Jepang Tolak Beri Bantuan Lebih Banyak untuk Perempuan Penghibur Korsel

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 15:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 12 18 1844053 jepang-tolak-beri-bantuan-lebih-banyak-untuk-perempuan-penghibur-korsel-JcSa8Nd1QD.jpg PM Jepang Shinzo Abe. (Foto: Reuters)

TOKYO - Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe, menolak permintaan Korea Selatan membuat langkah lebih untuk membantu perempuan korban budak seks para anggota tentara Jepang di kamp-kamp militer pada Perang Dunia II. Negeri Matahari Terbit juga mendesak Negeri Ginseng untuk menghormati sebuah perjanjian yang disepakati pada 2015.

“Kesepakatan pada 2015 adalah sebuah janji antara kedua negara. Menjaga janji ini adalah prinsip internasional dan universal. Kami tidak dapat menerima tuntutan unilateral Korea Selatan untuk tindakan tambahan," kata PM Abe kepada wartawan, dilansir dari Reuters, Jumat (12/1/2018).

BACA JUGA: Perempuan Korsel Korban Budak Seks Militer Jepang Meninggal Dunia

Jepang dan Korea Selatan memiliki sejarah pahit yang mencakup kolonisasi Jepang di Semenanjung Jepang pada 1910-1945 dan isu "wanita penghibur" yang sangat sensitif. Korea Selatan mengatakan bahwa kesepakatan 2015, yang dibuat pada masa pemerintahan pendahulu Presiden Moon Jae-in, Park Geun-hye, telah gagal memenuhi kebutuhan korban dan menyelesaikan perseteruan tersebut.

"Kami tulus dalam menjalankan setiap janji yang kami buat. Kami ingin terus meminta Korea Selatan melakukan hal yang sama," tambah PM Abe.

Seoul tidak menegosiasikan kembali kesepakatan yang kedua belah pihak katakan sebagai "sebuah akhir dan tidak dapat diganti". Berdasarkan kesepakatan tersebut, Jepang kembali meminta maaf dan menjanjikan dana sebesar 1 miliar yen atau Rp120 miliar untuk membantu para perempuan korban budak seks. Namun Korea Selatan kembali mendesak Jepang untuk mengambil langkah tambahan, termasuk kembali meminta maaf.

BACA JUGA: Isu Wanita Penghibur Kembali Bikin Korsel-Jepang Tegang

Laporan media Jepang mengatakan Abe mungkin tidak menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, pada Februari karena perseteruan tersebut, meski juru bicara pemerintah mengatakan tidak atau hadirnya Abe masih belum diputuskan.

Hubungan Jepang dan Korea Selatan memang diketahui mengalami pasang surut akibat permasalahan budak seks tersebut. Sebab, selama masa penjajahan Jepang di era Perang Dunia II, ratusan ribu perempuan Korea dipaksa bekerja di rumah-rumah bordil milik militer Jepang untuk memuaskan nafsu para tentaranya.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini