Kasus Rekayasa Penyerangan Ulama, Kapolri: Rata-Rata Motifnya Ekonomi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 15:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872670 kasus-rekayasa-penyerangan-ulama-kapolri-rata-rata-motifnya-ekonomi-upsPh7iBBQ.jpg Kapolri Tito Karnavian (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan bahwa ada 47 kasus kejadian terkait dengan penyerangan tokoh agama. Namun, dari angka itu hanya lima yang benar-benar terjadi, sisanya merupakan rekayasa semata.

Tito memaparkan, oknum yang melakukan rekayasa itu bahwa sudah melapor kepada pihak berwajib setempat. Namun, sambung Tito, setelah dilakukan oleh jajarannya, ternyata cerita penyerangan seperti dibacok, diserang dan lainnya hanya sekadar rekayasa.

Dengan adanya temuan tersebut, Tito menyebut bahwa, dari beberapa kasus rekayasa yang ditemui, ditemukan kesimpulan awal bahwa beberapa oknum itu memiliki motif cari perhatian untuk tujuan ekonominya sendiri.

"Motifnya rata-rata meminta perhatian karena masalah ekonomi," kata Tito di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Kasus lainnya, Tito membeberkan soal merebaknya kebohongan informasi di media sosial (medsos) yang menyebutkan penyerangan terhadap ulama. Padahal, kejadian tersebut, kata dia tidak terjadi sama sekali.

"Hampir ada 32 ksus sebagian besar itu kasusny tidak terjadi sama sekali tapi dibuat berita di medsos seolah-olah terjadi peristiwa itu," ucap Tito.

Dari dua kasus tersebut, Tito menyatakan belum menemukan adanya penyerangan pemuka Agama secara sistematis dan terorganisir dari suatu kelompok tertentu. Namun, dia tetap akan menginstruksikan jajarannya untuk menguak apakah memang ada kesinambungan satu sama lain dari kasus penyerangan tokoh Agama tersebut.

"Belum bukan berarti tidak. Karena ada beberapa yang cukup janggal yang masih terus kami dalami," kata Tito.

Kejanggalan yang dimaksud Tito adalah, soal lima kasus penyerangan tokoh Agama yang benar-benar terjadi. Pasalnya, Tito mengatakan dari kasus itu rerata para tersangkanya di diagnosa mengalami gangguan kejiwaan.

"Tapi kami tidak bisa menyimpulkan adanya koneksi adanya satu kasus dengan kasus lain sehingga dianggap menjadi sesuatu yang sistematis,"tutup Tito.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini