Image

Ini Motif Intan Noviana Menulis Buku Balita yang Memuat Konten LGBT

Elva Mustika Rini, Jurnalis · Rabu 03 Januari 2018 16:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 03 65 1839488 ini-motif-intan-noviana-menulis-buku-balita-yang-memuat-konten-lgbt-4QMghe5jaw.jpg Intan Noviana (Foto: Elva Mustika/Okezone

JAKARTA – Penulis buku balita yang dinilai mengandung konten LGBT, Intan Noviana mengungkapkan motifnya dalam menulis kata ‘waria’ di Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rabu (3/1/2018).

Menurut Intan, kata itu diperkenalkan karena banyaknya konflik tidak menyenangkan dengan waria di Yogyakarta yang membuatnya kesal.

“Di benak saya tidak terpikir untuk pernikahan sejenis. ‘Opa bisa jadi Waria’ (terpikir karena) banyak konflik dengan waria di jalan. Misalnya, waria di Jogja mengganggu karena sering meminta uang secara paksa. Dari situ saya mengambil kata waria,” jelas Intan kepada Komisioner KPAI, Retno Listyarti.

Lebih jauh Intan menjelaskan, nama ‘Widia’ dalam kalimat ‘Widia bisa menikah Fifi’ mengacu pada ‘Widyatmoko’, sedangkan ‘Fafa’ dalam ‘Fafa merasa dia wanita’ adalah benar nama wanita, bukan seperti yang dituduhkan, yaitu padanan kata ‘Papa’.

(Baca juga: Hari Ini Penulis Buku Balita Memuat Konten LGBT Akan Datangi KPAI)

Tidak hanya konflik pribadi, Intan juga mengaku banyaknya kalimat yang telah ia gunakan di dalam buku-bukunya yang lain menjadi dorongannya mencari kata lain untuk suku kata ‘wa’, dalam hal ini waria.

“Buku saya banyak, saya menulis banyak buku. Dan saya menghindari satu kalimat yang sama di dalam buku. Jadi, ketika di buku yang lain sudah ada kalimat ‘Ibu wanita mulia’, ketika di buku yang lain sudah ada ‘Wanita selalu suka lelaki’, saya tidak akan menggunakan kalimat itu lagi. Sementara, saya mengenalkan suku kata ‘wa’ di setiap buku saya. ‘Wali’ sudah, sampai kepada ‘Walidi’ yang itu merupakan nama orang,” jelasnya di hadapan wartawan.

Terkait hal itu, Retno membenarkan adanya 9 buku yang telah Intan tulis dengan metode belajar serupa sehingga ia mengalami kehabisan kata. Jadi, konflik pribadinya dengan waria mempengaruhi dia dalam membubuhkan kata waria.

“Pada saat menulis, Bu Intan sedang kesal sama waria sehingga terpikirnya kata-kata seperti itu,” imbuh Retno.

Kendati demikian, memperkenalkan kata waria bagi Intan tidak salah. Sebab saat di jalan, Intan mengaku anak-anaknya sering bertanya ‘Apa itu waria?’. Ia merasa, memberi pemahaman ‘halus’ kepada anak itu diperlukan.

“Saya menjadi penulis itu dadakan, saya tidak ngeh sedang menjadi penulis. Saya menilainya seperti orang yang kesandung. Saya tidak ngeh bagaimana harusnya saya memilah dan memilih kata, yang jelas saya mikirnya begini waktu itu. Ketika Islam mengharamkan anjing, apakah kita tidak boleh mengenalkan anjing kepada anak-anak? Demikian juga dengan waria,” tukasnya.

Intan tetap meminta maaf atas kesalahannya yang tidak berpikir ulang dalam memasukkan kata tersebut untuk dikonsumsi masyarakat, khususnya anak-anak. “Ini menjadi pembelajaran bagi saya dan saya meminta maaf,” ujarnya.

Diketahui, buku ‘Balita Langsung Lancar Membaca’ yang terbit pada 2010 itu pernah dilaporkan karena masalah serupa pada 2011 dan 2012. Atas laporan tersebut, penerbit Pustaka Widyatama memastikan telah menarik buku tersebut dari peredaran. Hanya saja, banyak pihak yang telah terlanjur membeli buku tersebut sehingga wujudnya masih dapat dilihat.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini