Image

Kisah Nelangsa Para Penulis di Masa Uni Soviet

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 10 18 1842948 kisah-nelangsa-para-penulis-di-masa-uni-soviet-QslGcpEJ3Z.jpg Foto: Nrkita CC. By-SA 4.0

EKSPRESI politik menentang penguasa Uni Soviet berlangsung sejak 1800-an. Tindakan propaganda lewat buku, seni, dan musik pun dilakukan. Namun semua itu tidak ada gunanya jika Persatuan Republik Sosialis Soviet (Bolshevik) melakukan penyensoran.

Akibat penyensoran karya sastra dan seni tersebut, banyak penulis dan seniman terpaksa turun ke bawah tanah untuk mempublikasikan karya mereka.

Setiap publikasi di Uni Soviet ditandai dengan kata "gosizdat," yang berarti "diterbitkan oleh negara", untuk meyakinkan pembaca bahwa materi mereka telah disetujui oleh negara.

Sementara itu, para penulis independen bawah tanah mengkategorikan karya mereka sebagai samizdat, yang artinya "diterbitkan sendiri". Sementara untuk karya-karya selundupan, mereka menamainya tamizdat yang artinya "diterbitkan di sana".

Karya-karya tidak hanya datang dari para seniman melainkan warga juga. Karya-karya itu ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti karya musik, tulisan politik, religi, novel, hingga puisi. Karya-karya seni dan sastra di bawah tanah itu selalu disortir agar sepemikiran.

Soal keamanan, mereka biasanya menyembunyikan karya-karya puisi di sepatu, tempat tidur, dan perabotan rumah tangga. Sementara untuk rekaman musik, ditranskripsikan ke film sinar-X yang lalu dijual di pasar gelap.

Biasanya, promosi dilakukan dengan gaya "rantai surat", atau gaya yang membuat penerima pertama diberi tugas membuat beberapa salinan agar bisa menjualnya ke orang lain. Demikian seterusnya sehingga akan banyak salinan yang didistribusikan. Masalahnya, proses pembuatan salinan dengan tulisan tangan atau menggunakan kertas karbon berisiko menyebabkan perubahan yang tidak diketahui penulis asli.

Para seniman biasanya menjual karya yang tidak ditandatangani atau memakai nama pena saat menulis. Selain itu, mereka juga memanfaatkan mikrofilm untuk mengabadikan tulisannya. Lalu menyelundupkan mikrofilm itu ke luar Uni Soviet untuk dipublikasikan, dan hasilnya diselundupkan masuk kembali sehingga akan sulit dilacak. Novel "Doctor Zhivago" karya Boris Pasternak dipublikasikan di Italia dengan cara ini.

Untuk diketahui, pemerintah Uni Soviet memegang daftar mesin tik yang dimiliki masyarakatnya. Mereka juga memantau penjualan kertas. Dengan begitu, pemerintah bisa mengendalikan setiap tulisan yang terbit.
 
Sebuah kelompok yang disebut Acmeists pun muncul selama pemerintahan Bolshevik itu. Mereka, yang merupakan para penulis bawah tanah, mengecam penggunaan simbol hanya untuk karya-karya yang dinilai legal.

Osip Mandelstam, merupakan salah satu penyair lainnya yang memberontak. "Kamen" adalah karya pertamanya yang terbit pada 1913 dan membawanya meraih penghargaan dari penyair Rusia yang mapan.

Ketika kaum Bolshevik berhasil mengubah Rusia menjadi negara komunis, semakin banyak penulis yang bergabung dalam gerakan bawah tanah itu. Pada 1922, Mandelstam menerbitkan karya lainnya berjudul "Tristia". Karya itu semakin menegaskan posisinya sebagai pemberontak.

Ia pun dikucilkan beberapa temannya dan dilabeli ancaman negara. Hal itu memang sesuatu yang biasa bagi para seniman. Bahkan, ada yang dideportasi, diasingkan, atau dieksekusi.

Soviet akhirnya mengkampanyekan pentingnya literasi yang legal. Para pejabat pun mencoba menjadi pelindung bagi para penulis anonim itu dengan alasan tulisan mereka bisa menghasilkan uang. Namun hal itu tidak mempengaruhi para penulis hingga Stalin mengambil alih pemerintahan.
Mandelstam tetap setia pada kepercayaannya dan tetap mendapat dukungan dari istrinya, Nadezhda. Ia masih menerbitkan buku saat itu, bahkan dengan gaya bahasa anak-anak. Tidak hanya novel, ia juga menulis sebuah puisi yang mengecam Stalin bersama anti-Stalinisme yang dibentuknya.

Mandelstam juga sempat dikhianati oleh salah satu anggota kelompoknya dan ditangkap pada Mei 1934. Ia dipenjara dan dipaksa mengungkapkan nama-nama setiap orang yang telah mendengar puisi tersebut. Akibat depresi berat, Mandelstam pun dirawat di rumah sakit. Begitu tertekan, ia sempat berusaha bunuh diri dan dikirim ke rumah sakit lain tempat ia melakukan pemulihan.




Setelah menjalani hukumannya, Mandelstam dan istrinya kembali ke Moskow. Di sana, ia hanya melihat seluruh harta bendanya telah disita.

Sepasang kekasih itu pun bergantung pada teman-temannya. Mandelstam begitu tertekan dan stres sehingga mengajak istrinya untuk bunuh diri. Namun Nadezhada menolaknya.

Pada 1970, memoar Nadezhada terbit dengan judul, "Hope Against Hope". Dalam memoarnya itu, ia menyesal menolak bunuh diri sebelum suaminya dikhianati oleh penulis lain, ditangkap, dan dikirim ke sebuah kamp kerja paksa yang membuat suaminya itu meninggal akibat gagal jantung pada 1938.

Memoar Nadezhda kedua pun terbit dengan judul "Hope Abandoned" pada 1974, yang masih harus diterbitkan di luar Uni Soviet. Ia begitu dikucilkan saat itu, bahkan saat sudah meninggal. Jenazahnya ditahan agar penguburan secara agama tidak dilakukan. Baru setelah para penulis Rusia mengajukan protes, ia baru bisa dimakamkan dengan tepat.

Ketekunan Nadezha itulah yang membuat karya-karya Mandelstam diselamatkan dan diterbitkan pada 1970-an, meski masih di luar Uni Soviet. Ia kini dianggap salah satu penyair terhebat pada zamannya dan karyanya sangat populer di Rusia juga dunia.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini