Lawan Kotak Kosong, Willem Wandik dan Alus Murib Optimis Pilkada Puncak Berjalan Tanpa Konflik

Edy Siswanto, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 22:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 14 340 1859767 lawan-kotak-kosong-willem-wandik-dan-alus-murib-optimis-pilkada-puncak-berjalan-tanpa-konflik-4vC9H5OMt5.jpeg Ilustrasi Pemilihan Kepala Daerah (foto: Okezone)

PAPUA - Pasangan Willem Wandik dan Alus Murib secara resmi sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Puncak sebagai calon bupati dan calon wakil bupati tunggal dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018.

Penetapan itu berdasarkan berita acara rapat pleno penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati kabupaten puncak tahun 2018, nomor: 02/BA/KPU-PUNCAK/2018. Dalam keputusan tersebut, pasangan Willem Wandik yang merupakan petahana dengan alus Murib dianggap telah memenuhi syarat menjadi peserta pilkada Kabupaten Puncak 2018.

(Baca Juga: 17 Ribu Personel Gabungan Amankan Pilkada Papua 2018)

“Ada 3 kabupaten yang meloloskan satu paslon itu yakni Kabupaten Jayawijaya, Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua, Adam Arisoi usai Pleno Penetapan Paslon di KPU Provinsi Papua, Jayapura.

KPUD Kabupaten Puncak memutuskan hanya pasangan Petahana Bupati Puncak Willem Wandik yang berpasangan dengan Alus Uk Murib yang lolos verifikasi.

Menurutnya, saat pendaftaran KPUD Puncak sempat meloloskan pasangan Repinus Telenggen – David Ongomang dan sempat ada dukungan ganda dari partai politik.

Namun saat diverifikasi ke Pengurus Pusat Parpol diketahui dukungan diberikan untuk petahana.

“Baru saja saya mendapat laporan dari Ketua KPUD Puncak, mereka sudah melakukan pleno penetapan paslon dan hanya satu pasangan yang lolos yakni pasangan Willem Wandik-Alus Uk Murib,” kata Arisoi.

Menurut Willem Wandik, calon tunggal akan mengurangi potensi konflik di wilayah Puncak. Sebab, kabupaten di Pegunungan Papua tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah lain.

"Meski kami sudah ditetapkan oleh KPUD menjadi calon tunggal, bukan berarti kami terus diam. Kami akan terus mempersiapkan yang terbaik bagi daerah Puncak, Papua, meski kami berhadapan dengan kotak kosong. Kami akan terus bekerja, bekerja, dan bekerja demi kesejahteraan masyarakat yang terisolasi, dan bekerja untuk mengurangi konflik yang ada, karena wilayah pegunungan tengah Papua itu unik dan indah, kami ingin semua aman dan damai," ujar Wandik.

Kabupaten Puncak pernah mengalami sejarah suram saat pelaksanaan pilkada. Saat itu 51 warga tewas karena perang selama proses pilkada dalam kurun waktu dua tahun pada kisaran 2011-2013. Meski pilkada sudah selesai, suasana masih mencekam hingga awal 2015.

"Kotak kosong ini juga menurunkan potensi konflik antarpendukung yang terjadi di kabupaten kami. Pada pemilihan awal demokrasi Kabupaten Puncak bergulir, daerah kami sudah kehilangan 50 orang pahlawan demokrasi yang meninggal karena konflik pilkada," ucap Wandik.

(Baca Juga: Ini 4 Daerah di Papua Paling Rawan Konflik saat Pilkada 2018)

Permasalahan 'perang saudara' itu kemudian diselesaikan secara adat. Pemkab Puncak harus membayar Rp1 miliar untuk per satu kepala korban meninggal. Pemda juga harus memfasilitasi tradisi bakar batu untuk mendamaikan kedua belah pihak.

Biayanya juga sangat besar. Dana untuk bayar ganti rugi itu juga turut dibantu oleh pemerintah pusat. "Saya dan calon wakil bupati menyampaikan terima kasih banyak kepada masyarakat, Ini menunjukkan kami masih dipercaya rakyat dan partai untuk bersama-sama membangun daerah di pegunungan tengah Papua. Ini merupakan amanah yang besar buat kami menjadi calon Bupati Puncak, Papua," pungkas Wandik.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini