Image

Perjuangan Anak Penjahit Raih Impian Kuliah & Lulus dengan Sederet Prestasi

Shara Nurachma, Jurnalis · Sabtu 10 Februari 2018 16:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 09 65 1857053 perjuangan-anak-penjahit-raih-impian-kuliah-lulus-dengan-sederet-prestasi-qTwHUMl9D5.jpg Foto: Dok Unpad

JAKARTA - Dely Ismail, pemuda asal Kasomalang, Subang yang semula tak berniat melanjutkan studi ke perguruan tinggi langsung berubah pikiran saat mengetahui adanya program Bidik Misi yang memberi bantuan dana kuliah bagi mahasiswa yang mampu secara akademik namun tak mampu secara ekonomi.

Meski berasal dari desa kecil yang tak terkenal, ia yakin bisa sukses menempuh studi hingga perguruan tinggi. Universitas Padjajaran (Unpad) menjadi kampus yang dipilihnya. Sebelum benar-benar berangkat kuliah di Unpad, ia harus lebih dulu meyakinkan kedua orang tuanya agar tak terbebani dengan biaya kuliah. Sebab program Bidik Misi tidak hanya memberi biaya perkuliahan tetapi juga biaya hidup setiap tiga bulan. Dely pun berhasil masuk program Bidik Misi melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Sebelum masuk perkuliahan, ia sempat merasa minder dengan teman-temannya yang “anak kota”. Oleh karena itu, ia rela mencari tahu lebih dulu tentang Program Studi Matematika yang menjadi pilihanya, sebelum memulai perkuliahan. Dari kenalan alumnus Prodi Matematika Unpad, ia meminjam semua buku dan referensi yang akan dipelajari selama kuliah, setidaknya ia bisa bersaing dengan teman-temannya yang lain.

“Sebelum kuliah, saya sempat minder, karena sadar dari kampung. Takut tidak bisa bersaing dengan teman-teman dari kota besar,” ungkap Dely seperti dilansir laman Unpad, Sabtu (10/2/2018).

Usahanya tak sia-sia, ia menjadi lebih banyak tahu dari teman-temannya. Bahkan saat perkuliahan dimulai banyak teman-temannya yang minta diajarkan tentang mata kuliah yang dianggap sulit dan ia pun menjadi tutor bagi teman-temannya.

Efek dari terlalu sering mengajarkan materi perkuliahan kepada teman-temannya, Dely pun merasa ilmunya justru semakin tertanam di otak. "Memang semakin banyak kita membagikan ilmu, justru ilmu tersebut akan semakin melekat dan bertambah dalam otak kita," tuturnya.

Usaha Dely pun berbuah manis, ia pun sukses menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,8 dan meraih sebagai wisudawan terbaik Unpad. Selain itu, ia juga banyak mengukir prestasi gemilang semasa kuliah baik tingkat regional maupun nasional, di antaranya pernah meraih juara pertama Olimpiade Sains Nasional Pertamina tingkat Jawa Barat pada 2015, hingga berprestasi di ajang Mathematical Analysis & Geometry Day (Mag Day) Institut Teknologi Bandung.

Tidak hanya berprestasi, Dely juga aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Ia pernah mengikuti UKM Futsal, UKM Bulutangkis, dan UKM Tenis Meja. Dely memang senang mengikuti berbagai lomba sejak kecil karena merasa senang melihat ekspresi orang tuanya saat ia berhasil menjadi juara dalam lomba itu. Kebahagiaan orang tua yang membuatnya termotivasi untuk terus meraih juara-juara dan mengukir prestasi dimanapun. “Ini semacam mengangkat nama orang tua saya,” ujar pria kelahiran 26 Maret 1996 itu.

Semasa kuliah, Dely terpaksa bekerja menjadi tutor di beberapa tempat bimbingan belajar untuk menutupi biaya hidup karena bantuan Bidik Misi memang terkadang tidak turun tepat waktu. Uang sejumlah Rp600.000,00 yang seharusnya keluar setiap bulan untuk biaya hidup bahkan pernah dibayarkan sekaligus di satu bulan tertentu saja.

Ia melakukan itu karena tak ingin membuat orang tuanya terbebani dengan kuliahnya. Ia tak mau orang tuanya kelimpungan mencari biaya untuknya sementara ia masih mempunyai dua adik yang duduk di bangku sekolah.

Membuka usaha kecil-kecilan menjahit baju adalah satu-satuya sumber pemasukan orang tua Dely. Di sela perkuliahannya, Dely juga membantu usaha tersebut. “Biasanya kalau libur saya yang membawa jahitan ke Subang untuk dibordir,” ungkap Dely.

Oleh karena itu, ia sangat bersyukur program Bidik Misi telah membantunya menyelesaikan kuliah. Jika tidak ada program tersebut, mungkin ia tak akan pernah bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi.

“Terima kasih Bidik Misi. Mohon sosialisasi program ini dapat sampai hingga ke pelosok. Soalnya, banyak generasi muda dari kampung-kampus yang belum tahu program ini,” kata Dely.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini