nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Macron Sindir Kebebasan Pers, Erdogan Tuduh Wartawan Suburkan Terorisme

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 06 Januari 2018 04:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 06 18 1840941 macron-sindir-kebebasan-pers-erdogan-tuduh-wartawan-suburkan-terorisme-1R99WSnG6n.JPG Presiden Prancis Emmanuel Macron menerima kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istana Elysee (Foto: Ludovic Marin/Reuters)

PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron menerima kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istana Elysee, Paris. Di hadapan koleganya, pria berusia 40 tahun itu mengatakan bahwa negara-negara demokratis harus menghormati supremasi hukum dalam menghadapi terorisme.

Macron mengatakan hal tersebut dalam rangka menyampaikan keprihatinan terhadap nasib para pelajar, guru, serta jurnalis yang ditahan di Turki. Ketua Partai Republik Bergerak (REM) itu mengaku terjadi perbedaan cukup tajam dengan Erdogan terkait pandangan mengenai hak asasi manusia (HAM).

“Demokrasi kita harus kuat berdiri melawan terorisme. Tapi, pada saat bersamaan demokrasi kita harus benar-benar menghormati supremasi hukum,” tukas Emmanuel Macron dalam pernyataan pers bersama, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (6/1/2018).

Erdogan membela diri dari sindiran Macron dengan mengatakan beberapa wartawan justru mendukung aksi terorisme lewat tulisan. Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu membandingkan para wartawan dengan seorang tukang kebun saat merawat tanaman.

“Teror tidak membentuk dirinya sendiri. Teror dan teroris punya seorang tukang kebun. Tukang kebun ini adalah orang-orang yang dipandang sebagai pemikir. Mereka menyiram dari kolom-kolom di media. Dan suatu hari nanti, Anda lihat saja, orang-orang ini akan muncul sebagai teroris di muka Anda,” ujar Recep Tayyip Erdogan.

Mantan Gubernur Istanbul itu memiliki pengalaman buruk dengan wartawan dari Prancis. Sebab, si jurnalis menuduh agen mata-mata Turki mengirimkan senjata ke Suriah. Erdogan justru menuding simpatisan musuhnya, Fethullah Gulen, yang mengirim persenjataan. Ia menuduh si wartawan itu berbicara seperti salah satu bagian dari kelompok teror.

BACA JUGA: Turki Perintahkan Penangkapan 42 Wartawan Terkait Upaya Kudeta 

Isu HAM menjadi pembahasan sensitif di Turki, terutama sejak upaya bersih-bersih usai kudeta militer yang gagal pada Juli 2016. Pihak berwenang di Turki telah memenjarakan puluhan ribu orang dan memberhentikan atau mencopot ratusan ribu orang dari pekerjaan mereka, termasuk pegawai negeri sipil dan kalangan akademisi.

BACA JUGA: Dituduh Dukung Pemberontak, Turki Penjarakan Wartawan Wall Street Journal

Media pun tidak luput dari aksi bersih-bersih itu. Menurut Asosiasi Wartawan Turki, sekira 150 media ditutup dan 160 orang wartawan dipenjara sebagai bagian dari upaya pembersihan tersebut.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini