Jepang Buka Kemungkinan Pertemuan Bilateral dengan Korea Utara

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 21:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 18 1872853 jepang-buka-kemungkinan-pertemuan-bilateral-dengan-korea-utara-VDC2LDkurv.jpg Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (Foto: Kim Kyung-hoon/Reuters)

TOKYO – Pemerintah Jepang mengaku membuka kemungkinan pertemuan antara Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. Isu utama yang akan diangkat dalam pertemuan itu adalah penculikan warga Jepang yang dilakukan Korea Utara pada 1970-1980.

Shinzo Abe akan melawat ke Washington, Amerika Serikat, jelang pertemuan Presiden Donald Trump dengan Kim Jong-un yang dijadwalkan digelar pada Mei. Jong-un sendiri akan terlebih dahulu bersua Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada akhir April.

Jepang khawatir bahwa isu penculikan warganya tidak akan diangkat baik oleh Donald Trump maupun Moon Jae-in saat bertatap muka dengan Kim Jong-un. Sebab, kedua negara itu lebih memperhatikan isu denuklirisasi serta program rudal dan nuklir Korea Utara.

“Penting untuk harmonisasi kebijakan antara Jepang, AS, dan Korea Selatan jelang KTT Antar-Korea dan pertemuan antara Korea Utara dengan AS,” ucap Kepala Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, melansir dari Reuters, Rabu (14/3/2018).

“Setelahnya, saat mengawal secara dekat pertemuan ketiga negara itu, kami akan memberi tahu bagaimana menyelesaikan isu nuklir, rudal, dan penculikan secara komprehensif. Sebelum itu, kami ingin mempertimbangkan apa yang akan sangat efektif dan menangani isu dari perpektif itu,” imbuhnya.

Seorang sumber di pemerintahan mengaku Tokyo tengah mempertimbangkan pertemuan antara Kim Jong-un dengan Shinzo Abe. Sementara itu, legislator dari koalisi berkuasa di parlemen mengatakan, masih terlalu dini membicarakan rencana pertemuan dua arah Jepang dengan Korea Utara.

“Urutannya adalah KTT Antar-Korea, diikuti oleh pertemuan AS-Korea Utara. Kita harus melihatnya terlebih dahulu,” ujar legislator yang namanya dirahasiakan itu.

Pada 2002, popularitas mantan PM Junichiro Koizumi meningkat drastis usai kunjungan ke Pyongyang dan ketika membawa pulang lima orang anak dari korban penculikan pada 2004. Abe sendiri berjanji untuk menyelesaikan isu penculikan tersebut selama masa pemerintahannya.

Korea Utara diketahui menculik 13 orang warga Jepang untuk melatih mata-mata mereka pada dekade 1970-1980. Saat memulangkan lima orang pada 2004, Korea Utara mengaku bahwa sisanya sudah meninggal dunia. Akan tetapi, Jepang tidak percaya dan terus mengupayakan pemulangan.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini