Buku yang Kesepian

Sucipto Cipto, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018 12:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 14 512 1844686 buku-yang-kesepian-5hTrc2rfYY.jpg Lanny Purnomo terduduk sambil menjaga buku di tempat penyewaan bukunya di Purwokerto (Foto: Sucipto/Okezone)

PURWOKERTO - Bau kertas terasa sekali ketika memasuki taman persewaan buku "Lucky" di Jalan Vihara Nomor 7 Pasar Wage, Purwokerto, Jawa Tengah. Sebanyak 4.000 buku dengan berbagai macam jenis tersusun dalam 4 rak besar.

Suasana persewaan buku itu sepi di awal tahun baru 2018. Lanny Purnomo (67), sang pemilik persewaan buku bilang bahwa penjaga toko sedang tidak masuk, jadi hanya ia seorang yang ada di toko.

Bagi Lanny, buku adalah sahabat setia dalam kesunyian. Di lain kesempatan, buku bisa jadi pelipur lara dan obat hati yang duka. Ketika sekolah di SMAN 1 Purwokerto, Lanny membaca kisah-kisah keluarga yang ditulis sastrawan NH Dini untuk melupakan kesenduan hidupnya.

Sejak saat itu, buku tidak bisa lepas dari hidup Lanny. Setelah lulus SMA, ia yakin memilih jurusan untuk melanjutkan kuliah. "Saya ambil kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan di Universitas Indonesia," katanya.

Lanny berpikir, jika menjadi pustakawan, ia bisa bergumul dengan buku setiap hari di perpustakaan. Buku apa saja bisa ia temui di tumpukan buku yang baginya adalah surga dunia itu.

Setelah lulus kuliah, impian Lanny bekerja bersama tumpukan buku terwujud. Ia diterima bekerja sebagai pustakawan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Di sana, ia bekerja di Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan.

Meski sudah bekerja sebagai pustakawan, Lanny tidak berhenti membeli buku. Setiap bulan ia sempatkan untuk berkunjung ke toko buku loak atau toko buku modern. Tapi ia lebih menikmati belanja buku di toko buku loak.

"Lebih murah dan banyak pilihan kalau di toko buku loak," katanya.

Alhasil, selama 15 tahun menjadi pustakawan di UKSW, koleksi buku Lanny semakin banyak. Tahun 1980-an akhir, Lanny purnatugas dan memilih kembali ke Purwokerto.

"Setelah purnatugas, buku-buku yang saya punya saya karyakan daripada tidak terbaca," kata Lanny.

Ia kemudian memanfaatkan bangunan milik keluarganya yang berbatasan langsung dengan keramaian Pasar Wage sebagai taman persewaan buku dan majalah. Buku ia tata sesuai nama pengarang agar mudah ditemukan oleh pembaca.

Salah satu koleksinya yang paling lengkap adalah cerita silat karya Kho Ping Hoo. Satu rak buku dipenuhi cerita silat yang legendaris itu. Buku ini banyak dipinjam di era 80an hingga 90an.

Jumlah Penyewa yang Kian Menurun

Di era 80-90an, jumlah peminjaman buku di tempatnya berkisar antara 70-100 buku dalam sebulan. Cerita silat dan novel cinta terjemahan menjadi favorit remaja kala itu.

Namun pasca reformasi, Lanny merasakan taman persewaan buku semakin sepi pengunjung. Ia memperkirakan karena internet sudah mulai muncul di Indonesia.

Saat ini, dalam sebulan rata-rata hanya 10 buku yang dipinjam di persewaan buku milik Lanny. Harga sewa buku di sana rata-rata 10% dari harga buku. Untuk cersil Kho Ping Hoo harga sewa per minggunya Rp 1.000. Sedangkan untuk novel terjemahan antara Rp 1.000 - 6.000 sesuai harga beli buku.

Meski begitu, dari sedikit peminjam buku itu acap kali ada yang tidak mengembalikan buku. Lanny sudah paham risiko itu dan merelakan buku-buku yang tidak kembali.

"Anggap saja zakat fitrah. Beramal lewat buku," kata Lanny tertawa.

Sambil menikmati usia senjanya, kini Lanny tidak menggantungkan hidup dari persewaan buku. Ia menjual es batu, koran bekas dan pulsa. Orang di sekitar pasar adalah pelanggannya.

Meski begitu, selama masih hidup ia bertekad tetap membuka taman persewaan buku itu. Karena baginya, akses buku murah selalu dibutuhkan kapan saja. Ia ingin memfasilitasi ruang itu di tengah gempuran derasnya informasi. Ia yakin buku-buku yang kesepian itu akan menemui pembacanya lewat jalan yang ia lakoni.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini