nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Manisnya 'Serak Gulo' di Kampung Keling

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 17 Februari 2018 08:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 17 340 1860729 manisnya-serak-gulo-di-kampung-keling-fftekFou9I.jpg Tradisi serak gulo di Padang. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

PADANG - Baju kaos warna putih yang dipakai Dani (16) sudah basah kuyup. Sambil tertawa, dia bersama teman-temannya meninggalkan halaman Masjid Muhammadan berumur 200 tahun lebih yang terletak di jalan Pasat Batipuh, Kelurahan Pasar Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang itu. Di gulungan bajunya ada tujuh buntalan kain berwarna-warni sebesar kepalan tangan anak-anak, di dalamnya ada gula.

Dani dan empat orang temannya itu tinggal di Seberang Padang yang berjarak sekira satu kilometer dari lokasi Masjid Muhammadan. Mereka datang ke lokasi tersebut karena ada tradisi 'serak gulo' (serak gula) yang dilakukan warga Indonesia keturunan India. “Seru tadi berebutnya, saya dapat tujuh buah, nanti ini bisa untuk buat minuman seperti teh atau kopi,” katanya pada Okezone, Jumat 16 Februari 2018.

Mereka datang sejak pukul 15.30 WIB bersama ribuan warga lainnya yang akan mengikuti tradisi serak gulo. Meski Dani bukanlah keturunan India, namun ini terbuka siapa saja yang mau ikut acara ini.

“Tradisi ini dilakukan pada Jumadil Akhir sebagai simbol bagi keturunan India untuk berbagi dengan kaum umat Islam yang kurang mampu,” kata Ketua Umum Himpunan Keluarga Muhammadan Padang, Ali Khan Abu Bakar.

Menurutnya, gula yang dibagi-bagi ini merupakan sumbangan dari masyarakat keturunan India, baik dari Bengkulu, Medan, Pekanbaru, Jambi. “Gula partisipasi spontan dari masyarakat, mereka menyerahkan secara suka rela. Keluarga di sini banyak yang merantau, serak gulo ini diadakan pada Jumadil Akhir, keluarga sudah tahu kalau Jumadil Akhir mereka akan datang,” katanya.

(Baca juga: Melihat Kekayaan Budaya di Jepangnya Jawa Tengah)

Kurang lebih tujuh ton gula yang disebar tahun ini. Jumlah ini meningkat jauh dibandingkan dengan tahun yang hanya tiga ton. “Gula yang sudah disumbangkan kemudian dibungkus dengan kain warna-warni.



Proses serak gulo ini diawali dengan Salat Ashar, kemudian melakukan doa bersama menyampaikan nazar, lalu membagikan manisan merupakan minuman ciri khas India. Okezone mencoba mengecap minuman yang diletakkan dalam gelas plastik ukuran kecil, rasanya manis, asam dan sedikit terasa rempah-rempah, warna minuman bening kekuningan.

Acara dilanjutkan dengan pemasangan bendera di atas atap Masjid Muhammadan. Bendera berbentuk segitiga warna hijau itu di tengahnya ada gambar bulan sabit dan bintang warna putih. Setelah pemasangan bendera, dilanjutkan dengan menaikkan gula yang sudah dibungkus kain di atas atap. Setelah mendapatkan aba-aba dari ketua panitia, panitia kemudian membagikan gula dari atap. Warga pun berebutan gula di bawah.

Tahun ini, lokasi serak gulo dibagi dua dengan dibatasi rambu pembatas jalan milik Dishub, sebelah kiri khusus laki-laki dan sebelah kanan anak-anak dan ibu. “Sengaja kita bagi dua kita khawatir nanti saat berebutan ada yang terinjak-injak,” katanya.

Sekita setengah jam, jalan di depan masjid sudah mulai sepi. “Tradisi kita ini hanya tiga negara yang melakukan, satu di India, itu dilakukan selama seminggu, kemudian di Singapura dan Indonesia di tempat kita,” ujarnya.

Tradisi serak gulo ini sudah dibawa nenek moyang keturunan India 200 tahun lalu ke Indonesia lewat perdagangan. Bahkan tradisi yang dilakukan di Padang tersebut seumur dengan Masjid Muhammadan. Tradisi ini berasal dari Nagor, Naga Patinam, daerah Tamil Nadi, India Selatan. Tempat yang mengadakan tradisi ini di Padang biasa disebut Kampung Keling, karena bermukim etnis keturunan India di sana.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini