nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perlu Dilakukan Investigasi Secara Holistik Terkait Kecelakaan Tank dan Kapal TNI

Fiddy Anggriawan , Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 11:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872485 perlu-dilakukan-investigasi-secara-holistik-terkait-kecelakaan-tank-dan-kapal-tni-GOqJ8K4xjU.jpg Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati/Nuning (foto: Ist)

JAKARTA - Dalam waktu berdekat ada dua kejadian kecelakaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI Angkatan Darat (AD). Minggu lalu, Tank jenis M113A1BE tenggelam di Sungai Bogowonto, Purworedjo, disusul kecelakaan Kapal Komando TNI AD yang tenggelam di laut Pulau Seribu, beberapa hari lalu.

Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati mengatakan, hal ini bukan musibah semata. Namun, perlu dilakukan investigasi secara holistik untuk menyelidiki penyebab terjadinya dua kecelakaan tersebut.

Tank TNI Tenggelam di Purworejo, Kepala Sekolah PAUD Ananda dan Anggota TNI Meninggal

(Baca Juga: Soal Kecelakaan Tank dan Kapal, Panglima TNI: Masih Proses Investigasi)

"Tentu saja saya tidak setuju bila TNI berlindung dengan kata ‘musibah’ dari semua kejadian kecelakaan alutsistanya. Atas kedua kejadian itu harus diadakan investigasi yang holistik meliputi beberapa indikator, seperti manusia, material, misi, media dan manajemen untuk ketahui apakah kecelakaan itu karena human error, kesalahan tekhnis atau faktor cuaca atau bahkan meski kecil kemungkinan ada sabotase," ungkap wanita yang akrab disapa Nuning kepada Okezone, Rabu (14/3/2018).

Dia menambahkan, jika melihat dari spesifikasi Kapal ADRI buatan PT Tesco yang tenggelam di Pulau Seribu itu bukan untuk mengarungi laut, melainkan untuk di rawa, danau dan pantai. "Kalau kita mau gunakan alutsista kan kita juga harus tahu barang itu untuk apa dan prajurit pengawak betul-betul kuasai alutsistanya," tegasnya.

Sedangkan Tank jenis M113A1BE, kata Nuning, bukan jenis amphibi dan seyogyanya memang tidak digunakan untuk menyeberangi sungai, terlebih Sungai Bogowonto yang saat musim hujan debit airnya tinggi dan arusnya sangat deras.

"Untuk ini perlu diwaspadai apakah faktor human errornya besar? Perlu diketahui sejauh mana penguasaan tekhnis prajurit terhadap alutsista yang diawakinya. Jika ada maka personil pelakunya harus dikenai hukuman dengan pasal merusak alutsista perang milik negara, kurang lebih 10 tahun hukuman," urai Nuning.

Sebelumnya diberitakan, kecelakaan Tank di Purworejo menewaskan seorang prajurit TNI AD Pratu Randi dan Ketua Yayasan TK Ananda, Iswandari. Mereka berdua tewas karena terseret arus dari Sungai Bogowonto. Sementara untuk kapal TNI yang tenggelam di Pulau Seribu, tidak ada korban jiwa.

(Baca Juga: Komisi I DPR Minta TNI Utamakan Aspek Keselamatan Sebelum "Pamer" Alutsista)

Terkait hal ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan, saat ini jajarannya masih melakukan proses penyelidikan dan investigasi atas dua peristiwa kecelakaan alutsista milik TNI AD untuk mengetahui penyebab pasti dari dua insiden tersebut.

"Penyebab-penyebabnya apa baik itu di Bogowonto maupun di Pulau Seribu sehingga apakah permasalahan human eror, apakah permasalahan mekanik itu nanti setelah ada hasilnya dari tim investigasi," kata Hadi di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini