nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berbagi Ilmu Pertanian, Universitas Mercu Buana Gelar Seminar dengan Tokyo MX TV

Shara Nurachma, Jurnalis · Senin 05 Februari 2018 21:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 05 65 1855164 berbagi-ilmu-pertanian-universitas-mercu-buana-gelar-seminar-dengan-tokyo-mx-tv-eKRLXZdguR.jpg Universitas Mercu Buana (Foto: Dok Universitas)

JAKARTA - Indonesia menjadi negara yang memiliki konsumsi beras terbanyak ketiga. Berdasarkan data dari Kondo Internasional, jumlah konsumsi beras di Indonesia sekira 35 juta sampai 40 juta ton pertahun. Dengan jumlah tersebut, diperlukan teknologi mumpuni untuk memenuhinya.

CEO PT Kondo Internasional, Hirikumi Kondo, mengatakan, kualitas beras di Jepang dengan Indonesia memiliki perbedaan dalam rasa. Beberapa faktor yang membuat beras Jepang berbeda dengan dalam negeri.

"Bisa terjadi akibat perbedaan iklim dan suhu. Di Jepang, semakin rendah suhu maka curah hujan juga ikut berkurang sehingga semakin kering berasnya begitu sebaliknya, sedangkan suhu di Indonesia terbilang cukup stabil. Salah satu perbedaan beras Japonika (Jepang) dan Indika (Indonesia) adalah dari bentuknya, Japonica cenderung bulat sedangkan Indika lebih panjang. Selain itu, tekstur beras Japonica lebih sticky dan lebih lengket," kata Hirikumi.

Pada kesempatan yang sama, Kondo juga menjelaskan bahwa di Jepang hanya satu kali panen namun sampai saat ini tidak pernah kekurangan stok karena produksi masih lebih tinggi dari konsumsi. Sedangkan teknik penyimpanan juga mempengaruhi kualitas beras, di Jepang setelah padi digiling menjadi beras cokelat, lalu disimpan di gudang berpendingan ruangan sekira 15 derajat celcius. Sedangkan di Indonesia tidak, suhu yang tidak terjaga akan berpegaruh pada mutu dan keawetan beras.

Ini dikatakan Hirikumi dalam seminar persahabatan Indonesia-Jepang yang digelar di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Senin (5/1/2018). Dalam acara tersebut, sejumlah nara sumber juga dihadirkan yakni praktisi pertanian asal Jepang Uchiyama Matsamasu dan praktisi pertanian asal Indonesia Dedi Mulyadi.

Uchiyama Matsamasu menjelaskan, pertanian di Jepang berawal pada 1945 saat pemerintah membuat kebijakan untuk memperbanyak produksi pangan. Dan pada tahun 1961 dibuatlah undang-undang pertanian untuk menambah pendapatan keluarga petani dan dianjurkan untuk memperluas skala pertanian.

Berkat kegigihannya, beras milik Uchiyama asal Desa Ten’ei pada perfektur Fukushima mampu memenangkan medali emas pada kontes internasional rasa nasi seluruh dunia selama 5 tahun berturut-turut. Tidak hanya itu, beras organik yang dikelolanya bahkan mendapat goldprize pada kontes internasional selama 9 tahun berturut-turut.

“Saya senang sekali bisa diberi kesempatan mengunjungi Indonesia, bisa melihat sawah Indonesia dan merasakan nasi di Indonesia,” ucap Uchiyama.

Sedangkan praktisi asal Indonesia Dedi mulyadi mengatakan, kebutuhan pangsa pasar untuk padi jenis organik dinilai cukup tinggi. Meski demikian, tidak mudah untuk dirinya mengajak petani di desanya untuk menanam padi jenis ini. "Banyak petani di desa yang awalnya menolak mentah-mentah mengikuti ide tersebut."

Namun Dedi tidak patah semangat dan membuat program andalan yakni “satu petak satu keluarga”, artinya dia mengajak satu keluarga menanam satu petak padi organik bukan untuk dijual melainkan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Pendekatan itu dinilai cukup efektif.

Ia mempunyai visi menghasilkan pertanian organik dan budidaya ramah ligkungan, Dedi juga telah melewati metaforsis kemasan dari hanya dengan menggunakan kertas untuk label nama hingga mempunyai kemasan yang sudah layak jual. Pemerintah setempat juga sangat mendukung pegembangan padi organic ini.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini