Di-Hack Surabaya Black Hat, Tak Semua Perusahaan Mau Bayar Tebusan

Muhamad Rizky, Jurnalis · Kamis 15 Maret 2018 00:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 14 338 1872917 di-hack-surabaya-black-hat-tak-semua-perusahaan-mau-bayar-tebusan-T4C7Yc000a.jpg Rilis penangkapan 3 mahasiswa yang hack ribuan situs di 44 negara di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/3/2018). (Foto: Badriyanto/Okezone)

JAKARTA – Tiga mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya yang tergabung dalam komunitas hacker Surabaya Black Hat (SBH) ditangkap polisi setelah meretas 600 situs yang tersebar di berbagai negara. Tak tanggung-tanggung, dalam aksinya pelaku juga meretas situs milik FBI.

Para pelaku berinisial KSP (21), NA (21), dan ATP (21) itu melancarkan aksinya dengan menggunakan SQL injection untuk merusak data base. Setelah dirusak para pelaku kemudian mengirimkan peringatan melalui surat elektronik dan meminta tebusan untuk memulihkan situs yang telah diretas.

"Dia melihat keamanan suatu perusahaan awalnya seperti apa, tapi melakukannya secara ilegal. Setelah merusak, dia meminta imbalan. Itu kan yang tidak boleh," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi di Polda Metro Jaya, Rabu, (14/3/2018).

Dalam setahun, kata Argo, para pelaku bisa menghasilkan Rp50-200 juta per tahun, meski demikian ungkapnya tak semua perusahaan yang di-hack mau memberi uang kepada para pelaku.

"Rp50 sampai 200 juta itu per tahun. Enggak semua (pemilik situs yang diretas) setor, juga ada yang mau ada yang tidak," terangnya.

Sebelumnya, Argo mengatakan, para pelaku itu mulai mencoba-coba meretas situs orang lain sejak 2017. Kemudian pelaku mendirikan sebuah komunitas SBH yang saat ini sudah memiliki sekira 700 anggota hacker dari berbagai daerah.

(Baca Juga: 3 Hacker Ditahan Polisi, Penasihat Surabaya Black Hat: Di Luar Tanggung Jawab Kami)

"Kelompok ini dapat informasi dia punya 600 sampai 700 anggota hacker. Itu memang komunitas, tapi kan belum tentu pidana," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, kemarin.

Sementara itu, yang dicurigai menyalahgunakan keahliannya hanya enam orang. Namun, ketiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran polisi. Mereka masuk sistem menggunakan metode SQL injection dan meminta sejumlah uang kepada admin atau pemilik website tersebut usai meretas.

Tidak tanggung-tanggung, website yang mereka retas itu tidak hanya di Indonesia. Pelaku juga meretas situs di 44 negara, termasuk di Amerika Serikat (AS). Aksi mereka tidak berjalan mulus, ternyata diketahui oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) yang menyebutkan ada ribuan website diretas oleh hacker asal Indonesia.

(Baca Juga: Polisi Diminta Siapkan Tahanan Khusus untuk 3 Hacker Surabaya Black Hat)

Atas kerjasama dengan FBI itu kemudian penyidik Polda Metro Jaya melakukan penelusuran dan diketahui para komplotan hacker itu berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Para pelaku kemudian ditangkap pada Minggu 11 Maret kemarin dan digelandang ke Mapolda Metro Jaya.

"Melalui IC3 (Internet and Computing Core Certification) complain center, melalui FBI kita kembangkan, ada anak-anak Indonesia lakukan serangan terhadap elektronik maupun negara, ads 44 negara," pungkasnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini