Image

Maurice dan Katia Krafft, Pasutri yang Terobsesi pada Gunung Berapi

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 06 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 06 18 1840991 maurice-dan-katia-krafft-pasutri-yang-terobsesi-pada-gunung-berapi-InYXC3zkUA.jpg Katia dan Maurice Krafft, pasutri asal Prancis yang terobsesi akan gunung berapi (Foto: Vintage News)

KEINDAHAN alam merupakan misteri bagi umat manusia. Tidak sedikit manusia yang berupaya mengungkapkan rahasia-rahasia alam, tetapi harus meregang nyawa karena obsesinya tersebut. Salah satu obsesi manusia terhadap alam adalah gunung berapi yang begitu menarik tetapi sangat berbahaya.

Beberapa vulkanologi (ahli gunung berapi) tewas terbunuh karena erupsi, termasuk David A. Johnson, Harry Glicken, serta sepasang suami istri (pasutri) Maurice dan Katia Krafft. Johnson tewas oleh aliran piroklastik (bisa berupa gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan) akibat erupsi Gunung Santa Helena pada 1980.

Aliran piroklastik juga membunuh tiga nama berikutnya meski di tempat berbeda, yakni Gunung Unzen, Jepang. Harry Glicken serta Maurice dan Katia Krafft, bersama 40 orang lainnya yang sebagian besar adalah jurnalis, tewas akibat aliran piroklastik dari Gunung Unzen pada 1991.

Pasutri asal Prancis itu benar-benar tertarik pada gunung berapi. Bisa dikatakan ketertarikan itu sudah mencapai level kecanduan. Banyak orang mengklaim senang dengan gunung berapi, tetapi sedikit yang berani memanjat hingga ke bibir kawah serta mengabadikan detik-detik erupsi dan aliran lava.

Maurice dan Katia Krafft masuk dalam kategori pecinta gunung berapi yang sedikit itu. Pasutri tersebut tidak hanya dihormati oleh ahli gunung berapi di seluruh dunia, tetapi juga dicemburui.

“Mereka (gunung-gunung berapi) sangat kuat, sangat cantik, hingga membuat Anda jatuh cinta begitu saja,” tukas Katia Krafft dalam sebuah wawancara, mengutip dari Vintage News, Sabtu (6/1/2018).

Maurice dan Katia pertama kali bertemu saat sama-sama berkuliah di University of Strasbourg pada dekade 1960. Keduanya kemudian menikah pada 1970. Ternyata, Maurice dan Katia sama-sama terobsesi dengan gunung berapi sejak kecil. Menjelang lulus kuliah, keduanya meneguhkan hati untuk berkarier sebagai pengamat gunung berapi meski tidak memiliki uang.

Keteguhan hati itu dibuktikan dengan kerelaan membobol tabungan pribadi. Uang tersebut digunakan Maurice dan Katia untuk biaya perjalanan ke Gunung Stromboli guna meneliti erupsi. Mereka langsung dihormati karena berhasil mengambil foto-foto yang menakjubkan dan bernilai tinggi mengenai erupsi Gunung Stromboli dari jarak dekat.

Orang awam tentu saja sangat penasaran dengan foto-foto itu sementara pemerintah ingin menggunakan obsesi pasangan tersebut untuk kepentingan bersama hingga bersedia memberi dukungan finansial. Memulai dari nol, Maurice dan Katia kini sudah memiliki uang yang cukup untuk mendanai pekerjaan mereka.

Maurice dan Katia lantas mengunjungi ratusan gunung berapi di seluruh dunia. Mereka berkunjung dan merekam detik-detik erupsi, bahkan dari jarak paling dekat yang tidak pernah disentuh oleh manusia biasa.

“Saya ingin meninggal dunia di gunung berapi, dan sayangnya kemungkinan tersebut cukup rendah,” ujar Maurice Krafft suatu waktu.

Pekerjaan Maurice dan Katia sangat penting bagi pendidikan tentang gunung berapi. Sebagai contoh, rekaman erupsi Guning Nevado del Ruiz di Kolombia pada 1985 karya pasutri itu yang ditunjukkan kepada banyak orang di dunia, termasuk Presiden Filipina Cory Aquino. Lewat pelajaran itu, Cory memerintahkan evakuasi warga Filipina dari area gunung berapi demi keselamatan.

Selama 25 tahun berkarier, Maurice dan Katia berhasil mengabadikan ratusan gunung berapi. Hasil karya mereka berupa ribuan klise foto, 300 jam rekaman video, sejumlah buku, dan artikel sains yang diterbitkan dalam Bulletin of Volcanology.

“Saya tidak pernah takut karena sudah pernah melihat erupsi selama 23 tahun. Bahkan jika saya meninggal besok, saya tidak peduli,” ujar Maurice.

Pada Juni 1991, pasutri Krafft bersama vulkanologi Amerika Serikat (AS), Harry Glicken, dan 40 orang lainnya, berupaya merekam erupsi di Gunung Unzen, Pulau Kyushu, Jepang. Namun, aliran piroklastik yang tidak terduga terjadi hingga menewaskan 43 orang tersebut.

Penyelidikan mengungkapkan bahwa jenazah Maurice dan Katia berada paling dekat dengan bibir kawah. Keduanya meninggal dunia di usia 45 dan 44 tahun. Meski kematian keduanya adalah kehilangan besar bagi dunia sains, pasutri itu sudah mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, yaitu meninggal dunia di gunung berapi.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini