nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan Pembobol Bank DBS Singapura Disuruh Suaminya WN Afrika

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 09 Maret 2018 18:56 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 09 337 1870431 perempuan-pembobol-bank-dbs-singapura-disuruh-suaminya-wn-afrika-mGTdqlAvla.jpg Petugas mengawal perempuan pelaku pembobolan rekening Bank DBS Singapura. (Foto: Puteranegara Batubara/Okezone)

JAKARTA – Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dir Tipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya menyebut, perempuan berinisial BFH yang melakukan pembobolan rekening nasabah Bank DBS Singapura mendapatkan instruksi dari suaminya yang merupakan warga negara (WN) Afrika.

Agung melanjutkan, pembobolan rekening nasabah senilai USD 50.000 atau setara Rp662.617.450 itu diserahkan kepada suaminya yang digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

"BFH ini memiliki suami WN Afrika yang kemudian ternyata penggunaan rekening itu atas permintaan dari suaminya. Kemudian rekening itu menampung dari pembobolan uang yang dari Singapura," kata Agung di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (9/3/2018).

Bareskrim Polri menangkap seorang perempuan berinisial BFH karena diduga telah melakukan tindak pidana melakukan transfer dana tanpa hak dan atau tindak pidana pemalsuan uang dan pencucian uang.

Agung menjelaskan, pembobolan rekening nasabah bank DBS Singapura itu menggunakan modus perintah palsu yang dikirim melalui bank melalui e-mail atau disebut dengan modus e-mail hijacking.

Menurut Agung, e-mail hijacking digunakan tersangka untuk mengelabuhi pihak bank dengan nama pemilik rekening sebenarnya. Menerima surat itu, pihak bank otomatis mencairkan uang sesuai permintaan itu.

(Baca Juga: Bareskrim Tangkap Perempuan Pembobol Rekening Nasabah Bank DBS Singapura)

"Di Indonesia ada 4 bank yang empat-empatnya sudah kami bisa ungkap pelakunya. Totalnya ada kami tangkap hari ini yang terakhir kami tangkap adalah pengiriman USD50.000 ke salah satu bank di Indonesia yang kemudian diketahui penerima dari uang tersebut adalah warga negara Indonesia atas nama BFH," papar Agung.

Kasus ini berawal saat nasabah dari Green Palm Capital Corp dan Dali Agro Corps Bank DBS Singapura melaporkan telah terjadi transaksi tanpa hak, tanpa seizin dari pemilik rekening.

Total nasabah dirugikan atas sembilan transaksi tersebut sebesar USD 1.860.000. Pihak yang dirugikan itupun akhirnya memutuskan melakukan pelaporan ke Bareskrim Polro karena sebagian penerima dana ilegal itu kebanyakan mengalir ke beberapa pihak di Indonesia.

Atas perbuatannya, BFH disangka melanggar Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana dan atau pasal 263 (2) KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 5 dan atau 10 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini