nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Okezone Goes to Campus: Jadi Cerminan Diri, Jangan Gunakan Sosmed untuk Kepalsuan

Shara Nurachma, Jurnalis · Rabu 28 Februari 2018 17:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 28 65 1866068 okezone-goes-to-campus-jadi-cerminan-diri-jangan-gunakan-sosmed-untuk-kepalsuan-gJsx8cuXVV.jpg Foto: Silvi Afrita/Okezone

JAKARTA - Kini sosial media dapat menjadi cerminan diri di hadapan orang lain. Saat mencoba memposting sesuatu di sosial media, pastikan hal tersebut benar-benar pantas untuk dilihat dan diketahui orang banyak. Penggunaan kata dalam bersosmed pun harus diperhatikan.

Praktisi Digital Media, Sigit widodo melihat terdapat perubahan gaya hidup saat ini. Ia mencontohkan, orang lebih butuh akses internet daripada free breakfast di hotel. Tak dipungkiri, sosmed memiliki daya pikat tersendiri.

“Paling enak dilihat di internet ya sosmed karena kita suka berinterkasi melihat teman, mengekspose diri kita. Selama kerjaan dan kewajiban kita tak terbengkalai berapa lamanya kita bersosmed itu enggak masalah,” tutur Sigit saat menjadi pembicara dalam Okezone Goes to Campus di Universitas Bakrie, Rabu (28/2/2018).

Sementara itu, Pakar Komunikasi yang juga dosen Universitas Bakrie, Pandit Sumawinata berpendapat sosial media adalah personal brand. Melalui sosial media kita dapat membangun image positif maupun negatif tergantung bagaimana cara menggunakannya.

Ia mengimbau kepada para mahasiswa agar bijak dan smart menggunakan sosial media dengan tidak mudah terpancing emosi dan mengurangi penggunaan sosial media.

“Kita boleh mengungkapkan kemarahan di sosial media, namun harus dengan cara yang benar-benar halus, kita juga harus bisa kreatif menyalurkan amarah menjadi hal yang positif. Menggunakan sosial media sebaiknya harus ingat waktu jangan sampai kehidupan dunia nyata kita berhenti hanya karena sosial media,” tuturnya.

Tak hanya itu, sambung Pandit, dalam bersosial media sikap jujur juga penting. Sebab, sering ditemui banyak orang yang rela melakukan hal yang tidak ia sukai di sosial media demi memperindah citra di hadapan orang lain.

“Jujur itu nomor satu. Kalau mau bohong, bohong yang untuk kesenangan dan lucu lucuan saja. Jangan juga mengupload foto yang jauh berbeda dengan aslinya atau banyak editan. Sering sekali kan, ada kasus orang yang saat ditemui di dunia nyata wajahnya jauh berbeda dengan yang diposting di sosial media,” kata Pandit.

Hal senada diungkapkan Praktisi Digital Marketing Wendy Warisman. Ia menilai dalam bisnis kejujuran nomor satu meski ada beberapa pebisnis yang memiliki perbedaan perspektif tentang kejujuran untuk membranding usahanya.

Sementara itu, Praktisi Media Digital Sigit Widodo pun mengamini bahwa kejujuran dalam bersosial media itu penting. "Jangan sampai karena ingin membuat personal brand yang baik, kita menjadi palsu di media dan menjadi berbeda dengan diri kita yang asli," tutur Sigit.

“Untuk yang followersnya sudah banyak, bisa jadi followers akan kecewa jika mengetahui kita jauh berbeda dengan yang disangkakan. Bila kita ketahuan palsu, followers bisa saja meninggalkan kita.” tambahnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini