nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Kekerasan Anak di Kota Bekasi Meningkat Tiap Tahun, Ini Faktornya

Wijayakusuma, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 00:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 13 338 1872328 kasus-kekerasan-anak-di-kota-bekasi-meningkat-tiap-tahun-ini-faktornya-w8AOde5WKD.jpg KPAID Bekasi (Foto: Wijayakusuma)

BEKASI - Sebagai peraih predikat 'Kota Laik Anak' di tingkat madya, sudah semestinya Kota Bekasi memiliki fasilitas memadai dalam hal memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kaum anak. Namun, kondisi yang terjadi justru berbanding terbalik, dengan semakin maraknya kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi, mencatat sebanyak 198 kasus kekerasan terhadap anak di sepanjang 2017. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2016, yakni sebanyak 127 kasus.

Menurut Komisioner KPAID Kota Bekasi, Sopar Makmur Napitupulu, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Di antaranya, korban perseteruan orang dewasa (suami-istri), faktor ekonomi dalam keluarga, anak dijadikan obyek ekspolitasi, minimnya iman dan ilmu agama yang diterapkan dalam keluarga.

"Banyak hal yang melandasi kekerasan terhadap anak. Karena itu, sangat penting bagi masyarakat khususnya orangtua, untuk mengetahui apa saja yang menjadi hak-hak anak yang sudah diatur dalam undang-undang," katanya kepada Okezone, Selasa (13/3/2018).

Dalam pengentasannya, kata dia, diperlukan penguatan peran dari lembaga terkait sebagai bentuk perlindungan dan pemberian rasa aman dan nyaman bagi kaum anak. Penguatan antarlembaga yang dimaksud, yakni dari perangkat hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan). Selain itu, pemerintah juga harus menjaga hak-hak anak, dengan mendapat akta kelahiran (Disdukcapil), wajib sekolah (Dinas Pendidikan), pengobatan laik (Dinas Kesehatan), serta berbagai fasilitas pendukung kesejahteraan anak lainnya.

"Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, bahwa anak harus dilindungi dan diberikan hak-haknya. Sosialisasi tentang undang-undang ini sangat penting demi memberi rasa aman dan nyaman kepada anak," tegasnya.

Sopar menilai pembaharuan terkait hukuman yang diberikan kepada pelaku kekerasan terhadap anak, belum sepenuhnya dilakukan pemerintah. Padahal, hukuman itu semestinya menjadi efek jera bagi para pelakunya.

"Pembaharuan sudah ada, seperti hukuman kebiri, 1/3 tambahan hukuman bagi pelaku kejahatan anak (orangtua atau PNS). Cuma memang pembaharuan yang ada belum dilakukan," jelasnya.

Terpisah, Siti Nurhidayah, Psikolog di Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bekasi sekaligus Pegiat Keluarga (GiGa Indonesia) mengatakan, ada 4 faktor pemicu kekerasan terhadap anak. Faktor pertama adalah kondisi keluarga sebagai pembentuk kepribadian dan kematangan sosioemosional anak.

"Anak bisa menjadi korban atau pelaku kekerasan apabila kematangan sosioemosionalnya kurang. Hal ini karena pola pengasuhan orangtua yang tidak sesuai dengan perkembangan anak," ujar Dosen Psikologi Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi itu.

Kondisi keluarga yang menghabiskan waktu buat bekerja, menyebabkan komunikasi yang dibangun antar-anggota keluarga berkurang. Kemudian minimnya pembangunan spiritual, sehingga menyebabkan kurangnya asupan kasih sayang terhadap anak.

Lanjut Siti, faktor kedua yaitu lingkungan sosial. Perubahan sosial membentuk pola individualis, kurang peduli dengan anak. Faktor ini juga berkaitan dengan kebijakan.

"Misal warung PS atau warnet yang kerap dibiarkan, sehingga banyak anak yang mengisi waktu luang bermain game online yang bertema kekerasan," bebernya.

Faktor ketiga adalah teman sebaya. Menurut Siti, anak cenderung lebih percaya dan mengikuti teman sebayanya. Jadi, bila teman sebaya berperilaku buruk, maka besar kemungkinan anak ikut berperilaku buruk.

"Misal ikut tawuran dan bullying berjamaah," ujarnya.

Sedangkan faktor keempat adalah teknologi informasi. Akses internet yang mudah ditangkap anak, memungkinkan anak atau bahkan orang dewasa terpapar kekerasan dan pornografi.

"Faktor keempat saat ini menjadi stimulus pelaku kekerasan seksual karena terpapar pornografi," ungkapnya.

Dampak dari kekerasan yang dialami anak, diakui Siti berkaitan erat dengan perkembangan kepribadiannya. Oleh karena itu, perlu peranan penting keluarga untuk selalu memberikan support, agar anak merasa selalu diterima dan dihargai.

"Jangan mengekspresikan emosi berlebihan sehingga anak justru merasa bersalah karena peristiwa kekerasan itu terjadi. Anak perlu mendapatkan empati dari keluarga. Beberapa kasus akhirnya membuat anak memberikan keterangan yang berbeda karena hal tersebut," paparnya.

Sementara itu, calon Wali Kota Bekasi, Nur Supriyanto juga menyampaikan niatnya untuk memberikan perlindungan dan rasa nyaman kepada kaum anak dan perempuan di Kota Bekasi. Ia berjanji akan membangun sistem perlindungan yang melibatkan seluruh stakeholder, agar kaum anak dan perempuan tidak lagi merasa terancam bahaya eksploitasi, trafficking, kejahatan seksual dan lainnya.

"Jadi, akan ada sistem yang dibangun, agar nantinya dapat menghadirkan rasa kenyamanan dan ketentraman bagi masyarakat, khususnya kaum anak dan perempuan. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah," katanya.

 

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini