Trump Didesak Tidak Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran

ant, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 09:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 11 18 1843751 trump-didesak-tidak-jatuhkan-sanksi-baru-ke-iran-6w2XAHZXs3.jpg Presiden AS Donald Trump (Foto: Jonathan Ernst/Reuters)

WASHINGTON - Sejumlah petinggi kabinet Amerika Serikat (AS) mendesak agar Presiden Donald Trump tidak kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran pada pekan ini. Jika sanksi baru dijatuhkan, maka Kesepakatan Nuklir Iran yang dicapai pada 2015 secara efektif akan berakhir. 

Pada Rabu, dua sumber pemerintahan mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah pejabat setingkat menteri koordinator mendesak presiden agar tidak menjatuhkan kembali sanksi, yang dicabut seusai penandatanganan kesepakatan nuklir. Namun, Trump menyatakan keberatan untuk menjalankan saran itu, kata sumber.

Presiden Amerika Serikat diwajibkan memeriksa secara berkala kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir dan kemudian memutuskan apakah sanksi terhadap Teheran diberlakukan kembali atau tidak. Tenggat pemeriksaan berkala itu jatuh pada Jumat (12/1/2018). 

Trump masih akan merundingkan keputusan finalnya bersama dengan para anggota kabinet bidang keamanan. Meskipun Trump memutuskan bahwa Iran patuh terhadap kesepakatan 2015, pemerintahannya akan tetap menjatuhkan sanksi baru dengan target sejumlah tokoh dan perusahaan negara itu.

Trump memang sering memprotes kesepakatan bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang diprakarsai oleh presiden sebelumnya, Barack Obama, karena dinilai merugikan Amerika Serikat.

JCPOA disanjung Obama karena menjadi kunci untuk menghentikan pengembangan senjatan nuklir oleh Iran, dengan imbalan pencabutan sejumlah sanksi. Kesepakatan ini juga ditandatangani oleh China, Prancis, Rusia, Inggris, Jerman, dan Uni Eropa.

Iran mengaku hanya mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Namun, mereka mengancam akan menarik diri dari JCPOA jika Washington kembali menjatuhkan sanksi.

Pada Oktober, Trump memutuskan menyatakan bahwa Iran tidak mematuhi kesepakatan nuklir. Dia menuding Teheran "tunduk pada inti semangat" JCPOA meskipun badan atom internasional menyatakan sebaliknya.

Salah seorang sumber Reuters mengatakan bahwa keputusan penjatuhan sanksi kembali akan membuat Amerika Serikat melanggar perjanjian.

Beberapa anggota garis keras Kongres dari Partai Republik menginginkan sanksi diberlakukan kembali dan menghentikan kesepakatan nuklir dengan Iran. Namun, Partai Demokrat berupaya mengesahkan undang-undang, yang mempersulit Amerika Serikat keluar dari JCPOA.

(rav)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini