Image

Kisah Boneka Lilli, Sang Nenek Moyang Barbie

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis · Jum'at 05 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 04 18 1840160 kisah-boneka-lilli-sang-nenek-moyang-barbie-IiFRZv6Swx.jpg Boneka Lilli. (Foto: Teadrinker CC By 2.0/Vintage News)

HAMPIR setiap perempuan tahu apa itu boneka Barbie. Boneka yang rupanya mirip perempuan cantik, berbadan langsing, lengkap dengan pakaiannya yang bisa diganti-ganti. Namun sedikit yang tahu, bahwa boneka Barbie yang populer itu terinspirasi dari karakter komik strip asal Jerman bernama Lilli.

Karakter Lilli diciptakan oleh seorang seniman asal Jerman, Reinhard Beuthien, pada 1952. Karakter yang begitu bangga dengan status perempuannya itu, dikenal lewat komik "Bild-Zeitung", di sebuah koran Hamburg.

Awalnya, Beuthien diminta untuk mengisi halaman kosong di koran tersebut. Ia pun mengajukan karakter bayi kecil lucu kepada bosnya. Namun si bos tidak setuju dengan ide tersebut.

Beuthien berpikir, bagaimana jika wajah bayi lucu itu tetap dipertahankan, tapi ditambah sebuah poni dan tubuh yang feminim. Benar saja, idenya langsung disetujui dan lahirlah Lilli.

 

Boneka Lilli. (Foto: Teadrinker CC By 2.0)

Meski terlihat cantik, Lilli dipresentasikan sebagai orang yang tidak sopan, lancang, materialisme, dan narsisme. Dalam komik itu, ia biasanya berdialog dengan bos, pacar, dan teman-teman wanitanya.

Karakter "matre" Lilli jelas terlihat di salah satu strip. Saat itu, ia ketahuan sedang telanjang di depan teman-temannya. Sambil menutupi tubuhnya, ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi.

"Aku baru saja bertengkar (dengan pacarku), lalu ia mengambil semua hadiah yang ia berikan," kata Lilli.

Di segmen lainnya, Lilli juga tak segan melawan bosnya yang marah padanya. Padahal saat itu ia datang terlambat ke kantor. "Seperti cara Anda memarahiku pagi ini, maka aku akan meninggalkan kantor pada pukul lima sore dengan licik!" bentak Lilli kepada bosnya.

Boneka Lilli. (Foto: Teadrinker CC By 2.0)

Karena keunikan kisahnya, komik itu pun laku di pasaran. Beuthien pun diminta menggambarnya setiap hari.

Beragam sindiran dan lelucon khas yang keluar dari Lilli pun semakin kuat sejak saat itu. Seperti saat ia melawan polisi yang melarangnya memakai bikini untuk berenang. "Bagian mana yang Anda ingin aku lepaskan?" kata Lilli menantang.

Sifatnya yang begitu narsis, bahkan membuat Lilli ingin menekuni dunia politik. "Tentu saja aku tertarik pada politik, semua orang memperhatikan bagaimana cara politisi berpakaian!"

Tidak cukup di situ, keindahan alam pun dijadikan alibi olehnya. "Matahari terbit memang sangat indah, sehingga aku selalu menginap di kelab malam untuk melihatnya!"

Karena banyaknya pembaca yang terhibur, pada 1953, surat kabar tersebut pun membuat wujud Lilli menjadi sedikit lebih nyata. Dalam bentuk boneka plastik, Lilli dijual dan laku di kalangan orang-orang dewasa.

Menukil Vintage News, Jumat (5/1/2018), boneka Lilli tersebar di pasaran bahkan bar-bar, yang besar 12 inci (30,48 cm) dan yang kecil 7,5 inci (19,05 cm). Boneka Lilli tampil cantik dengan kulit putih pucat, kuku dicat, wajah ber-make-up, bibir bergincu, alis lancip, dan mata melirik.

Menariknya, boneka-boneka Lilli memiliki bentuk kaki yang berbeda meski sama-sama menggunakan stiletto hitam. Berbanding terbalik dengan Barbie, memiliki kaki melengkung dengan jari kaki sempurna nan mungil.

 

Boneka Lilli. (Foto: Teadrinker CC By 2.0)

Meski begitu, tidak semua orang menyukai Lilli. Seorang penulis dan feminis, Ariel Levy, bahkan menyebut boneka karakter itu seperti mainan seks, dalam bukunya Female Chauvinist Pigs: Women and the Rise of Launch Culture. Apalagi pada 1950-an di Jerman, karakter Lilli menghiasi tembok-tembok klub malam di sana. Selain itu, boneka Lilli bukanlah karakter yang cocok untuk anak-anak.

Pada akhirnya anak-anak pun menyukainya. Pabrik mainan Jerman mendapat keuntungan besar semenjak saat itu. Mereka melengkapinya dengan menjual rumah boneka beserta perabotannya dan aksesoris mainan lainnya untuk Lilli kecil. Bahkan, sejumlah toko mainan di Eropa, termasuk Italia dan negara-negara Skandinavia, mengklaim boneka Bild Lilli sebagai mainan kelas atas.

Produksi boneka Lilli semakin menggila sejak produsen China dan Amerika Serikat meminatinya. Beberapa perusahaan mainan, terutama di Hong Kong, mulai memproduksi busana-busana yang cocok dikenakan boneka Lilli.

Hingga kemudian, hadirlah Ruth Handler. Ia pun menciptakan boneka Barbie, yang lalu diproduksi oleh perusahaan mainan Mattel.

 

Boneka Lilli. (Foto: Teadrinker CC By 2.0)

Kabarnya, pada 1956, boneka Lilli menarik perhatian putri Ruth yang berusia 15 tahun, Barbara, saat berlibur di Swiss. Ruth lalu membawa tiga boneka itu pulang ke California. Dia memodifikasinya dan mendesain ulang boneka itu, serta menamainya seperti anaknya, Barbie.

Pada 1959, Ruth meluncurkan Lilli versi Amerika di American International Toy Fair. Sejak saat itu, boneka Barbie begitu sukses bahkan merayakan 50 tahunnya pada 2009.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini