Pesan Akhir 2017, Paus Fransiskus Serukan agar Masyarakat Lebih Bertanggung Jawab

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Senin 01 Januari 2018 12:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 01 18 1838405 pesan-akhir-2017-paus-fransiskus-serukan-agar-masyarakat-lebih-bertanggung-jawab-TH6u0P1nlP.jpg Paus Fransiskus saat memimpin vesper sore di Basilika Santo Petrus. (Foto: Reuters)

VATIKAN - Pemimpin Umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, menyampaikan pesan akhir tahun 2017. Ia mengatakan bahwa 2017 telah dirusak oleh perang, kebohongan, dan ketidakadilan. Paus Fransiskus pun mendesak orang-orang agar lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Pada acara publik terakhirnya pada 2017, sebuah layanan vesper sore di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa umat manusia telah "terbuang dan dilukai" pada 2017, dalam hal kematian, kebohongan, dan ketidakadilan.

Sementara perang adalah tanda yang paling jelas dari "kebanggaan yang tidak bertobat dan tidak masuk akal". Ia juga menegaskan bahwa banyak pelanggaran lainnya telah menyebabkan degradasi manusia, sosial, dan lingkungan.

BACA JUGA: Paus Fransiskus Ajak Warga Myanmar Urapi Luka dan Kenangan Menyakitkan

"Kita harus bertanggung jawab atas segala sesuatu di hadapan Tuhan, saudara kita, dan apa yang telah kita buat," ungkap Paus Fransiskus, dilansir dari Reuters, Senin (1/1/2018).

Meski ia kerap menyebutkan bahwa kebohongan dan ketidakadilan merusak 2017, Paus tidak menyebutkan kejadian spesifik. Ia pun diketahui juga aktif menyampaikan suaranya dalam banyak masalah terbesar di dunia sepanjang 2017.

BACA JUGA: Kunjungi Mesir, Paus Fransiskus Adakan Misa di Kairo

Pada April 2017, Paus Fransiskus mengutuk "pembantaian yang tidak dapat diterima" yang diterima oleh warga sipil tak berdosa dalam serangan senjata kimia di Suriah. Masih dalam ingatan, Paus juga sempat mengunjungi Myanmar, di mana lebih dari 600.000 orang Muslim Rohingya dipaksa meninggalkan rumah mereka sendiri dan berlindung ke negara tetangga, Bangladesh. Paus juga sempat berbicara dengan pihak berwenang dalam upaya untuk mengurangi krisis tersebut.

Paus juga berusaha untuk mendorong perdamaian di Kolombia selama perjalanan pada September 2017 dan melobi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menangani masalah perubahan iklim pada Mei. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan negara Barat, Paus Fransiskus juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap persenjataan nuklir.

Di akhir pelayanan, Francis berjalan melintasi Lapangan Santo Petrus, berhenti untuk berjabat tangan dan berpose untuk foto. Selain itu, pemimpin dari 1,2 miliar Umat Katolik di seluruh dunia tersebut akan mengadakan sebuah misa untuk menandai Hari Damai Gereja Sedunia.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini