Image

Mahasiswa Paksa Rektor Umrah Rapat Anggaran Kampus di Hadapan Pendemo

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 12 Februari 2018 13:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 12 65 1858271 mahasiswa-paksa-rektor-umrah-rapat-anggaran-kampus-di-hadapan-pendemo-EQXF2Mjqfo.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

TANJUNGPINANG - Sekira 200 orang mahasiswa mendesak rektor dan pejabat Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau rapat di hadapan mereka.

Mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di Rektorat Umrah, Senin (12/2/2018), juga mendesak seluruh staf kampus tersebut berada di hadapan mereka.

Rektor dan seluruh pejabat pada masing-masing fakultas seharusnya rapat membahas anggaran dan rencana kegiatan tahun ini pada pukul 09.00 WIB, namun dibatalkan. Rapat pun dilaksanakan di hadapan para pendemo.

Rektor Umrah Prof Syafsir Akhlus bersama jajarannya duduk di tangga-tangga yang berada di teras rektorat, sedangkan mahasiswa mendengarkannya.

"Kami sudah berusaha melaksanakan tugas secara maksimal, dan memperbaiki kondisi kampus," kata Akhlus.

Semula Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Umrah, Bismar Ariyanto, menolak mengikuti rapat tersebut. Hal itu disebabkan anggaran untuk FISIP pada tahun 2018 dipotong sangat tinggi sehingga sulit melaksanakan rencana kegiatan secara maksimal.

Anggaran untuk FISIP hanya Rp900 juta, dipotong sekira Rp1,6 miliar. Fakultas lain juga mendapat perlakuan yang sama, seperti Fakultas Teknik hanya mendapat Rp560 juta, sedangkan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan hanya Rp500 juta.

"Yang diinginkan mahasiswa itu sederhana. Apa yang dibutuhkannya, terutama terkait fasilitas kampus, dipenuhi," kata Bismar.

Presiden Mahasiswa Umrah, Muhamad Putra menolak rapat membahas anggaran, yang sulit dipahami karena tidak disertai data. Ia inginkan rapat dilaksanakan seperti biasa dan mahasiswa mendengarkannya.

"Ini bukan rapat. Kalau rapat itu dua arah, bukan seperti menyosialisasikan anggaran kepada mahasiswa," kata Putra.

Putra mengemukakan, kampus dalam kondisi darurat. Banyak permasalahan yang dihadapi kampus seperti kasus dugaan korupsi program integrasi sistem akademik sebesar Rp30 miliar, uang kuliah tunggal yang mahal, dan gedung kampus di sebelah rektorat yang sudah dibangun dua tahun tidak dipergunakan.

"Fasilitas yang kurang memadai, dan kebijakan kampus yang tidak transparan," katanya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini