Image

Turki Tahan 150 Orang Penyebar 'Propaganda Teroris' di Medsos

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis 25 Januari 2018 13:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 25 18 1850045 turki-tahan-150-orang-penyebar-propaganda-teroris-di-medsos-6sSGy1PzZ4.jpg Ilustrasi: Shutterstock

ISTANBUL - Otoritas Turki menahan 150 orang yang dianggap "menyebarkan propaganda teroris" di media sosial. Media pemerintah Turki melaporkan, propaganda itu membahas kampenye militer Turki melawan milisi Kurdi di Suriah sejak operasi dimulai pada akhir pekan.

Serangan tersebut menargetkan YPG Suriah Kurdi yang didukung Amerika Serikat. Ankara memandang YPG Suriah sebagai kelompok teroris dan perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah melakukan perlawanan di tenggara Turki yang mayoritas dihuni etnis Kurdi sejak 1984.

Politisi, wartawan dan pegiat termasuk di antara mereka yang telah ditangkap karena pernyataan di media sosial mereka, menurut Partai Demokratik Rakyat Kurdistan (HDP), partai oposisi terbesar kedua di parlemen.

Polisi telah melakukan operasi di 31 provinsi, dengan 11 tersangka ditahan dalam tahanan saat persidangan ditunda dan tujuh orang dibebaskan, kata kantor berita pemerintah Anadolu, mengutip pejabat polisi. Pemeriksaan terhadap 132 yang lain terus berlanjut, katanya.

"Pejabat polisi mengatakan bahwa akun media sosial dipantau tanpa henti dan bahwa semua pengguna yang menyebarkan propaganda kelompok teror akan diadili," kata Anadolu.

Ankara telah memberlakukan tindakan keras sejak sebuah kudeta yang gagal pada 2016. Para kritikus menyebut, kudeta ini secara tidak adil menargetkan politisi pro-Kurdi.

Beberapa anggota parlemen HDP telah dipenjara karena tuduhan terorisme, yang mereka bantah.

Secara total, lebih dari 50 ribu orang telah dipenjara dan diadili sejak upaya kudeta yang gagal tersebut. Selain itu, 150 ribu orang telah dipecat atau diskors dari pekerjaan mereka. Pemerintah mengatakan langkah itu diperlukan mengingat ancaman keamanan yang dihadapi Turki.

Sementara itu Presiden Erdogan pada Minggu memperingatkan pendukung HDP, partai terbesar ketiga parlemen, untuk tidak menunjukkan menentang operasi militer tersebut, dengan mengatakan bahwa pasukan keamanan akan mengawasi mereka jika mereka melakukannya.

Pada Senin, kantor gubernur Ankara mengatakan bahwa pihaknya melarang semua demonstrasi, pertemuan, konser dan perkumpulan serupa di seluruh penjuru ibu kota, selama "Operasi Cabang Zaitun" sedang berlangsung.

Freedom House, badan pengawas berpusat di Washington, menurunkan peringkat Turki menjadi "tidak bebas" dari "sebagian bebas" dalam laporan tahunan pada bulan ini.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini