nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jual Narkoba hingga Rahasia Negara, Diktator Panama Takluk oleh Invasi AS

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis · Rabu 03 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 02 18 1839071

DIKTATOR Panama, Manuel Antonio Noriega, menyerahkan diri kepada tentara Amerika Serikat (AS), pada 3 Januari 1990 setelah sempat bersembunyi selama 10 hari di Kedutaan Vatikan. Kabar penangkapan Noriega disambut dengan kegembiraan dan kebahagiaan oleh rakyat Panama.

Pada 10 Juli 1992, mantan diktator itu dijatuhi hukuman 40 tahun penjara karena menyebarkan narkoba, melakukan pencucian uang, dan pemerasan.

Noriega yang lahir di Panama pada 1938 adalah pengikut setia Jenderal Omar Torrijos, pemimpin Panama yang merebut kekuasaan melalui kudeta pemerintahan 1968. Di bawah Torrijos, Noriega memimpin dinas intelijen G-2 yang mengganggu dan meneror orang-orang yang mengkritik rezim Torrijos. Selain itu, Noriega juga berperan sebagai agen dinas intelijen Amerika Serikat (AS), CIA tetapi juga mengumpulkan kekayaan dari penjualan obat terlarang.

Pada 1981, Omar Torrijos tewas dalam kecelakaan pesawat sehingga terjadi kevakuman kursi kekuasaan di Panama. Setelah perebutan kekuasaan selama dua tahun, Noriega berhasil menjadi pimpinan de facto Panama. Noriega kemudian mengatur pemilihan presiden sehingga jabatannya tetap bisa dipertahankan.

Pemerintahan Noriega identik dengan korupsi dan kekerasan. Selain berperan sebagai penguasa Panama, dia juga menjadi agen ganda yang menjual rahasia intelijen AS ke Kuba dan pemerintah Eropa Timur.

Pada 1987, kelompok-kelompok organisasi masyarakat di Panama melakukan protes terhadap pemerintahan Noriega. Alih-alih menanggapi protes itu dengan damai, ia malah mengubah status negara menjadi gawat darurat. Tidak berhenti di situ, ia membredel stasiun radio dan surat kabar, juga menculik musuh-musuh politiknya.

Melihat kacaunya situasi di Panama, AS memutuskan memotong bantuan ke negara itu dan mendesak Noriega untuk mengundurkan diri. Pada 1988 Washington mulai mempertimbangkan tindakan militer demi mengakhiri perdagangan narkoba di Panama.

Tidak menyerah, Noriega malah membatalkan pemilihan presiden pada Mei 1989, padahal pada saat itu, ada kandidat yang didukung AS untuk menggantikannya sebagai pemimpin baru Panama. Dia kemudian menjadi semakin berani dengan menyatakan perang terhadap AS pada Desember 1989. Tak lama setelah deklarasi itu, seorang Marinir AS dibunuh oleh tentara Panama.

Presiden AS, George H.W. Bush, langsung membentuk Invasi ke Panama yang disebut "Operation Just Cause" pada 20 Desember 1989. Sebanyak 12 ribu tentara AS yang sudah ada di Panama City mendapat tambahan 13 ribu pasukan lagi demi menduduki negara tersebut.

Pertempuran yang terjadi menyebabkan 23 tentara AS tewas dan 300 lainnya cedera. Sementara sekira 450 tentara Panama terbunuh, ratusan hingga ribuan warga sipil tewas, dan ribuan lainnya luka-luka.

Setelah mendekam di penjara AS, masa hukuman Noriega dikurangi dari 40 tahun menjadi 30 tahun karena kelakukan baik. Pada 9 September 2007, Si Wajah Nanas, julukan untuk Noriega, dibebaskan setelah menjalani hukuman selama 17 tahun penjara.

Setelah selesai menjalani hukuman di AS, Noriega menghadapi tuntutan lain pencucian uang di Prancis sebelum akhirnya dideportasi ke Panama untuk menjalani pengadilan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di negara asalnya itu. Setelah sempat disidang dan dipenjara, pada 2012, Noriega didiagnosa menderita tumor otak dan dibebaskan dari penjara. Dia meninggal pada 29 Mei 2017 setelah sempat kritis akibat pendarahan otak yang dialaminya di tengah operasi.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini