Mahasiswa Sulap Kulit Pohon Kesambi Jadi Deodoran, seperti Apa Ya?

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 09 Januari 2018 18:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 09 65 1842472 mahasiswa-sulap-kulit-pohon-kesambi-jadi-deodoran-seperti-apa-ya-h1dIeJwa5c.jpg Foto: Istimewa

SURABAYA - Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya Yudith Pratusi melakukan inovasi terhadap kulit pohon kesambi, yang merupakan tanaman lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi deodoran atau zat penghilang bau badan.

Yudith saat ditemui di kampus setempat, Selasa (9/1/2018) mengatakan, inovasi itu tercipta setelah dia menggali berbagai literatur selama satu tahun terkait pohon kesambi yang selama ini hanya dijadikan tanaman di pinggir jalan dan juga bahan bakar pengasapan.

"Saya cari informasi agak sulit tentang kesambi ini karena memang jarang penelitiannya. Tetapi ada riset tahun 2015 yang mengungkapkan adanya kandungan anti bakteri dalam kayu ini makanya bagus untuk pengasapan juga," kata Yudith.

(Baca juga: Soal USBN Esai, Siswa SMA di Bogor Kaget)

Dia mengungkapkan, pohon kesambi juga digunakan sebagai obat kulit yang sangat manjur oleh masyarakat setempat secara turun temurun. Dalam beberapa penelitian, cairan ekstrak dari kulit kayu kesambi mengandung dua jenis zat. Yaitu zat taraxerone dan zat tricadinenic acid A yang memiliki antimikroba dan antioksidan.

Karena manfaat anti bakterinya, Yudith berusaha memanfaatkannya sebagai deodoran yang mekanismenya digunakan menghambat bakteri di ketiak.

"Bau badan disebabkan oleh adanya pertumbuhan bakteri yang terdapat pada aksila (ketiak) yang mendegradasi sekresi dari kelenjar apokrin. Penanganan terhadap bau badan sendiri sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kepercayaan diri manusia," tutur mahasiswi yang sedang mengambil profesi apoteker ini.

Sebelum dijadikan deodoran, lanjut dia, diperlukan pembuatan ekstrak atau sari dari kulit kayu Kesambi. Kemudian hasil ekstrak tersebut perlu dilakukan formulasi dan evaluasi stabilitas pH pada deodoran yang mengandung ekstrak kulit kayu Kesambi. Tujuannya untuk mengetahui apakah produk tersebut sudah aman dipakai atau belum.

Yudith melakukan pengembangan pada enam formula sediaan deodoran dengan ekstrak etanol kulit kayu Kesambi yang kemudian diambil tiga formula terbaik untuk dievaluasi stabilitas PH.

"Bahan-bahan yang digunakan dalam formula tersebut adalah Carbopol 940 sebagai pembuat deodoran dengan menggunakan rentang safety dari BPOM, gliserin, etanol sebagai pelarut untuk menghasilkan zat yang diinginkan. Kemudian ada triethanolamine sebagai netralisir, DMDM hidantoin, dan ekstrak kulit kayu kesambi," kata mahasiswi angkatan 2013 itu.

Setelah itu, ketiga formula tersebut kemudian diuji stabilitas PH. Dari hasil formulasi dan evaluasi stabilitas, diambil satu formula deodoran yang mengandung ekstrak kulit kayu kesambi yang mempunyai PH stabil yang disesuaikan dengan PH kulit.

Juga dipilih kekentalan cairan yang tidak terdapat perubahan warna selama 30 hari penyimpanan dan memiliki kekentalan gel yang pas untuk digunakan.

"Formula yang saya buat sudah terbukti menghilangkan bakteri, namun perlu ada penelitian lanjutan jika ingin diproduksi massal terkait dengan jangka waktu deodoran ini membunuh kuman," ujarnya.

Menurutnya, ia tidak menemukan kesulitan dalam pembuatan deodoran. Hanya saja kesulitannya pada penentuan formula yang tepat, karena membutuhkan berbagai pengujian.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini