Image

Peneliti IPB Temukan Potensi Belatung sebagai Pakan Ternak

Elva Mustika Rini, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018 09:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 10 65 1842801 peneliti-ipb-temukan-potensi-belatung-sebagai-pakan-ternak-N8bBxkPbR0.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA – Indonesia masih mengalami kendala dalam penyediaan Meat Bone Meal (MBM) atau tepung daging sebagai bahan baku pakan ternak. Saat ini, kebutuhan MBM disediakan dengan cara mengimpor 800 ton MBM setiap hari, sehingga harganya jadi lebih mahal.

Meski pernah menggunakan tepung ikan sebagai MBM, nyatanya, kualitas tepung ikan yang dihasilkan Indonesia dinilai kurang baik. Tidak hanya itu, kendala juga dirasakan mayoritas masyarakat muslim di Indonesia bila harus memproduksi MBM dengan bahan baku lain, seperti babi.

“Indonesia masih belum bisa memproduksi MBM, karena bahan baku pembuatan MBM dari mamalia termasuk babi juga menjadi masalah bagi peternak muslim di Indonesia. Oleh karena itu, pengganti pakan alternatif untuk menggantikan MBM, seperti belatung, sangat dibutuhkan,” jelas Guru Besar Fakultas Peternakana (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Nahrowi, seperti dilansir dari laman IPB, Minggu (13/1/2018).

(Baca juga: Institut dan Sekolah Tinggi Swasta Didorong untuk Merger Jadi Universitas)

Menurut Prof. Nahrowi, belatung atau larva lalat jens Black Soldier Fly (BSF) sangat cocok untuk mengganti MBM sebagai pakan ternak sebab memenuhi beberapa kriteria, yaitu nilai gizi yang cukup, harga bersaing, dan ketersediaan yang banyak. Tidak hanya itu, ketidakmampuan lalat BSF dalam membawa penyakit juga menjadi salah satu alasan dipilihnya belatung jenis in sebagai bahan baku pengganti MBM.

Penelitian yang dilakukan Prof. Nahrowi ini bertujuan untuk menjadikan belatung sebagai alternatif pengganti MBM, menghasilkan lalat BSF bisa menghasilkan 500 belatung dalam sekali reproduksi. Dengan begitu, Indonesia tak perlu lagi menguras dana untuk melakukan impor.

Perumusan protein konsentrat, lemak, dan chitin dari belatung masih berlangsung hingag kini. Hal ini dilakukan untuk lebih merampingkan dan mengoptimalkan sumber nutrisi pakan ternak dari belatung. Ke depan, Prof. Nahrowi berharap penelitiannya dapat bermanfaat bagi orang banyak.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini