Image

Tiga Tentara Ukraina Tewas dalam Bentrokan dengan Kelompok Pro-Rusia

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 21:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 12 18 1844275 tiga-tentara-ukraina-tewas-dalam-bentrokan-dengan-kelompok-pro-rusia-reCBmSWzIW.jpg Konflik di Ukraina. (Foto: Reuters)

KIEV - Ukraina dan separatis pro-Rusia saling menuduh telah meningkatkan serangan dalam konflik mereka karena pihak Ukraina melaporkan tiga tentara tewas dalam pertempuran terburuk pada 2018. Selain tiga orang tentara yang tewas, tiga lainnya juga terluka dalam pertempuran dalam 24 jam terakhir, kata juru bicara militer Ukraina, Oleksander Motuzyanyk.

Dilansir dari Reuters, Jumat (12/1/2018), sebuah pemberontakan yang dipicu oleh pro-Rusia meletus di timur industri Ukraina pada 2014 dan pertumpahan darah berlanjut hingga kini meski ada kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Jerman, Prancis, Rusia, dan Ukraina. Lebih dari 10 ribu orang tewas dalam konflik tersebut. Setiap harinya terdapat laporan korban tewas.

BACA JUGA: Rusia Keberatan AS Pasok Senjata ke Ukraina

"Pihak separatis secara lebih sinis dan berani meningkatkan intensitas dan kerapatan penembakannya," kata Motuzyanyk dalam sebuah briefing yang disiarkan lewat televisi.

Motuzyanyk juga mengatakan bahwa salah satu prajurit tewas ditembak oleh separatis di dekat desa Novoluhanske yang dikuasai oleh pemerintah. Sedangkan pada Kamis 11 Januari dini hari, seorang saksi di Novoluhanske melihat tentara Ukraina menembakkan artileri ke posisi pemberontak sebagai respons terhadap serangan tersebut.

BACA JUGA: Tak Ada Pertanda Tentara Rusia Ditarik dari Ukraina 

"Sudah jelas kita tidak tahan dengan hal-hal yang telah dilakukan oleh pihak musuh," ungkap seorang komandan artileri dalam sebuah kelompok milisi pro-Ukraina.

Berdasarkan Perjanjian Damai Minsk 2015, semua senjata berat akan ditarik. Namun pemantau gencatan senjata berkali-kali melaporkan bahwa terdapat pelanggaran terhadap perjanjian tersebut dan persyaratan lain dari kesepakatan.

Dalam upaya untuk mengakhiri kebuntuan, masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat, telah meminta pengerahan pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah Donbass. Baik Kiev dan Moskow mendukung gagasan tersebut namun tidak setuju mengenai pasukan tersebut diposisikan di bagian perbatasan Ukraina-Rusia.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini