Image

Bantah Seret SBY ke Kasus E-KTP, Anas Urbaningrum: This Is Not My War!

Bayu Septianto, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 17:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 14 337 1859584 bantah-seret-sby-ke-kasus-e-ktp-anas-urbaningrum-this-is-not-my-war-4IoeTYIANs.jpg Anas Urbaningrum (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nama mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum ikut disebut sebagai dalang di balik penyebutan nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sidang korupsi e-KTP. Namun, Anas dari balik jeruji besi menegaskan, bahwa informasi tersebut sangat menyesatkan, sehingga perlu mengklarifikasinya.

Dalam surat yang ditulis Anas tertanggal 10 Februari 2018 itu menyebutkan, bahwa dirinya mengganggap lucu, bahkan lebih lucu dari dagelan. Bermula dari beredarnya surat hoax yang seolah-olah dibuat Mirwan Amir dan menyebutkan adanya pertemuan Anas, Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustopa di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat.

Pertemuan itu disebut sebagai momen merancang skenario jahat untuk menyeret SBY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam pusaran kasus e-KTP. Persoalan itu berawal dari kesaksian Mirwan Amir menyebut nama SBY saat bersaksi di persidangan Setya Novanto.

"Perlu saya nyatakan bahwa yang disebut Pertemuan Sukamiskin itu adalah tidak ada dan tidak pernah terjadi. Itu adalah fitnah keji yang lahir dari imajinasi hitam dan buruk sangka yang tak terkendali," ujar Anas dalam surat tersebut.

(Baca Juga: SBY Masuk Pusaran Kasus E-KTP, Setnov: Itu Fakta Persidangan)

Anas menegaskan, sangat mudah untuk membuktikan bila memang pertemuan tersebut benar terjadi. Bisa dicek kamera pengawas, maupun menanyakan langsung ke warga Lapas Sukamiskin. Namun, pastinya pertemuan tersebut tak pernah ada. 

"Jadi, sudahlah. Apalagi yang kurang? This is not my war. Ini hanya pernyataan kebenaran," katanya.

Sementara itu, Juru Bicara Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Tri Dianto ketika dikonfirmasi terkait surat tersebut, ia menyatakan bahwa surat itu memang ditulis Anas dari Lapas Sukamiskin. Bahkan, ia merupakan pihak yang dititipkan surat tersebut oleh mantan ketua umum PB HMI itu.

Menurutnya, Anas sengaja menulis surat tersebut karena tak ingin ada lagi hoax yang menyerangnya. "Jangan sampai terjadi lagi kasus mobil Harrier yang hoax itu bikin status Mas Anas jadi tersangka," kata Tri Dianto saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (14/2/2018).

Tri Dianto menambahkan, mengenai hubungan Anas dan Firman Wijaya hanya sebatas mantan pengacara. Ketika proses peradilan tuntas, maka sikap Firman Wijaya untuk membela Anas juga otomatis berakhir.

"Jangan sampai ada pihak yang mengaburkan fakta persidangan dengan intimidasi proses penegakan hukum dari luar persidangan," katanya.

(Baca Juga: Bantah Seret Nama SBY di Sidang Korupsi E-KTP, Ini Isi Lengkap Surat Anas Urbaningrum)

Sekadar diketahui, ini surat lengkap Anas Urbaningrum:

Salam Keadilan,

Sungguh ini hal yang lucu, lebih lucu ketimbang dagelan. Tetapi karena sudah disebarkan dan menjadi berita luas, hoax ini perlu dibantah karena bisa menjadi virus jahat yg merusak dan menyesatkan.

 

Hampir bersamaan dengan pernyataan pers Pak SBY dan pelaporan Sdr. Firman Wijaya ke Bareskrim, disebarkan Surat Hoax yang seolah-olah ditulis oleh Sdr. Mirwan Amir. Inti dari Surat Hoax yang disebarkan itu adalah bahwa ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir dan Saan Mustopa untuk merancang skenario fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas. Pertemuan dan skenario fitnah itulah yg dipercaya terkait dengan kesaksian Mirwan Amir di persidangan Terdakwa Setya Novanto.

Surat Hoax itu disebarkan oleh sebagian orang di lingkungan Pak SBY tanpa klarifikasi terlebih dahulu dan kemudian malah digoreng sedemikian rupa. Bahkan ada tulisan artikel tentang hal tersebut yang dimuat pada website resmi Partai Demokrat.

Terkait dengan hal tersebut, perlu saya nyatakan bahwa yang disebut Pertemuan Sukamiskin itu adalah tidak ada dan tidak pernah terjadi. Itu adalah fitnah keji yg lahir dari imajinasi hitam dan buruk sangka yg tak terkendali.

Sangat mudah untuk membuktikan benar-tidaknya pertemuan itu. Terlalu banyak cara yg bisa ditempuh, seperti mengecek buku tamu, CCTV yang ada dimana-mana dan menanyakan langsung kepada warga di Sukamiskin. Tidak ada tempat kunjungan tamu yg tertutup, tidak ada warga yg bisa merahasiakan tamunya. Apalagi kalau itu sebuah pertemuan.

Sungguh menyedihkan, ternyata ada yg mempercayai dan menyebarkan hoax itu. Apalagi kemudian mengembangkan teori konspirasi. Sangat picik dan mengkhianati semangat dan kampanye anti fitnah dan hoax.

Saya mengerti bahwa jihad mencari keadilan adalah tindakan mulia. Tetapi mencari keadilan yg disertai dengan (pembiaran penyebaran) hoax dan fitnah justru berarti membelakangi keadilan itu sendiri dan terkesan lebih mementingkan gincu.

Hasrat akan citra, kekuasaan, ketenaran dan kekayaan adalah hak setiap orang. Tetapi untuk mencapainya tidak memerlukan syarat harus menghina dan menista orang lain dengan (pembiaran penyebaran) hoax dan tuduhan konspirasi fitnah.

Penting ditegaskan bahwa saya adalah korban kesaksian hoax tentang mobil Harrier dan sebagainya, yang dirancang sedemikian rupa, sehingga kemerdekaan saya dan semuanya telah dirampas dengan cara yang batil dan zalim. Sakitnya masih harus saya dan keluarga jalani sampai hari ini. Korban fitnah tidak akan menyakiti orang lain dengan fitnah. Mengapa? Karena saya percaya takdir dan datangnya hari keadilan, tetapi tidak dengan hoax dan fitnah. Saya tidak tega dan tidak suka memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu menjijikkan!

Jadi, sudahlah.

Apalagi yang kurang?

This is not my war. Ini hanya pernyataan kebenaran.

Salam Kebenaran,

Sukamiskin, 10 Pebruari 2018

Anas Urbaningrum

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini