Image

Adu Mulut karena Tinggalkan Pelajaran, Murid di Pakistan Tembak Mati Kepala Sekolah

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Selasa 23 Januari 2018 17:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 23 18 1849134 adu-mulut-karena-tinggalkan-pelajaran-murid-di-pakistan-tembak-mati-kepala-sekolah-Wgk5znYN56.jpg Ilustrasi. (Foto: Dokumen Okezone)

ISLAMABAD - Seorang siswa di Pakistan harus berurusan oleh pihak yang berwenang akibat tindakannya menembak mati kepala sekolahnya. Penembakan tersebut diawali dengan perselisihan akibat sang siswa tidak mengikuti beberapa mata pelajaran untuk mengikuti aksi demo yang mendukung sebuah undang-undang penistaan agama di negara tersebut.

Menurut keterangan kepala kepolisian setempat, Zahoor Afridi, kepala sekolah swasta Islamia College yang bernama Sareer Ahmad, beradu argumen dengan salah satu siswanya karena meninggalkan beberapa mata pelajaran. Murid sekolah yang terletak di utara Charsadda tersebut mengacungkan pistol lalu menembak kepala sekolah tersebut.

BACA JUGA: Kota di Pakistan Membara Akibat Kasus Pembunuhan Gadis Cilik

Afridi juga mengatakan bahwa siswa yang tidak disebutkan namanya itu telah menghadiri sebuah pertemuan yang diadakan oleh sebuah partai politik ultra-religius baru, Tehreek-e-Labaik, akhir tahun lalu untuk menentang perubahan kecil dalam sebuah undang-undang pemilihan, yang menurutnya merupakan bentuk penistaan agama.

Aksi demonstrasi tersebut, yang membuat lalu lintas Islamabad macet, berakhir dengan bentrokan antara polisi dan demonstran yang menewaskan tujuh orang dan melukai lebih dari 200 orang. Hal ini juga menyebabkan pemerintah mundur dan menerima pengunduran diri seorang menteri yang dituduh melakukan penistaan.

BACA JUGA: Dua Warga Sipil di Pakistan Tewas dalam Aksi Unjuk Rasa Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan

"Jelas sekarang dia mengatakan bahwa (kepala sekolah) melakukan penistaan. Ini adalah insiden yang sangat disayangkan," ungkap Afridi, dilansir dari Reuters, Selasa (23/1/2018).

Polisi telah menahan siswa yang masih berusia 17 tahun tersebut. Sang siswa pun mengakui tindakannya itu dan merasa hal tersebut adalah tindakan yang benar.

"Saya melakukan pembunuhan ini dan saya menerimanya. Tindakan tersebut diperintahkan oleh Tuhan, " kata siswa tersebut.

Hukum di Pakistan menyatakan bahwa penghina nabi akan dihukum mati. Tuduhan penistaan agama terhadap satu sama lain pun membangkitkan emosi sedemikian rupa. Bahkan rumor penistaan bisa memicu kekerasan massal.

BACA JUGA: Tak Minta Izin Tetua, Pengantin Baru di Pakistan Dibunuh Keluarga Sendiri

Terjadi kemarahan yang meluas di Pakistan pada April 2017 ketika seorang mahasiswa, Mashal Khan, dipukuli sampai tewas di universitasnya di Mardan menyusul debat asrama tentang agama. Polisi menangkap 57 orang, termasuk mahasiswa dan beberapa anggota fakultas, sehubungan dengan pembunuhan tersebut.

Setidaknya ada 67 pembunuhan atas tuduhan penistaan agama yang tidak terbukti sejak 1990. Pada 2011, seorang pengawal membunuh gubernur provinsi Punjab Salman Taseer setelah dia meminta undang-undang penistaan agama direformasi. Pembunuh Taseer, yang dieksekusi pada 2017, telah dipuji sebagai martir oleh sebuah kelompok garis keras.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini