Kapolri Ungkap Tabir Dibalik Penganiayaan Ulama Hoax

Mufrod, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 20:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872884 kapolri-ungkap-tabir-dibalik-penganiayaan-ulama-hoax-4tFisVRvwN.jpg Kapolri Tito Karnavian (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian dihadapan anggota DPR memaparkan masalah penganiayaan ulama yang terjadi di beberapa daerah merupakan kepentingan segelintir orang yang memanfaatkan situasi dengan menyebarkan berita hoax melalui media sosial.

Menurut Kapolri dari hasil penyelidikan, pihaknya mengungkap ada 47 kasus kejadian terkait dengan penyerangan tokoh agama. Namun, dari angka itu hanya lima yang benar-benar terjadi, sisanya merupakan rekayasa semata.

Dari jumlah tersebut, Polri mendeteksi ada 32 kasus yang ditemukan terkait dengan kebohongan informasi itu. Berdasarkan kesimpulan sementara jajarannya, dapat ditarik garis bahwa penyebaran hoax penyerangan ulama di media sosial terlihat sistematis yang dilakukan oleh oknum-oknum yang bisa memanfaatkan keadaan.

Tito memaparkan, oknum yang melakukan rekayasa itu bahwa sudah melapor kepada pihak berwajib setempat. Namun, sambung Tito, setelah dilakukan oleh jajarannya, ternyata cerita penyerangan seperti dibacok, diserang dan lainnya hanya sekadar rekayasa.

 (Baca juga: Kasus Rekayasa Penyerangan Ulama, Kapolri: Rata-Rata Motifnya Ekonomi)

Dengan adanya temuan tersebut, Tito menyebut bahwa, dari beberapa kasus rekayasa yang ditemui, ditemukan kesimpulan awal bahwa beberapa oknum itu memiliki motif cari perhatian untuk tujuan ekonominya sendiri.

"Motifnya rata-rata meminta perhatian karena masalah ekonomi," kata Tito di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Kasus lainnya, Tito membeberkan soal merebaknya kebohongan informasi di media sosial (medsos) yang menyebutkan penyerangan terhadap ulama. Padahal, kejadian tersebut, kata dia tidak terjadi sama sekali.

"Hampir ada 32 kasus sebagian besar itu kasusnya tidak terjadi sama sekali tapi dibuat berita di medsos seolah-olah terjadi peristiwa itu," ucap Tito.

Dari dua kasus tersebut, Tito menyatakan belum menemukan adanya penyerangan pemuka Agama secara sistematis dan terorganisir dari suatu kelompok tertentu. Namun, dia tetap akan menginstruksikan jajarannya untuk menguak apakah memang ada kesinambungan satu sama lain dari kasus penyerangan tokoh Agama tersebut.

"Belum bukan berarti tidak. Karena ada beberapa yang cukup janggal yang masih terus kami dalami," kata Tito.

Kejanggalan yang dimaksud Tito adalah, soal lima kasus penyerangan tokoh Agama yang benar-benar terjadi. Pasalnya, Tito mengatakan dari kasus itu rerata para tersangkanya di diagnosa mengalami gangguan kejiwaan.

Oleh sebab itu, Tito menginstruksikan jajarannya di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri untuk melakukan investigasi dan menelisik kelompok pemain isu hoax penyerangan ulama itu.

Tito melanjutkan, dengan investigasi itu nantinya akan terkuak pola sistematis penyebaran isu hoax yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Mengingat, sambung Tito pergerakan dan penyebaran isu hoax itu sangat bergerak masif. Padahal, kebenarannya tidak terbukti.

"Oleh karena itu ditangani oleh Bareskrim adanya kelompok yang mengangkat isu-isu itu, ini dengan sistem yang kami miliki, kemampuan investigasi yang kami miliki kami bisa melacak asal mula penyebarnya, siapa yang menyebarkan siapa yang menyambungkan," papar Tito.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri sebelumnya mengungkap kelompok The Family MCA yang diduga kuat sering melempar isu provokatif di media sosial, antara lain, kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik Presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

Diduga kuat, MCA ini juga melibatkan mantan dari anggota atau jaringan dari sindikat penyebar hoax Saracen yang sebelumnya sudah diusut polisi.

Selain ujaran kebencian, kelompok MCA ini ditenggarai juga mengirimkan virus kepada kelompok atau orang yang dianggap musuh. Virus ini biasanya merusak perangkat elektronik penerima.

Berdasarkan data terakhir dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, dalam kasus ini, telah menangkap tujuh penyebar hoax yang berada dalam kelompok The Family MCA.

Mereka terancam dikenai pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) UU ITE 11/2008 ITE, pasal jo pasal 4 huruf b angka 1 UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau pasal 33 UU ITE.

Saat ini Ditreskrimsus Polda Jabar mengamankan seorang pelaku penyebar berita hoax serta ujaran kebencian, terkait beberapa kasus soal penganiayaan ulama.

Ahyad Saepuloh (30) warga Bandung diamankan, setelah dirinya mengkait-kaitkan dua ulama yang terjadi Cicalengka, Kabupaten Bandung dan penganiayaan di Cigondewah, kota Bandung, dengan adanya kebangkitan PKI.

"Pelaku ini juga menyebarkan postingan yang berbau SARA," kata DirReskrimsus Polda Jabar, Kombes Sambudi saat ungkap kasus di Mapolda Jabar, Rabu (28/2/2018).

Sambudi menuturkan, motifnya sendiri, pelaku menyebarkan berita hoax serta ujaran kebencian dan sara, melalui postingan akun media sosial Facebook, dengan akun Ugie Khan II.

Akibat postingan itu, Sambudi menilai pelaku telah meresahkan masyarakat, dari postingan-postingan yang ia sebar.

"Pelaku ini yang pertama menyebarkan informasi soal penganiayaan ulama, yang dikaitkan dengan isu kemunculan PKI, melalui akun-akun yang dimilikinya. Pelaku punya sembilan akun,"ungkapnya.

 (Baca: Polisi Tangkap Penyebar Hoax Penyerangan Ulama di Bandung)

Disinggung soal ada keterkaitan dengan kelompok MCA (Muslim Cyber Army) serta adanya suruhan dalam setiap postingannya, Sambudi menyebutkan hal tersebut, masih dalam penyelidikan.

Adapun barang bukti yang diamankan, diantaranya tiga ponsel beberapa merek dan beberapa kartu provider selular.

Hingga kini polisi masih terus mengungkap motif pasti dari peristiwa yang juga mendapat perhatian dari Presiden Joko Widodo ini. Dimana Presiden meminta pengungkapan kasus secara tuntas.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini