nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Korsel Desak Jepang Minta Maaf kepada Mantan Wanita Penghibur PD II

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Rabu 10 Januari 2018 17:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 10 18 1843002 presiden-korsel-desak-jepang-minta-maaf-kepada-mantan-wanita-penghibur-pd-ii-13VWcNY046.JPG Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mendesak Jepang meminta maaf secara tulus kepada wanita penghibur korban kekejaman Perang Dunia II (Foto: Kim Hong-ji/Reuters)

SEOUL – Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, mendesak agar Jepang menerima fakta sejarah dan meminta maaf secara tulus kepada para bekas wanita penghibur. Ia yakin cara tersebut dapat menyelesaikan perseteruan jangka panjang yang terjadi antara dua negara bertetangga itu.

BACA JUGA: Isu Wanita Penghibur Kembali Bikin Korsel-Jepang Tegang 

Pria berusia 64 tahun itu sekali lagi menegaskan bahwa kesepakatan yang dicapai antara pemerintah Jepang dan Korea Selatan pada 2015 bertujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut sekali dan selamanya dengan cara yang salah. Sebab, penyelesaian itu tidak menimbang suara para korban.

“Pada dasarnya, isu wanita penghibur harus diselesaikan sesuai prinsip kebenaran dan keadilan. Saya pikir para korban akan memaafkan dan isu ini akan selesai sepenuhnya ketika Jepang menerima fakta, meminta maaf secara tulus kepada para korban, mengambil pelajaran, dan bekerja sama dengan komunitas internasional dalam mencegah hal tersebut terulang,” tukas Presiden Moon, melansir dari Yonhap, Rabu (10/1/2018).

“Itu cara yang tepat memecahkan isu. Saya tidak yakin bahwa persoalan ini dapat selesai dengan jalan memberi-menerima antara kedua pemerintah dengan korban yang tidak disertakan dalam proses (mencapai kesepakatan),” sambung mantan pengacara itu.

Sesuai kesepakatan yang tercapai pada 28 Desember 2015, kedua negara setuju untuk menyelesaikan isu wanita penghibur untuk ‘sekali dan tidak bisa dibatalkan’. Tokyo meminta maaf atas perilakunya pada masa Perang Dunia II dan berjanji memberikan dana bantuan sebesar 1 miliar yen (setara Rp119 miliar) sebagai ganti rugi kepada korban.

BACA JUGA: Peneliti Korsel Rilis Bukti Pertama Video Budak Seks Jepang 

Kesepakatan itu dikritik oleh para korban dan pembela kemanusiaan. Jepang diklaim tidak secara tulus meminta maaf dan pemerintah Korea Selatan tidak sama sekali berkonsultasi dengan mereka terlebih dahulu. Sejumlah korban pun meminta agar dilakukan negosiasi ulang atau bahkan kesepakatan dibatalkan.

Pemerintah Korea Selatan di bawah Presiden Moon Jae-in sudah meninjau ulang kesepakatan yang dicapai di era Presiden Park Geun-hye itu. Mereka menyimpulkan bahwa pemerintah Korea Selatan saat itu gagal melakukan upaya yang memadai untuk merefleksikan pandangan serta opini para korban.

Meski demikian, pemerintah Korea Selatan mengumumkan sikap untuk tidak mengubah sama sekali isi perjanjian atau melakukan negosiasi ulang. Negeri Ginseng justru berjanji untuk menghimpun sendiri pendanaan untuk membantu para korban menyembuhkan luka serta memulihkan harga diri, tanpa menggunakan uang yang sudah dikeluarkan Jepang.

“Yang terpenting, kita memerlukan tindakan untuk menyembuhkan luka korban dan menghibur hati mereka. Tetapi, tidak dapat diterima bahwa usaha semacam itu telah dilakukan dengan uang sumbangan Jepang berdasarkan kesepakatan yang tidak mereka (para korban) terima. Kita akan memulihkan korban dengan uang sendiri,” tegas Moon Jae-in.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini