Polisi Diminta Siapkan Tahanan Khusus untuk 3 Hacker Surabaya Black Hat

Chyntia Sami Bhayangkara, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 14:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 14 338 1872633 polisi-diminta-siapkan-tahanan-khusus-untuk-3-hacker-surabaya-black-hat-sbRDABpkEu.jpg Polda Metro Jaya merilis penangkapan tiga hacker asal Surabaya karena diduga membobol ratusan situs (Antara)

JAKARTA – Tiga hacker dari komunitas Surabaya Black Hat (SBH) diamankan polisi atas dugaan meretas 600 situs tersebar di 44 negara. Penegak hukum diminta menyiapkan tahanan khusus bagi tiga hacker tersebut agar mereka tak bercampur dengan tahanan kasus pidana lain.

Penasihat Surabaya Black Hat (SBH), Zulham Akhmad Mubarrok mengatakan, para hacker bukanlah orang biasa. Mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Jika mereka ditahan bercampur dengan pelaku kriminal umum, maka berpotensi besar menghasilkan hacker dengan kemampuan kriminalitas yang lebih mahir lagi.

"Harapan kami, walaupun para hacker terbukti bersalah, polisi bisa menempatkan proporsi karena (kecerdasan) mereka ini di atas rata-rata,” ujar Zulham kepada Okezone, Rabu (14/3/2018).

“Ketika mereka dicampur contohnya dengan pelaku penipuan atau narkoba, mereka dikhawatirkan akan bertukar informasi lalu justru setelah bebas dari masa tahanan akan merencanakan aksi kriminal lebih profesional lagi karena mendapat input baru. Jadi, kami minta dibuat tahanan khusus," jelas dia.

Menurut Zulham, para hacker merupakan sosok yang unik dan berbeda dengan orang biasa pada umumnya. Terlebih, secara psikologis umumnya mereka sosok yang dicap antisosial atau tidak terbiasa berinteraksi dengan orang banyak.

Hal tersebutlah yang dikhawatirkan akan mengganggu psikologis mereka jika dicampur dengan pelaku kriminalitas lainnya dalam satu sel yang sama.

"Secara mental mereka ini memang anak cerdas, tapi secara psikologis mereka ini tipe antisosial. Ini harus jadi bahan pertimbangan. Kenapa, karena ini penting," tukasnya.

"Jika digabung dengan pelaku narkoba misalnya, peluang bisnis ilegal akan menjadi terbuka lebar. Dengan kemampuan otak di atas rata-rata yang mereka miliki, maka proses hukum tersebut akan melahirkan orang yang jauh lebih profesional dalam melakukan tindak kriminalitas," tutur dia.

Zulham juga meminta kepolisian untuk memberikan diskresi kepada tiga hacker dari Surabaya Black Hat tersebut. Polisi juga harus mempertimbangkan jasa para hacker yang telah membantu polisi dan pemerintah dalam membangun internet security atau keamanan internet.

"Sesuai koridor lah, kalau niat jahat tidak terbukti dalam penindakan hukum saya mohon supaya mereka diberikan diskresi artinya kalau dihukum tidak disamakan dg pelaku kriminal hukum lainnya," pungkasnya.

Sebelumnya, tiga mahasiswa di Surabaya diamankan oleh Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya pada Minggu, 11 Maret 2018. Ketiga hacker tersebut berinisial KSP (21), NA (21), dan ATP (21) diamankan atas dugaan pembobolan sebanyak 600 situs yang tersebar di 44 negara di dunia.

Ketiganya terdaftar sebagai anggota Surabaya Black Hat. KSP bahkan termasuk salah satu pendiri komunitas yang kini memiliki anggota sekira 2.000 hacker tersebut.

 

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini