nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

1.249 Kepala Keluarga Korban Pengungsi Sinabung Sudah Dapat Hunian Tetap

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Rabu 28 Februari 2018 20:52 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 28 340 1866190 1-249-kepala-keluarga-korban-pengungsi-sinabung-sudah-dapat-hunian-tetap-KVJfHWxqHM.jpg Foto: Istimewa

MEDAN – Sebanyak 1.249 kepala keluarga (KK) pengungsi korban erupsi Gunung Api Sinabung, yang dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka karena tergolong zona merah erupsi, kini sudah mendapatkan hunian tetap.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, saat mengunjungi pengungsi korban bencana erupsi Sinabung, di Kecamatan Simpang Empat, Karo, Rabu (28/2/2018).

Willem menjelaskan, untuk relokasi tahap pertama sudah dilakukan ke Desa Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo pada tahun lalu, Sebanyak 370 kepala keluarga (KK) dipindahkan ke kawasan yang dulunya merupakan kawasan hutan itu.

Kemudian relokasi mandiri tahap kedua dilakukan terhadap sebanyak 1.650 KK dan telah selesai 879 KK, sedangkan sisanya pada akhir maret 2018.

"Saya sudah melihat dan berbicara langsung dengan masyarakat yang menempati baik di hunian sementara maupun di hunian tetap. Dan saya sudah mengetahui apa permasalahan dan keluhan-keluhan mereka diantaranya air bersih dan listrik," ujarnya.

 Erupsi, Gunung Sinabung Semburkan Material Vulkanik dengan Tinggi Kolom 5.000 Meter

Terakhir, kata Willem, relokasi mandiri tahap ketiga akan dibangun 1.098 unit rumah. Dimana untuk kebutuhan pemukiman masih tahap pembebasan lahan (land clearing) dan untuk kebutuhan lahan sedang proses perizinannya.

“Yang menjadi permasalahan disini adalah dengan berkembangan data kepemilikan lahan. Untuk itu dari hasil kesepakatan antara Pemerintah Pusat dan Pemkab Karo, Pemkab Karo harus menerbitkan SK tentang data penerima bantuan hunian agar kedepannya tidak terjadi perubahan data,” tandasnya.

Lebih lanjut disampaikannya situasi sekarang ini yang paling harus waspadai adalah ancaman erupsi seperti yang terjadi 18 Februari 2018 yang lalu.

"Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo dan masyarakat yang telah dengan segera melakukan tanggap darurat dengan cepat dan efektif sehingga tidak tidak ada memakan korban jiwa, " ucap Willem.

Kemudian yang kewaspada terhadap lahar dingin. Untuk mencegah aliran lahar dingin maka Pemerintah Pusat bekerjasama dan bersinergi dengan Pemprovsu dan Pemkab Karo untuk membangun bendungan (dam). Pembangunan DAM dilakukan di Kecamatan Tiganderket. Pembangunan DAM ini sebagai proyek pembangunan infrastruktur dalam rangka rehabilitasi dan relokasi dari bencana alam erupsi Sinabung.

Dijelaskan Willem, dari 14 DAM yang rencana akan dibangun hingga tahun 2019, 10 DAM akan diselesaikan hingga akhir tahin 2018 ini. Dan sisanya 4 DAM lagi akan diselesai sampai akhir tahun 2019.

“Untuk pembangunan infrastruktur DAM ini, kita masih memerlukan light tower, safety warning system sirene serta pengadaan alat berat berupa beko sebanyak 6 unit untuk membersihkan lahar dingin dari erupsi tersebut,” tutupnya.

 

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini