Hakim PN Tangerang Kena OTT, Kinerja Badan Pengawas MA Disorot

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 06:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872388 hakim-pn-tangerang-kena-ott-kinerja-badan-pengawas-ma-disorot-NcZUDkJhNB.jpg Gedung Mahkamah Agung (Foto: Okezone)

JAKARTA – Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) menilai hakim dan panitera yang terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) buntut Badan Pengawas Mahkamah Agung (MA) terhadap para hakim tidak berjalan dengan baik.

“Harus diakui sistem pengawasan MA belum berjalan dengan baik karena masih mewarisi mental lama bahwa hakim tidak pernah salah. Maka, MA harus jujur mengakui masih gagal dan bersedia membuka diri untuk pengawasan dari luar dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Komisi Yudisial (KY),” kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman kepada Okezone, Rabu (14/3/2018).

Ia menduga MA sengaja melindungi para hakim nakal dengan cara membentuk badan pengawas sendiri. Hal itu dilakukan juga diduga untuk menyaingi KY, sehingga para hakim yang melakukan pelanggaran tidak harus diserahkan kepada KY.

"Selama ini justru MA membentuk badan pengawas yang terkesan bersaing dengan KY sebagai tameng pelindung oleh oknum hakim yang nakal,” tambahnya.

(Baca Juga: Usai Diperiksa, Hakim PN Tangerang Langsung Ditahan KPK)

Selanjutnya, MA yang diduga selalu melindungi para hakim nakal dapat dilihat dari respons MA yang selalu mempertanyakan bukti yang dianggap sulit untuk dipenuhi.

‘’MA dalam setiap dugaan pelanggaran terkesan melindungi. Misalnya terhadap pelapor dugaan pelanggar selalu ditanyakan buktinya yang pasti sulit dipenuhi. Nah, ini akan dimaknai terlapor (hakim nakal) sebagai bentuk perlindungan menuju kekebalan sehingga merasa tidak bisa disentuh. Karena inilah hakim-hakim yang nakal akan leluasa melanggar dan bagi hakim baik akan menurunkan semangat. Inilah letak kegagalan MA,” tutupnya

Sebagaimana diketahui, KPK telah menangkap Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Wahyu Widya Nurfitri, dan seorang Panitera Pengganti, Tuti.

Keduanya ditangkap lantaran disangka menerima suap dari AGS dan HMS terkait pengurusan perkara perdata wanprestasi yang disidangkan di PN Tangerang. Setelah dilakukan penangkapan, keduanya langsung ditetapkan sebagai tersangka atas kasus suap oleh KPK dan ditahan.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini