nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah "Tom si Buta", Budak yang Menjadi Pianis dengan Bayaran Termahal Sepanjang Abad 19

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis · Minggu 07 Januari 2018 08:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 06 18 1841166 kisah-tom-si-buta-budak-yang-menjadi-pianis-dengan-bayaran-termahal-sepanjang-abad-19-YixQonm5gz.jpg Tom Wiggins. (Foto: Vintage News)

"BLIND Tom" atau " Tom si Buta" adalah musisi ajaib yang lahir pada masa perbudakan 1850, di negara bagian Georgia, Amerika Serikat (AS). Sebagai orang berkulit hitam, yang pada masa itu dipandang rendah, Tom tampak tidak terlalu peduli dan hanya fokus pada suara dan musik di sekitarnya sehingga menjadi pianis dengan bayaran termahal sepanjang abad ke-19.

Tidak banyak yang diketahui mengenai pria dengan nama asli Thomas Wiggins itu. Dia tidak meninggalkan apapun di dunia, tidak ada kata-kata, tidak ada catatan, yang ada hanyalah kenangan di ingatan orang-orang. Dia dikenang sebagai seorang musisi jenius yang pernah tampil di Gedung Putih di depan Presiden AS, James Buchanan.   

Saat lahir, Thomas langsung dijual ke Jenderal James Neil Bethune, seorang pengacara dan editor sebuah surat kabar dari Georgia. Perilaku Thomas kecil yang buta saat itu sangat tidak biasa. Ia begitu bergairah mendengarkan beragam suara-suara, terutama dari piano. Ia pun bisa meniru suara binatang dan mengulangi dialog 10 menit lalu secara detil.

Bahkan, menurut beberapa sumber, Thomas mampu memainkan aransemen piano yang baru sekali didengarnya. Salah satunya milik anak perempuan Jenderal Bethune yang merupakan musisi berprestasi. Padahal saat itu Thomas baru berusia empat tahun.

Karena itu, Jenderal Bethune pun mengizinkan Thomas tinggal di rumah dan bebas bermain piano. Bocah ajaib itu semakin memukau karena dengan mudah meniru semua aransemen putri Bethune.

Pada usia lima tahun, Thomas berhasil menciptakan aransemennya sendiri dengan judul "The Rain Storm". Ia pun tampil di konser perdananya saat baru berusia enam tahun. Dia dipromosikan dengan berbagai macam julukan mulai dari “musikal anak ajaib” sampai “musisi tuna netra berbakat yang dapat meniru suara apa pun yang didengar.”

Namun Thomas julukan-julukan itu disebut berlebihan. Meski benar bahwa dia bisa meniru musik dengan nada-nada yang mudah dikenal seperti minstrel, waltz, atau polka, namun di kemudian hari dia mengalami kesulitan untuk memainkan concerto yang lebih rumit.

Di usia delapan tahun, Thomas yang kini dikenal dengan nama “Tom Buta” dipinjamkan kepada seorang promotor bernama Perry Oliver yang ikut melakukan tur keliling AS dan tampil empat kali sehari.  Dalam setahun, Blind Tom berhasil menjadi pianis termahal dengan penghasilan USD100 ribu (setara dengan 1,5 juta dolar AS pada 2004). Sayangnya, uang itu disalurkan ke promotor dan Jenderal Bethune karena ia masih berstatus sebagai seorang budak.

Sebagai seorang pria kulit hitam, perlakuan rasis juga masih diterima Tom. Ketika melakukan perjalanan ke selatan, Tom sering ditolak karena warna kulitnya.

Meski begitu, pada 1860, Blind Tom menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang diundang untuk tampil di Gedung Putih, menghibur Presiden James Buchanan. Dia juga tampil di depan Presiden Abraham Lincoln yang sempat secara serius mempertimbangkan untuk mendaftarkan Tom ke Union.

John Steinbeck dan Willa Cather, yang mengidolakan Blind Tom, menerbitkan buku soal bocah tersebut. Dalam bukunya, mereka menggambarkan Tom seperti fonograf manusia. Sementara Mark Twain, yang juga sering hadir dalam pertunjukan Tom, mengklaim anak itu adalah malaikat.

Namun banyak juga yang meragukan kemampuannya. Bahkan ada yang mengatakan, Blind Tom telah membodohi banyak orang karena hanya memanfaatkan ingatan untuk mengulang-ulang musik lama.

Di balik semua itu, Blind Tom sebenarnya tidak pernah menyadari dunia di sekitarnya. Bahkan tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Ia pun tidak sadar menjadi budak, atau orang Afrika-Amerika. Yang pasti adalah dia hanya menyukai musik dan piano. Hingga pengetahuan tentang autisme meningkat (lama setelah kematian Tom) barulah diketahui bahwa Tom adalah seorang penderita autis.

Di masa-masa akhir hidupnya, Tom tinggal jauh dari publik di New Jersey, bersama dengan Eliza Stutzbach, mantan istri dari putra Jenderal Bethune. Dia meninggal pada 1908 di usia 58 tahun.

Bagian yang paling menyedihkan adalah, tidak ada rekaman asli dari Blind Tom. Komposisi lagu Tom hanya bisa dinikmati setelah musisi lain membawakan dan merekamnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini