai bahan campuran dalam STMJ pada 2017. Pelaku mendapatkan susu basi dari Sidoarjo.

(Baca juga: BBPOM Padang Sinyalir Ada 4,2 Ton Mi Instan Kedaluwarsa Diperjualbelikan)

Dalam sehari pelaku bisa memproduksi 5.000 bungkus. Kemudian per bungkus dipatok dengan harga Rp1.250. Pelaku memasarkan produknya di wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Bahkan juga dikirim ke Kalimantan.

"Delapan pekerjanya kami jadikan saksi. Kami mengimbau pada pedagang yang menjual produk ini supaya ditarik atau tidak dijualbelikan. Kami juga meminta masyarakat agar lebih teliti dalam membeli makanan dan minuman instan," ungkapnya.

Pelaku telah melanggar UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan tiga kesalahan, yakni tidak memenuhi standar keamanan pangan, tidak memiliki izin edar, dan memberikan keterangan yang tidak benar atau menyesatkan pada label.

"Adapun ancaman hukumannya tujuh tahun penjara. Masyarakat juga perlu curiga jika ada barang yang dijualbelikan tidak ada izin edar. Warga bisa bertanya pada kami, BPOM atau ke Dinkes," tukas Kapolrestabes.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini