nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Konflik Antaragama Meluas, Sri Lanka Blokir Whatsapp dan Facebook

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 08 Maret 2018 00:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 07 18 1869337 konflik-antaragama-meluas-sri-lanka-blokir-whatsapp-dan-facebook-VqMWH2Lwwr.JPG Aparat keamanan Sri Lanka meninjau toko milik seorang Muslim yang hangus dibakar (Foto: Reuters)

KOLOMBO – Konflik antaragama di Sri Lanka makin meluas. Pemerintah pusat akhirnya memutuskan untuk menutup akses terhadap sejumlah jaringan obrolan, termasuk media sosial Facebook. Hal tersebut dilakukan guna mengontrol kekerasan yang menargetkan minoritas Muslim di Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka pada Selasa 6 Maret memberlakukan status darurat hingga sepekan ke depan demi mengontrol kekerasan tersebut. Alih-alih mereda, kekerasan makin parah setelah sejumlah masjid dan toko yang dimiliki umat Islam dibakar pada tengah malam waktu setempat.

Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekara menerangkan, ada sejumlah insiden yang terjadi sepanjang malam di Distrik Kandy. Kekerasan pun bermula dari Distrik Kandy yang terkenal dengan perkebunan tehnya setelah sebuah toko milik Muslim dibakar warga.

“Kepolisian menahan tujuh orang. Tiga orang petugas kami mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Kami belum mendapat informasi mengenai korban di pihak warga sipil,” tutur Ruwan Gunasekara, sebagaimana diwartakan Reuters, Kamis (8/3/2018).

BACA JUGA: Cegah Kekerasan Antaragama Meluas, Sri Lanka Terbitkan Status Darurat

Pemerintah mengatakan, kekerasan yang dilakukan umat Buddha Sihala kepada Muslim salah satunya dipicu oleh unggahan-unggahan di media sosial. Sejumlah unggahan bahkan mengajak umat Buddha untuk lebih banyak menyerang umat Islam di Sri Lanka.

Akibat penyebaran konten berbahaya itu, pemerintah Sri Lanka memutuskan untuk memblokir akses terhadap Facebook, Viber, dan Whatsapp, selama tiga hari ke depan.

Sri Lanka masih berusaha memulihkan diri usai perang saudara selama 26 tahun melawan kelompok separatis Tamil yang berakhir pada 2009. Umat Islam menjadi minoritas dengan jumlah populasi hanya 9% dari 21 juta warga Sri Lanka, jumlah yang lebih kecil dibanding suku Tamil yang mayoritas beragama Hindu.

Seorang menteri di kabinet pemerintahan Sri Lanka, Sarath Amunugama mengklaim, kekerasan di Distrik Kandy dipicu oleh orang-orang dari luar wilayah tersebut. Ia menduga ada konspirasi terorganisir di belakang insiden-insiden kekerasan tersebut.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini