nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Sulap Limbah Batu Bara Jadi Beton Berkualitas Tinggi

Shara Nurachma, Jurnalis · Jum'at 09 Februari 2018 11:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 08 65 1856679 mahasiswa-sulap-limbah-batu-bara-jadi-beton-berkualitas-tinggi-TGQT7xnuM5.jpg Foto: Dok ITS

JAKARTA - Sisa pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (Fly ash) dapat disulap menjadi beton berkualitas tinggi oleh tiga mahasiswa ini. Mereka adalah Andini Dwi Agustin, Jonathan Febryan, dan Reza Syihabul Millah S mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dengan mengusung tema High Early Strength and Low Cost Concrete Competition, tim Senanjaya 79 berhasil mendapat juara pertama dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2018 yang diselenggarakan di Universitas Udayana Bali baru-baru ini.

Kompetisi ini memang menantang pesertanya untuk menciptakan beton yang berkualitas tinggi dengan biaya terbatas. Beton yang berhasil mereka buat itu kemudian diberi nama Beton As Crete (Alumn and Sugar Conctete).

Bahan tersebut digunakan karena dinilai memiliki kandungan silika yang tinggi, sedagkan fly ash adalah bahan sisa pembakaran batu bara yang jika dibiarkan bisa merusak ekosistem lingkungan. Hal ini jugalah yang membuat banyak industri kini menggunakan fly ash sebagai pengganti semen dalam campuran beton untuk membantu mengurangi degradasi lingkungan.

Beton yang mereka bertiga hasilkan dinilai mampu melebihi kekuatan beton biasa. Jika kekuatan beton biasa dalam 28 hari pengerjaan paling besar mencapai 60 Mega Pascal, maka beton buatan mahasiswa ITS ini mampu mencapai 62,3 Mega Pascal hanya dalam waktu tujuh hari.

“Hal yang paling penting untuk meyakinkan juri adalah harus memiliki pendapat dan gagasan yang kuat, tentunya dengan didukung jurnal yang tepat. Gagasan tersebut kemudian harus diikuti dengan kualitas nyata dari inovasi yang diusulkan.” tutur Reza seperti dilansir laman Unpad, Jumat (9/2/2018).

Untuk mencapai hasil tersebut tentu tidak instan. Awalnya mereka menemukan banyak kesulitan dalam mencari material karena limbah fly ash yang menjadi bahan dasar beton buatan mereka adalah limbah bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Maka untuk mendapatkannya diperlukan surat pengantar khusus. Selain masalah material, tim mereka juga mengalami banyak kegagalan saat percobaan mencari proporsi dan desain yang tepat. Bahkan sampai enam kali percobaan di Laboratorium Beton dan Bangunan mereka belum juga mendapat hasil yang memuaskan.

“Manusia boleh berusaha sekeras yang mereka inginkan, namun setinggi-tingginya usaha langit adalah batasnya karena seberapa besarpun usaha manusia jika tidak disertai dengan doa akan sia-sia,” kata Reza.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini