Peringatan HPSN di Makassar Dihiasi Kostum dari Sampah

Prayudha, Jurnalis · Minggu 18 Maret 2018 19:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 18 340 1874466 peringatan-hpsn-di-makassar-dihiasi-kostum-dari-sampah-6TnXxIoHf4.jpg Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 di Makassar (foto: Prayudha/Okezone)

MAKASSAR - Salah satu bentuk perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2018 di Kota Makassar. Acara yang dikemas dalam bentuk dialog partisipatif dengan komunitas dan edukasi kepada anggota pramuka, berlangsung pada Area Car Free Day (CFD) Kota Makassar, Minggu (18/03/2018).

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi mengatakan, kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu faktor pendorong munculnya agen-agen perubahan yang akan menerapkan dan menularkan sistem pengelolaan sampah yang baik.

(Baca Juga: Peduli Kebersihan, Para Penggiat Bank Sampah Dapat Apresiasi)

"Permasalahan sampah di Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi salah satu sorotan dunia terutama masalah sampah di laut. Makassar sebagai salah satu kota pantai pasti juga mengalami masalah sampah di laut. Problem ini hanya dapat diatasi dengan kerja kolektif semua komponen masyarakat tanpa terkecuali," kata Djati.

Dia menambahkan, kunci dan akar utama dalam pengelolaan sampah adalah persoalan budaya yang berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan (habits).

"Oleh sebab itu, kita harus memulai pengelolaan sampah dari Gerakan Perubahan Perilaku dengan menjadikan pengurangan sampah sejak dihasilkannya atau bahkan “penggunaan barang-barang yang tidak menghasilkan sampah” (pencegahan sampah/waste prevention), sebagai budaya (culture) dan gaya hidup (lifestyle) baru," jelasnya.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2018 di Kota Makassar (foto: Prayudha/Okezone)

Djati menambahkan, hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tanggal 21 Februari merupakan pengingat akan bencana longsornya TPA Leuwi Gajah, Cimahi – Jawa Barat untuk mendorong kita merubah pola pikir, gaya hidup dan budaya dalam pengelolaan sampah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

"HPSN 2018 difokuskan pada pelaksanaan agenda Tiga Bulan Bersih Sampah (TBBS) mulai tanggal 21 Januari 2018 sampai dengan 21 April 2018 yang meliputi berbagai gerakan kebersihan di seluruh wilayah Indonesia,"terangnya.

Melalui TBBS yang salah satunya adalah gerakan kebersihan di area CFD lanjut Djati, semoga kita dapat menjadi lebih peduli akan kebersihan lingkungan, lebih peduli akan kesehatan kita dan lebih siap mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020.

"Suatu keniscayaan bahwa paradigma pembangunan ramah lingkungan (green ideology) adalah satu-satunya pilihan untuk menyejahterakan kehidupan umat manusia dan menyelamatkan dari ancaman bencana ekologis yang dapat menyebabkan kepunahan," bebernya.

Dengan gerakan kebersihan ini masyarakat didorong untuk dapat lebih sadar mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menimbulkan sampah, memilah dan memanfaatkan sampah. Gerakan ini diharapkan menjadi suatu gerakan kesadaran yang massif yang terus bergulir di semua elemen masyarakat.

(Baca Juga: Kejaksaan Siap Kaji Indikasi Pelanggaran di Balik Pencemaran Sungai Cisadane)

"Untuk menciptakan efek bola salju, perlu pula dilakukan kampanye melalui media sosial mengingat media sosial saat ini dianggap paling efektif menjangkau segala lapisan masyarakat,"terangnya.

Segala upaya yang dilakukan adalah untuk membangun budaya bersih dan sehat mulai dari diri masing-masing yang pada akhirnya merupakan cerminan budaya bangsa yang dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.

Sementara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menanggapi pemberitaan yang menyebutkan Indonesia sebagai negara penyumbang kedua sampah plastik ke laut. Diungkapkannya bahwa informasi tersebut menggunakan data tahun 2015. Sementara dalam kurun waktu dua tahun terakhir, berbagai komunitas peduli sampah bersama pemerintah Indonesia telah bergerak luar biasa.

''Dari tahun 2015 sampai sekarang sudah terjadi banyak perubahan di Indonesia, karena dinamika di masyarakat (peduli sampah) juga sangat tinggi,'' kata Menteri Siti.

Gerakan komunitas peduli sampah, lanjut Menteri Siti, melibatkan hampir di semua lini masyarakat. Mulai dari pelajar, Pramuka, Swasta, lembaga pemerintah, dan lainnya.

"Jiwa anak-anak sudah ada yang terbentuk untuk sadar sampah, dan mengolah sampah menjadi produktif menolong ekonomi keluarga melalui Bank Sampah, itu contoh nyata,'' tutur Menteri Siti.

Terkait pengelolaan sampah, saat ini terdata ada sekitar 5.244 bank sampah dan 500 TPA yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia. Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK juga sudah melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan kemasan, untuk produksi ramah lingkungan.

Kembali pada masalah sampah plastik di laut, dikatakan Menteri Siti bahwa hampir 80 persen sampah laut berasal dari daratan. Sementara sisanya berasal dari laut itu sendiri, dan dipengaruhi oleh arus dari tempat lain.

"Ada video viral sampah direkam di laut Bali pada tanggal 3 Maret. Sehari setelahnya di lokasi itu sudah gak ada lagi sampahnya. Artinya sampah terbawa arus laut,'' urainya.

Pemerintah pusat di bawah koordinasi Menko Maritim bersama dengan Pemerintah Daerah, saat ini sudah mengambil langkah-langkah penanganan mengatasi sampah plastik di pantai dan laut di seluruh Indonesia. 

Kemenko Maritim bekerja sama dengan World Bank, juga melakukan kajian sampah plastik di laut pada 20 lokasi, dimana Kota Denpasar, Bali, menjadi salah satu lokasinya Pemerintah Indonesia juga telah berkomitmen mengurangi sampah plastik di laut sebanyak 70 persen, dan mengurangi limbah melalui reduce-reuse-recycle sebanyak 30 persen pada 2025. Ini diperkuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah. (fid)

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini