nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Salat Gerhana Bulan Menurut Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah

Taufik Budi, Jurnalis · Rabu 31 Januari 2018 11:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 31 512 1852549 cara-salat-gerhana-bulan-menurut-guru-pendiri-nu-dan-muhammadiyah-XdeMvoRZ3v.jpg Ilustrasi Salat Gerhana Bulan. (Foto: Antara)

SEMARANG – Sebagian besar wilayah Indonesia bakal menjadi lintasan fenomena alam langka gerhana bulan total (GBT). Masyarakat pun bersiap menyaksikan kejadian alam yang dikenal dengan Super-Blue Blood Moon itu dan menggelar Salat Gerhana Bulan (Khusuf).

"Tentunya sebagai umat Islam, hadirnya gerhana itu menjadi tanda kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala. Bagi kalangan ahli falak dan astronomi, ini menjadi titik riset yang sangat menarik," kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Rikza Chamami, Rabu (31/1/2018).

Ia menyampaikan, bagi kalangan santri, ingar-bingar menanti hadirnya gerhana bulan total menjadi momen untuk kembali menilik karya ulama Nusantara asal Jepara dan besar di Semarang yakni KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat). Guru dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama/NU) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) tersebut turut memberikan penjelasan amalan Salat Gerhana Bulan.

"KH Sholeh Darat menegaskan bahwa salat dua gerhana (bulan dan matahari) hukumnya sunah muakad. Bab khusus mengenai Salat Gerhana ditulis dalam Kitab Majmu'atu al Syari'ah al Kafiyati lil 'Awam halaman 84–85 Fashlun fi al Kusufaini," bebernya.

(Baca: Ini Tujuh Lokasi Pengamatan Gerhana Bulan Total di Jakarta)

Adapun yang diperintahkan untuk mengikuti Salat Gerhana adalah laki-laki dan wanita, boleh munfarid (sendiri) atau berjamaah. Bacaan dalam Salat Gerhana bulan dilakukan dengan jahr (keras) dan jika gerhana matahari secara pelan-pelan. Salat Gerhana paling sedikit dilakukan dua rakaat salam sebagaimana salat rawatib.

"Untuk tata cara Salat Gerhana berbeda dengan salat pada umumnya. Pada rakaat pertama dibuka dengan niat, doa iftitah, Al Fatihah, surah, ruku, berdiri i'tidal, tidak langsung sujud tapi membaca Al Fatihah, surah, ruku, i'tidal, dan dilanjutkan sujud dua kali. Pada rakaat kedua juga sama dengan rakaat pertama dengan dua kali Al Fatihah, surah, ruku, dan i'tidal disambung sujud dua kali serta tahiyat akhir dengan ditutup salam," jelasnya.

Guna kesempurnaan Salat Gerhana, jelas KH Sholeh Darat, membaca surah yang panjang. Setelah itu juga rukunya dibuat panjang, sekira sama dengan bacaan 200 ayat. Perbedaan waktu ruku pada rakaat pertama dan kedua berbeda.

"Pada rakaat pertama dua kali ruku diharapkan sama dengan membaca 200 ayat (pertama) dan 150 ayat (kedua). Sementara ruku pada rakaat kedua bacaan ruku dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 100 ayat (pertama) dan 50 ayat (kedua)," lugasnya.

Dalam menjalankan sujud selama Salat Gerhana juga diharapkan dengan sujud yang panjang/lama. Ketika salat dilaksanakan secara berjamaah, maka dilaksanakan khutbah dua kali setelah Salat Gerhana.

"Materi khutbah yang disarankan KH Sholeh Darat kepada khatib adalah dengan menyampaikan taubat dan sedekah," pungkasnya.

(han)

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini