nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bareskrim Polri Tangkap Pelaku Pemalsuan Arang Shisha yang Sudah 10 Tahun Produksi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 09 Maret 2018 17:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 09 337 1870400 bareskrim-polri-tangkap-pelaku-pemalsuan-arang-shisha-yang-sudah-10-tahun-produksi-UBRl6MOrC6.jpg Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya (Foto: Puteranegara Batubara/Okezone)

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus ( Dit Tipideksus) Bareskrim Polri mengungkap peredaran produk bahan bakar Shisha palsu. Dalam pengungkapan ini, polisi menangkap pelaku pembuat produk tersebut bernama TH di Jepara, Jawa Tengah.

Pelaku diduga kuat memalsukan produk arang Shisha original dengan menggunakan nama produksi Cocobrico. Bahkan, TH sudah selama 10 tahun telah melakukan peredaran arang palsu tersebut.

Direktur Tipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya menjelaskan, kejahatan pemalsuan produk Cocobrico dilakukan TH sejak 2012. Dengan adanya hal tersebut, pemilik produk dan merek Cocobrico original bernama Yvonne S Lima menderita kerugian hingga Rp100 miliar.

"Cocobrico memproduksi arang untuk Shisha ini sudah cukup lama memproduksi lebih dari 10 tahun untuk diekspor ke Rusia dan Eropa. Akibat tindakan yang dilakukan TH, membuat kerugian yang diderita oleh saudari Yvonne sekitar Rp100 miliar," ujar Agung, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).

Pengungkapan dan penangkapan pelaku ini bermula saat konsumen negara importir asal Jerman dan Rusia yang mengeluh pusing pasca-mengonsumsi Sisha dengan bahan bakar Cocobrico. Negara-negara importir tersebut lantas melontarkan komplain kepada pemilik merek dagang asli, yaitu Yvonne.

Karena menerima keluhan dari konsumen, Yvonne lantas memeriksa produk yang diadukan dua negara tersebut. Ia kemudian menguji coba produk dagang original miliknya dengan produk dagang yang dikomplain dua negara itu. Alhasil, Yvonne menemukan perbedaan yang signifikan.

"Untuk yang original harusnya tidak ada asap dan bau. Kemudian arang original mestinya nyala terus-menerus dan ada standardisasi. Sementara yang palsu berasap dan berbau serta tanpa adanya standar yang baik," papar Agung.

Agung menuturkan, dari pemalsuan arang itu sangat terlihat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu di antaranya dari bentuk paket kemasan Cocobrico. Paket original dikemas dengan kotak yang lebih kecil dan berwarna terang, sedangkan produk palsu dikemas dengan kotak lebih besar dan berwarna gelap.

"Lalu saudari Yvonne mengadukan penemuannya kepada kami," ucap Agung.

Setelah adanya aduan tersebut, Agung menuturkan, pihaknya mendapatkan informasi ada tindakan pemalsuan yang dilakukan pabrik bernama CV Indomarine Niaga.

Pabrik tersebut memproduksi arang palsu dengan kemasan Cocobrico original. Pabrik tersebut ditemukan di dua lokasi, yaitu Jepara, Jawa Tengah dan Salatiga, Jawa Tengah. Pabrik itu diketahui telah beroperasi sejak 2012.

"Dengan TH sebagai Direktur Utama CV Indomarine Niaga. Dia ditangkap ketika memproduksi di Pabrik di Jepara," kata Agung.

Atas perbuatannya, TH diganjar dengan koridor Undang-Undang tentang Merek Dagang Nomor 20 Tahun 2016 Pasal 100 Ayat 2 mengenai pemalsuan merk seluruh atau sebagian dengan ancaman 4 tahun atau denda Rp2 miliar.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini