nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Heroik Penjaga Hutan Nusakambangan, Bermodal Badan Tanpa Bayaran Sepadan

Sucipto Cipto, Jurnalis · Rabu 03 Januari 2018 11:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 03 512 1839290 kisah-heroik-penjaga-hutan-nusakambangan-bermodal-badan-tanpa-bayaran-sepadan-CwRNqgbUnX.jpg Penjaga Hutan Nusakambangan tengah berlatih beladiri Silat Konto (Foto: Sucipto/Okezone)

CILACAP - Menghadap Samudra Hindia, mata Rohim Effendi menerawang jauh. Ia tidak sedang menikmati langit jingga pada sore hari di akhir tahun 2017, melainkan memikirkan tugas berat yang ia lakoni sebagai penjaga hutan di ujung barat pulau yang disebut-sebut sebagai "Alcatraz of Indonesia", Nusakambangan.

Sejak 2012, lelaki berusia 45 tahun itu memimpin regu Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP) di Nusakambangan Barat. Ia dan 9 anggota MMP lain mengemban tugas menjaga hutan di sana dari ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab seperti perburuan liar, pembalakan liar, dan wisatawan ilegal dari pantai Pangandaran.

Nusakambangan Miliki Potensi Cadangan Batu Kapur Capai 290 Juta Ton

Mereka rata-rata berprofesi sebagai nelayan di kawasan Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Mereka harus menyisihkan waktu mencari nafkah itu untuk menjaga hutan Nusakambangan, pulau tempat mereka bertumbuh, tempat seagian kecamatan Kampung Laut berada.

Sebanyak tiga kali dalam sebulan, mereka berpatroli wajib untuk memastikan hutan Nusakambangan Barat dalam keadaan aman. Pasalnya, wilayah cagar alam di sana menjadi tanggung jawab mereka agar tetap terjaga secara alami.

(Baca Juga: Lapas 'Super Maksimum' Segera Beroperasi di Nusakambangan)

Ancaman yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas adalah nyawa. Bertemu pemburu liar dan pembalak liar yang membawa senjata adalah kemungkinan terburuk yang mereka hadapi.

Selain itu, untuk menjaga hutan, mereka harus berpatroli dari daerah laguna tempat bertemunya air dari Sungai Citanduy, Cikonde dan Ciberem hingga kawasan pantai yang langsung berhadapan dengan ombak Samudra Hindia.

Namun, tugas berat yang mereka emban tidak serupa dengan fasilitas yang mereka dapat. "Sebulan kami diberi biaya transport Rp 1,5 juta untuk 10 orang. Uang itu kami gunakan untuk sewa perahu dan makan. Kadang kami menombok," ujar Rohim.

Sewa perahu di wilayah Desa Ujung Gagak, Nusakambangan sebanyak tiga kali sebesar Rp 100.000 di luar bahan bakar. Mereka harus menyiasati sisa Rp 700.000 untuk bahan bakar dan konsumsi.

(Baca Juga: Menegangkan, Begini Operasi Mencari Narkoba di Lapas Nusakambangan)

Mereka juga harus turun dan menyusuri hutan. Jika begitu, mereka harus punya persediaan makan dan minum yang cukup. Bermodal badan, mereka melalui itu tahun demi tahun.

"Komunikasi kami terbatas. Kami tidak dikasih Handy Talky. Jika di hutan, kami harus teriak jika memanggil kawan," lanjut Rohim.

Wilayah Cagar Alam Terancam, 1.137 Pohon Ditanam di Nusakambangan

MMP ada di bawah naungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Cilacap. Keluhan sarana transportasi dan alat komunikasi MMP sudah didengar oleh Dedi Rusyanto, Polhut BKSDA Cilacap.

Ia mengatakan bahwa keluhan itu ia sudah sampaikan kepada BKSDA di tingkat Jawa Tengah. "Tugas yang berat dengan fasilitas yang minim itu sudah kami sampaikan. Sampai saat ini, kami masih menunggu realisasinya," kata Dedi.

Dedi mengamini bahwa Nusakambangan Barat seluas lebih dari lima hektare merupakan satu wilayah yang membutuhkan tenaga ekstra untuk memantau. Pasalnya, pembalakan liar sudah terjadi sejak lama dan kini sekitar 100 meter dari Bibir pantai Nusakambangan Barat sudah mulai gundul dan mendekati wilayah cagar alam di sekitar pantai Kalijati.

Bermodalkan jurus silat khas orang Kampung Laut, 10 orang penjaga hutan itu sudah lebih dari lima tahun terus menyusur pantai Nusakambangan Barat.

Wilayah Cagar Alam Terancam, 1.137 Pohon Ditanam di Nusakambangan

Dalam tugasnya, mereka pernah menangkap turis ilegal dari daerah Pangandaran dan mereka serahkan kepada Polisi Hutan. Selain itu, mereka juga pernah menangkap pemburu liar yang masuk ke wilayah cagar alam Nusakambangan Barat.

"Modal kami adalah badan. Kami cuma punya Silat Konto yang diajarkan turun temurun di Kampung Laut," kata Ngadiman (60), salah seorang MMP.

(Baca Juga: Wilayah Cagar Alam Terancam, 1.137 Pohon Ditanam di Nusakambangan)

Menjelang akhir tahun 2017 sore itu, matahari yang terbenam tidak nampak dari Pantai Kalijati karena tertutup awan hitam. Penjaga Hutan itu berjalan menyisiri pantai dan memandang ke selatan, seolah berharap awan hitam itu bukan pertanda muram bagi hutan Nusakambangan di tahun 2018.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini