Pejabat Asosiasi Islam China Ingatkan Bahaya Radikalisme Asing

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Senin 12 Maret 2018 22:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 12 18 1871610 pejabat-asosiasi-islam-china-ingatkan-bahaya-radikalisme-asing-iiQdPbI3uI.JPG Mayoritas Muslim di China berasal dari etnis Hui dan Xinjiang (Foto: Michael Martina/Reuters)

BEIJING – Pejabat Senior Asosiasi Islam China, Yang Faming, mengingatkan Muslim di negara tersebut agar waspada terhadap pengaruh asing, termasuk gaya arsitektur masjid-masjid yang mulai meniru negara-negara lain. Ia mengimbau agar Muslim di Negeri Tirai Bambu lebih mempraktikkan ajaran Islam yang berkembang di China.

Meski pemerintah China secara resmi menjamin kebebasan beragama, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pengetatan pengawasan di sejumlah area yang dihuni mayoritas Muslim. Pemerintah diyakini takut akan kemungkinan radikalisasi dan kekerasan atas nama agama.

Berbicara di hadapan badan penasihat parlemen, Yang Faming mengatakan bahwa Islam memiliki sejarah yang panjang dan terhormat di China. Namun, ia mengingatkan bahwa masalah-masalah yang disebutnya itu sudah nampak nyata dan tidak bisa diabaikan.

“Sebagai contoh, sejumlah masjid memiliki gaya arsitektur yang meniru model-model di negara asing. Di beberapa area, konsep halal sudah menjadi hal biasa dan agama mencampuri kehidupan duniawi,” ujar Yang dalam pernyataan resmi, mengutip dari Reuters, Senin (12/3/2018).

“Beberapa orang menaruh perhatian lebih kepada aturan agama dan sedikit yang memahami undang-undang nasional. Mereka hanya mengetahui bagaimana menjadi orang beriman, tetapi tidak menjadi warga negara. Kita harus tetap siaga,” imbuh Yang Faming.

Ia menyerukan agar praktik ajaran Islam di negara tersebut harus menjunjung tinggi pengalaman sukses menjadi lebih China, yang dipandu oleh nilai-nilai inti sosialisme dan menentang radikalisasi. Praktik keagamaan, budaya, dan arsitektur bangunan keagamaan disebutnya harus bersifat dan bergaya China.

Negeri Panda diketahui dihuni oleh sekira 20 juta umat Islam yang sebagian besar berada di bagian barat, mulai dari etnis Uighur di Xinjiang yang berbahasa Turkik hingga ke etnis Hui. Pemerintah China beberapa kali menuduh ekstremis Islam di Xinjiang sebagai pelaku kekerasan di Xinjiang yang berbatasan dengan Pakistan.

Para pembela hak asasi manusia (HAM) menuding tindakan represif dilakukan pemerintah China untuk mengontrol hak beragama dan kebudayaan Muslim Uighur di Xinjiang dengan alasan adanya ekstremis. Beijing terang-terangan menolak tuduhan represif tersebut.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini