Image

60 Ribu Anak Rohingya Terisolasi di Kamp Rakhine

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 18:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 12 18 1844248 60-ribu-anak-rohingya-terisolasi-di-kamp-rakhine-SGZnf968Kn.jpg Seorang anak Muslim Rohingya harus bekerja di kedai kopin karena terpisah dengan keluarganya. (Foto: Reuters)

YANGON - Sebanyak 60 ribu anak-anak dalam kondisi mengerikan di kamp-kamp pengungsi di negara bagian Rakhine, Myanmar. Hal tersebut disampaikan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak-anak (UNICEF).

Juru bicara UNICEF, Marixie Mercado, mengatakan bahwa mata dunia terlalu tertuju dengan pengungsi Rohingya yang berada di Cox's Bazar, Bangladesh, tempat di mana lebih dari 650 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri sejak 25 Agustus 2017. Namun banyak yang lupa jika ada populasi besar yang "hampir terlupakan" di pusat kamp yang berada di Rakhine.

BACA JUGA: Militan Rohingya Sebut Tak Punya Pilihan Kecuali Melawan Pasukan Myanmar

"Anak-anak Rohingya yang tinggal di daerah perdesaan hampir semuanya terisolasi. Kami mendengar tingginya tingkat ketakutan pada anak-anak dari komunitas Rohingya dan Rakhine," kata Mercado, dilansir Asia Correspondent, Jumat (12/1/2017).

Sementara UNICEF telah merawat sekira 4.800 anak-anak karena malnutrisi akut sebelum pecahnya kekerasan di Rakhine pada 25 Agustus 2017. Para pekerja kemanusiaan sekarang tidak dapat mengakses daerah tersebut. Pusat medis lembaga tersebut telah dijarah dan dihancurkan.

Selain itu, sekira 100 anak telah terpisah dari keluarga mereka dan tidak dapat menuju Rakhine Utara untuk dipertemukan kembali. Hal tersebut mencerminkan pembatasan keras terhadap kebebasan bergerak di wilayah tersebut.

BACA JUGA: Militan Rohingya Klaim Telah Lakukan Penyerangan terhadap Pasukan Keamanan Myanmar

Amnesty Internasional pun mengeluarkan suaranya dan mengatakan bahwa Myanmar bertanggung jawab atas serangkaian pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Rohingya yang masih berada di Negara Bagian Rakhine, termasuk penolakan hak atas kewarganegaraan, pembatasan ekstrem tentang kebebasan bergerak, serta pelanggaran hak-hak ekonomi dan sosial yang luas.

BACA JUGA: Militer Myanmar Akui Membunuh 10 Orang Etnis Rohingya

"Anak-anak Rohingya membutuhkan solusi politik untuk masalah identitas hukum dan kewarganegaraan. Untuk sementara, mereka perlu diakui terlebih dahulu, terutama sebagai anak-anak," ujar Mercado, menambahkan bahwa UNICEF siap membantu pelaksanaan rekomendasi dari Komisi Penasehat Negara Bagian Rakhine.

"UNICEF siap mendukung karya krusial ini. Dan kami memanggil komunitas global, terutama organisasi regional dan negara, untuk memanfaatkan pengaruhnya sehingga anak-anak memiliki kehidupan yang lebih baik hari ini dan masa depan yang dapat mereka harapkan," tukas Mercado.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini